Pasukan Baret Biru UNIFIL di Zona Merah
Rabu, 06 Mei 2026 - 08:09 WIB
Data bulan Maret 2026, jumlah negara yang bergabung dengan misi perdamaian UNIFIL di Lebanon selatan berjumlah 47 negara. Indonesia adalah negara yang mengirimkan personel tentara terbanyak dengan jumlah 755, di atas Spanyol yang mengirimkan 754 personel.
Baca Juga: UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Kopda Rico Pramudia
Kontingen Garuda UNIFIL di Lebanon selatan mengemban tugas menegakkan perdamaian, memantau gencatan senjata dan Civil-Military Coordination (CIMIC). Kontingen Garuda bersama pasukan UNIFIL dari berbagai negara melakukan patroli perbatasan dan tugas teritorial, perbaikan fasilitas umum, pengobatan gratis, serta diplomasi budaya, yang bertujuan menjaga stabilitas keamanan di wilayah konflik.
Penyerangan militer yang dilakukan oleh Amerika dan Israel kepada Iran yang dimulai dari 28 Februari 2026, yang menargetkan Kota Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, menyebabkan zona konflik makin meluas, dan berdampak terhadap keamanan di wilayah Lebanon selatan yang bertahan langsung dengan Israel.
Harapan Israel dan Amerika untuk memenangkan perang setelah gugurnya pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, ternyata kandas. Iran melakukan serangan balik. Persepsi dunia internasional pun berubah terhadap kekuatan militer Iran, setelah kekuatan udara militer Iran dapat menghancurkan 16 pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan menghancurkan kota kota di Israel.
Dalam membalas gempuran militer Amerika dan sekutunya Israel, Iran mengerahkan kekuatan proksi di Timur Tengah yang telah dibina sejak lama. Milisi Hizbullah di Lebanon selatan, Houthi di Yaman, dan Hamas Jihad Islam yang beroperasi di Jalur Gaza. Serangan yang dilakukan oleh kekuatan proksi Iran sangat efektif dan menghancurkan berbagai wilayah yang diduduki Israel, seperti Lebanon selatan, Dataran Tinggi Golan, kota di Utara Isael Nahariyah, Kiryat, Shamona, dan Metula.
Eskalasi konflik di Lebanon selatan meluas, Tentara Israel IDF (Israel Defence Force) dengan alasan membalas serangan milisi Hizbullah, memperluas penyerangan terhadap milisi Hizbullah ke Lebanon selatan dan Beirut, ibu kota Lebanon. Lebanon selatan sejak Mei 2026 menjadi zona perang aktif dan zona keamanan yang dikendalikan oleh militer Israel, IDF.
Kondisi keamanan yang tidak menentu di Lebanon selatan menyebabkan pasukan perdamaian UNIFIL selalu berhadapan dengan ancaman keamanan dari pihak yang berkonflik, terutama Israel. Penempatan pasukan perdamaian UNIFIL non-kombatan tidak efektif jika masing-masing pihak yang berkonflik tidak memiliki keinginan untuk menjaga perdamaian.
Pasukan perdamaian berada pada posisi yang sulit kalau masing-masing pihak yang berkonflik tidak menghormati kesepakatan damai dan masuk ke perang terbuka. Pasukan perdamaian UNIFIL akan menjadi sasaran baik sengaja atau tidak sengaja dari pihak yang berkonflik.
Keamanan di Lebanon selatan memburuk dan tidak lagi berada pada zona biru, tetapi zona merah. Sebaiknya pemerintah mengevaluasi kembali penempatan pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon selatan.
Baca Juga: UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Kopda Rico Pramudia
Kontingen Garuda UNIFIL di Lebanon selatan mengemban tugas menegakkan perdamaian, memantau gencatan senjata dan Civil-Military Coordination (CIMIC). Kontingen Garuda bersama pasukan UNIFIL dari berbagai negara melakukan patroli perbatasan dan tugas teritorial, perbaikan fasilitas umum, pengobatan gratis, serta diplomasi budaya, yang bertujuan menjaga stabilitas keamanan di wilayah konflik.
Penyerangan militer yang dilakukan oleh Amerika dan Israel kepada Iran yang dimulai dari 28 Februari 2026, yang menargetkan Kota Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, menyebabkan zona konflik makin meluas, dan berdampak terhadap keamanan di wilayah Lebanon selatan yang bertahan langsung dengan Israel.
Harapan Israel dan Amerika untuk memenangkan perang setelah gugurnya pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, ternyata kandas. Iran melakukan serangan balik. Persepsi dunia internasional pun berubah terhadap kekuatan militer Iran, setelah kekuatan udara militer Iran dapat menghancurkan 16 pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan menghancurkan kota kota di Israel.
Dalam membalas gempuran militer Amerika dan sekutunya Israel, Iran mengerahkan kekuatan proksi di Timur Tengah yang telah dibina sejak lama. Milisi Hizbullah di Lebanon selatan, Houthi di Yaman, dan Hamas Jihad Islam yang beroperasi di Jalur Gaza. Serangan yang dilakukan oleh kekuatan proksi Iran sangat efektif dan menghancurkan berbagai wilayah yang diduduki Israel, seperti Lebanon selatan, Dataran Tinggi Golan, kota di Utara Isael Nahariyah, Kiryat, Shamona, dan Metula.
Eskalasi konflik di Lebanon selatan meluas, Tentara Israel IDF (Israel Defence Force) dengan alasan membalas serangan milisi Hizbullah, memperluas penyerangan terhadap milisi Hizbullah ke Lebanon selatan dan Beirut, ibu kota Lebanon. Lebanon selatan sejak Mei 2026 menjadi zona perang aktif dan zona keamanan yang dikendalikan oleh militer Israel, IDF.
Kondisi keamanan yang tidak menentu di Lebanon selatan menyebabkan pasukan perdamaian UNIFIL selalu berhadapan dengan ancaman keamanan dari pihak yang berkonflik, terutama Israel. Penempatan pasukan perdamaian UNIFIL non-kombatan tidak efektif jika masing-masing pihak yang berkonflik tidak memiliki keinginan untuk menjaga perdamaian.
Pasukan perdamaian berada pada posisi yang sulit kalau masing-masing pihak yang berkonflik tidak menghormati kesepakatan damai dan masuk ke perang terbuka. Pasukan perdamaian UNIFIL akan menjadi sasaran baik sengaja atau tidak sengaja dari pihak yang berkonflik.
Keamanan di Lebanon selatan memburuk dan tidak lagi berada pada zona biru, tetapi zona merah. Sebaiknya pemerintah mengevaluasi kembali penempatan pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon selatan.
Lihat Juga :