Kiamat Pemahaman Identik dengan Centrang Biru?
Selasa, 05 Mei 2026 - 13:11 WIB
Masalah nyata yang dihadapi bukan lagi soal akses informasi, melainkan integritas proses belajar. Dengan bantuan AI, seorang murid bisa menghasilkan esai sejarah sepanjang tiga halaman tanpa benar-benar membaca satu pun bab di buku paketnya.
Bagi mereka, tujuan utama sekolah bukan lagi untuk paham, melainkan untuk selesai. Indikator keberhasilan pendidikan secara perlahan bergeser dari "apa yang masuk ke kepala" menjadi "apa yang masuk ke server guru".
Contoh konkretnya sering ditemui dalam tugas-tugas analisis. Seorang guru memberikan tugas untuk menganalisis dampak perubahan iklim. Dalam lima menit, murid mengirimkan jawaban yang bahasanya sangat tertata, akademis, bahkan menggunakan istilah-istilah yang mungkin belum pernah diajarkan di kelas.
Namun, ketika murid tersebut ditanya secara lisan mengenai poin-poin yang ia tulis, ia sering kali terbata-bata atau bahkan tidak mengerti arti dari kata-kata yang ia "kumpulkan" sendiri. Inilah yang disebut sebagai "Kiamat Pemahaman" dalam tulisan ini yaitu sebuah kondisi di mana teks hadir secara digital, tetapi pemahamananya sangat minim.
Mata Rantai yang Putus: Beban Administrasi Guru
Celah (gap) terbesar dalam digitalisasi ini terletak pada interaksi antara guru dan murid. Teknologi memang mempercepat proses pengumpulan, tetapi ia gagal mempercepat kapasitas otak manusia untuk memberikan umpan balik (feedback) yang berkualitas.
Di banyak sekolah, seorang guru bisa memegang lebih dari sepuluh kelas dengan total ratusan murid. Setiap hari, ponsel mereka dibanjiri ratusan notifikasi tugas masuk.Terlebih jika sudah mendekati date line dalam pengumpulan tugas tersebut. Akibatnya terjadi beban administrasi digital yang masif.
Bayangkan seorang guru yang memegang ratusan murid dari sepuluh kelas berbeda. Setiap hari, ponselnya dibanjiri ratusan notifikasi tugas. Karena kejaran target sistem rapor digital, guru seringkali hanya sempat melihat siapa yang mengumpul dan siapa yang tidak.
Tugas yang masuk hanya diberi skor angka misalnya 80 atau 90 tanpa satu pun catatan perbaikan atau apresiasi terhadap alur berpikir murid. Tanpa feedback, proses pendidikan kehilangan ruhnya.
Bagi mereka, tujuan utama sekolah bukan lagi untuk paham, melainkan untuk selesai. Indikator keberhasilan pendidikan secara perlahan bergeser dari "apa yang masuk ke kepala" menjadi "apa yang masuk ke server guru".
Contoh konkretnya sering ditemui dalam tugas-tugas analisis. Seorang guru memberikan tugas untuk menganalisis dampak perubahan iklim. Dalam lima menit, murid mengirimkan jawaban yang bahasanya sangat tertata, akademis, bahkan menggunakan istilah-istilah yang mungkin belum pernah diajarkan di kelas.
Namun, ketika murid tersebut ditanya secara lisan mengenai poin-poin yang ia tulis, ia sering kali terbata-bata atau bahkan tidak mengerti arti dari kata-kata yang ia "kumpulkan" sendiri. Inilah yang disebut sebagai "Kiamat Pemahaman" dalam tulisan ini yaitu sebuah kondisi di mana teks hadir secara digital, tetapi pemahamananya sangat minim.
Mata Rantai yang Putus: Beban Administrasi Guru
Celah (gap) terbesar dalam digitalisasi ini terletak pada interaksi antara guru dan murid. Teknologi memang mempercepat proses pengumpulan, tetapi ia gagal mempercepat kapasitas otak manusia untuk memberikan umpan balik (feedback) yang berkualitas.
Di banyak sekolah, seorang guru bisa memegang lebih dari sepuluh kelas dengan total ratusan murid. Setiap hari, ponsel mereka dibanjiri ratusan notifikasi tugas masuk.Terlebih jika sudah mendekati date line dalam pengumpulan tugas tersebut. Akibatnya terjadi beban administrasi digital yang masif.
Bayangkan seorang guru yang memegang ratusan murid dari sepuluh kelas berbeda. Setiap hari, ponselnya dibanjiri ratusan notifikasi tugas. Karena kejaran target sistem rapor digital, guru seringkali hanya sempat melihat siapa yang mengumpul dan siapa yang tidak.
Tugas yang masuk hanya diberi skor angka misalnya 80 atau 90 tanpa satu pun catatan perbaikan atau apresiasi terhadap alur berpikir murid. Tanpa feedback, proses pendidikan kehilangan ruhnya.
Lihat Juga :