Diagnosa Kesehatan Pesantren: Jangan Salah Obat

Selasa, 05 Mei 2026 - 14:44 WIB
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Beberapa bulan ini, kami banyak mendapat keluhan tentang sepinya pendaftar di pesantren, lalu tidak sedikit pengasuhnya yang mengambil langkah dengan memasang spanduk di mana-mana, ada juga pesantren yang ramai pengunjung, tapi sedikit yang daftar dan fenomena yang lebih unik lagi, pesantren santrinya banyak, tapi keuangannya tekor.



Saya sering menemukan ini. Para kiai panik, lalu memberi "obat" yang salah sasaran.

Padahal, setiap masalah punya akar yang berbeda. Beda penyakit, beda obat.

Baca juga: Buntut Pendiri Ponpes Cabul, Kemenag Pindahkan Santri ke Sejumlah Sekolah di Pati

Pernah saya menonton video seorang pengusaha kopi menjelaskan kerangka diagnosis bisnis. Ini mungkin bisa kita jadikan pembelajaran, Ia bilang, jika toko sepi, masalahnya di pemasaran. Jika ramai tapi sedikit yang beli, masalahnya di strategi menjual atau target pasar. Jika pelanggan tidak pernah kembali, masalahnya di produk.

Kerangka itu sangat logis. Dan ternyata, pesantren pun bisa didiagnosis dengan cara yang sama.

Kita bisa belajar dari diagnosa ini. Mari kita bedah satu per satu

Pertama, Santri Sepi, Masalahnya Pemasaran

Baca juga: Prabowo Tanda Tangani Perpres Pembentukan Ditjen Pesantren

Kami pernah diundang ke pesantren di Riau. Pengasuhnya gelisah. "Ust, tahun ini pendaftar cuma 40 orang, padahal tahun lalu 80."

Saya tanya, "Lokasi pesantrennya di mana?"

"Di dalam gang, agak masuk dari jalan raya. Tidak ada papan nama."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!