Perang Asimetris Ala Iran

Sabtu, 18 April 2026 - 22:22 WIB
Dalam konteks tersebut, populasi menjadi pusat konflik (population centric), sehingga dukungan masyarakat sangat menentukan hasil. Kilcullen juga menekankan bahwa konflik asimetris sering bersifat lokal namun terhubung dengan kepentingan global, sehingga kompleks. Oleh karena itu, strategi tidak cukup hanya militer, tetapi harus mencakup pemahaman budaya, legitimasi politik, dan upaya memenangkan kepercayaan masyarakat sebagai kunci kemenangan. (Kilcullen, 2009)

Pada 2013, Andrew Mumford seorang akademisi dan sejarawan militer merilis sebuah buku yang berjudul Proxy Warfare. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Asymmetric Warfare tidak hanya terjadi karena ketimpangan kekuatan langsung antara dua aktor, tetapi juga karena penggunaan pihak ketiga (proxy) sebagai instrumen untuk menghadapi lawan yang lebih kuat. Dengan kata lain, asimetri diwujudkan melalui strategi tidak langsung (indirect approach), yaitu dengan mendelegasikan konflik kepada aktor lain. (Mumford, 2013)

Berdasarkan perspektif dari para pakar tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Asymmetric Warfare merupakan bentuk konflik antara aktor yang memiliki ketimpangan kekuatan yang signifikan, di mana kemenangan tidak semata ditentukan oleh superioritas militer, melainkan oleh kemampuan dalam mengelola dan mengeksploitasi berbagai bentuk ketidakseimbangan.

Para pakar menunjukkan bahwa faktor kunci dalam konflik asimetris mencakup kemauan politik, interaksi strategi, rasionalitas dalam memulai konflik, serta pemanfaatan pendekatan tidak langsung. Selain itu, perkembangan konsep ini juga menegaskan pentingnya dimensi non-militer, seperti dukungan populasi, legitimasi, budaya, dan pengaruh informasi, yang menjadikan konflik bersifat multidimensi dan kompleks.

Dengan demikian, Asymmetric Warfare dapat dipahami sebagai strategi adaptif dalam menghadapi ketimpangan kekuatan, di mana keberhasilan ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan aspek militer dan nonmiliter secara efektif dalam konteks sosial dan politik yang lebih luas.

Strategi Asimetris Iran

Jika merujuk pada pengertian Asymmetric Warfare dari para pakar, maka serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026 dapat dipandang sebagai bentuk perang asimetris antara kedua pihak tersebut dengan Iran.

Hal ini karena terdapat ketimpangan yang jelas dalam kekuatan militer dan sumber daya diantara mereka. Kemudian strategi asimetris apa yang digunakan Iran dalam meladeni serangan-serangan AS-Israel sedemikian hingga Iran tetap bisa bertahan dan bahkan mampu merepotkan AS dan Israel.

Ketika AS-Israel melakukan serangan udara secara intensif dan presisi terhadap target-target strategis di wilayah Iran, Iran melakukan balasan tidak menggunakan pesawat tempur atau pembom canggih. Iran melakukan balasan menggunakan rudal balistik dan drone bunuh diri yang harga produksinya relatif murah, yaitu sekitar 20 ribu hingga 50 ribu dolar AS. Sementara itu sistem pertahanan udara AS setidaknya mengeluarkan biaya sekitar 4 juta dolar AS untuk satu rudal pencegat Patriot. Strategi ini tentu akan memberikan tekanan terhadap logistik AS dan Isreal terutama dalam peperangan jangka panjang. (Widyatama. Elvan, 2026).

Giulio Douhet, Jenderal Italia yang dianggap sebagai bapak teori kekuatan udara menyatakan bahwa ”lebih mudah dan efektif untuk menghancurkan kekuatan udara musuh dengan menghancurkan sarang dan telurnya di darat daripada memburu burung-burung terbangnya di udara”. Prinsip inilah yang kemudian dilakukan oleh Iran, namun dilakukan melalui cara-cara asimetris. Iran menyerang target-target strategis yang menjadi komponen utama sistem kekuatan udara AS tidak menggunakan pesawat tempur atau pembom, tapi menggunakan rudal dan drone. (Bremer & Grecio, 2026).

Beberapa laporan media menyebutkan bahwa Iran berhasil menargetkan sejumlah aset strategis milik AS. Salah satunya adalah sistem Airborne Warning and Control System (AWACS), yang berperan penting dalam mendeteksi dan merespons serangan udara. Gangguan atau kerusakan pada sistem ini dapat secara signifikan melemahkan kemampuan pertahanan. Selain itu, drone Iran dilaporkan menghancurkan dua terminal komunikasi satelit AN/GSC-52B di markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.

Serangan juga disebut menyasar sistem radar peringatan dini di Qatar dan Yordania, seperti AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al Udeid serta sensor utama AN/TPY-2 dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, yang berfungsi mendeteksi rudal balistik. Di Arab Saudi, Iran dilaporkan menyerang Pangkalan Udara Pangeran Sultan hingga merusak beberapa pesawat tanker KC-135. Selain itu, terdapat laporan bahwa pesawat E-3 Sentry, yang merupakan bagian dari sistem peringatan dan kendali udara, juga menjadi korban serangan Iran. (Bremer & Grecio, 2026; Warren, 2026).

