Masa Depan Iran di bawah Kepemimpinan Garda Revolusi (IRGC)

Senin, 30 Maret 2026 - 16:34 WIB
Harapan bertumpu pada Larijani, yang juga telah meninggal dunia. Kini, keseimbangan itu telah hancur. Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru adalah bukti paling gamblang. Putra kedua almarhum sang rahbar ini dipandang bukanlah seorang ulama besar, di mana gelar Hojjatoleslam-nya tidak sebanding dengan otoritas Ayatullah yang disandang ayahnya.

Dia bukan pemimpin spiritual, namun, dia adalah produk kompromi antara faksi garis keras dan IRGC. Satu fakta menggelitik adalah sejak diangkat sebagai pimpinan tertinggi, Mojtaba tidak pernah muncul di depan publik. Pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi dibacakan orang lain di televisi. Entah karena cedera dan dirawat di Rusia, atau karena ia memang tak lebih dari sekadar front—sebuah kedok agar dunia percaya bahwa Republik Islam masih dijalankan ulama, padahal kendali terpusat di tangan para jenderal Garda Revolusi.

Sementara itu, Larijani memainkan peran penting sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang menjadi penyeimbang dan mampu berbicara dalam bahasa ideologi sekaligus diplomasi. Dia adalah produk khas Iran modern yang komplit. Mantan komandan Garda Revolusi, yang juga doktor filsafat Barat, negosiator nuklir yang memahami cara kerja Washington, politisi yang tetap setia pada sistem, namun,memahami bahwa Iran tidak bisa hidup hanya dari retorika revolusi. Kematiannya tampaknya meninggalkan ruang yang tidak bisa diisi oleh Mojtaba atau para jenderal IRGC, yang masih memerlukan arahan di tengah badai perang.

Apa artinya ini bagi masa depan Iran?

Pertama, Iran akan menjadi lebih sulit ditebak. Bukan karena ia menjadi lebih radikal secara ideologis, namun, karena struktur pengambilan keputusan akan semakin tidak jelas. Dalam sistem sebelumnya, paling tidak ada satu orang yang menjadi titik akhir setiap perdebatan, pada diri Khamenei dan selanjutnya Larijani. Kini, keputusan akan lahir dari konsensus di antara para jenderal IRGC, yang tak terlatih untuk berpikir dalam kerangka diplomasi dan negosiasi, kecuali pembalasan dendam.

Kedua, strategi regional Iran akan mengandalkan strategi asimetrik melalui proksi, operasi siber, dan gangguan terhadap jalur pelayaran akan meningkat karena ini adalah cara berperang yang tak membutuhkan legitimasi publik yang kuat. Juga, Iran menggunakan strategi atrisi, yaitu bertujuan membuat lelah lawan dan menghabiskan sumber daya mereka sehingga mereka berhenti atau menarik diri dari perang.

Secara keseluruhan, pasca-Khamenei dan Larijani rezim ini berdiri di atas tanah yang retak. Perkembangan terkini menunjukkan ketidakpuasan warga Iran, terutama generasi muda dan perempuan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Group for Analyzing and Measuring Attitudes in Iran (GAMAAN), sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Belanda, memang ditemukan pergeseran drastis dalam pandangan keagamaan dan politik warga Iran.

Survei GAMAAN menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga Iran yang masih mengidentifikasi diri sebagai Muslim Syiah. Sebanyak 72% menghendaki pemisahan agama dari negara. Generasi muda Iran, yang lahir setelah revolusi, justru paling vokal menolak ideologi yang membelenggu hidup mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!