Selain itu, Iran juga melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target strategis di wilayah Israel. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas militer, intelijen, infrastruktur sipil, serta permukiman. Beberapa laporan media menyebutkan bahwa rudal balistik Iran menghantam fasilitas produksi drone Israel, Aero Sentinel, di kota Petah Tikva.

Serangan juga dilaporkan terjadi di sekitar fasilitas nuklir Israel di Dimona dan Arad. Selain itu, kilang minyak di pelabuhan Haifa mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Pangkalan Udara Nevatim di Gurun Negev juga menjadi sasaran dengan intensitas tinggi. Bahkan, terdapat informasi yang menyebutkan bahwa serangan Iran telah menghancurkan hingga 40 jet tempur F-35 Israel, atau sekitar 60% dari kekuatan udara Israel. (Shahaf, 2026; Usher et al., 2026)

Operasi Siber

Dalam Konflik AS-Israel dengan Iran, ruang siber tidak hanya menjadi medan pertempuran pendukung. Ruang siber menjadi medan pertempuran primer yang linear dengan medan tempur konvesional. Kedua belah pihak saling serang terhadap berbagai infrastruktur kritis dan aset informasi yang dianggap sebagai titik lemah untuk dieksploitasi.

Sophos, perusahaan keamanan siber asal Inggris melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas kelompok peretas pro Iran pasca serangan AS dan Israel di wilayah Iran tanggal 28 Februari 2026. Bentuk aktivitas mereka berupa Web Defacement, Distributed Denial of Service (DDoS), dan Doxxing individu yang terkait dengan pemerintah Israel, militer, dan organisasi terkait.

Kelompok peretas pro Iran yang teridentifikasi diantaranya : Handala Hack Team, The APTIran, Cyber Toufan, Cyber Support Front, dan Iranian Avenger. (Sophos, 2026). DigiCert, perusahaan keamanan siber asal AS, melaporkan 5.800 serangan siber yang dilakukan oleh hampir 50 kelompok berbeda yang terkait dengan Iran.

Meskipun sebagian besar serangan menargetkan perusahaan AS atau Israel, DigiCert juga menemukan serangan pada jaringan di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan negara￾negara lain di kawasan tersebut. (Klepper, 2026). Laporan lain menyebutkan terdapat kelompok peretas pro Rusia yang melakukan serangan target Israel. Kelompok tersebut diantaranya NoName057 (16) dan Russian Legion.

Mereka melancarkan serangan berupa kampanye phishing aplikasi palsu, di mana penyerang menyebarkan APK Android palsu yang meniru aplikasi peringatan serangan Israel (RedAlert). Tujuannya untuk memata-matai korban hingga mencuri data dari perangkat mobile. (Redaksi, 2026)

Operasi Pengaruh

Peniliti dari Reichman University Israel, Uri Ben Yaakov dan Alexander T. Pack dalam sebuah laporannya menyebutkan bahwa beberapa tahun terakhir Iran telah beralih dari strategi militer konvensional ke pendekatan perang hibrida yang didorong oleh pengaruh. Fokusnya adalah pada operasi psikologis dan informasi untuk membentuk persepsi, melemahkan ketahanan sipil, dan mempengaruhi pengambilan keputusan politik.

Yaakov dan Pack menyebutkan sebuah laporan menunjukkan bahwa Iran melakukan Operasi Pengaruh (Influence Operation) berbasis siber terhadap Israel setiap dua bulan rata-rata sebelum perang. Indikator menunjukkan bahwa setidaknya 11 operasi terjadi hanya pada Oktober 2023. (Yaakov & Pack, 2026).

Operasi Pengaruh dalam dengan konflik AS-Israel dengan Iran saat ini dijalankan sebagai sebuah ekosistem yang sangat terintegrasi. Tujuannya bukan lagi sekadar menyebarkan misinformasi, melainkan untuk memanipulasi persepsi, memicu perpecahan domestik, dan melumpuhkan pengambilan keputusan lawan.

Secara umum, Operasi Pengaruh dijalankan melalui kombinasi propaganda, disinformasi, manipulasi narasi, dan eksploitasi media digital. Iran menggunakan media sosial dan Artifial Inteligence (AI) sebagai senjata utama dalam melaksanakan operasi ini. Dalam konflik ini, Iran membangun berbagai narasi untuk mempengaruhi persepsi publik, baik di dalam negeri maupun di tingkat global.

Ketika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat akibat serangan udara AS dan Israel, Iran tidak menampilkan peristiwa tersebut sebagai kegagalan dalam melindungi pemimpinnya. Sebaliknya, Iran membangun narasi bahwa Khamenei sengaja tidak berlindung karena ingin tetap berada di tengah rakyatnya. Ia juga digambarkan sebagai “martir” yang kematiannya menjadi simbol kebangkitan perjuangan melawan penindasan. Narasi ini bertujuan membangkitkan semangat rakyat Iran sekaligus menarik simpati masyarakat internasional. (Bachega, 2026).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!