Kematian Larijani dan Soleimani Berpotensi Ciptakan Disrupsi Serius dalam Rantai Komando Iran

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:25 WIB
Pertama, vacuum of command (kekosongan komando) dalam koordinasi antara militer reguler, Garda Revolusi (IRGC), dan jaringan paramiliter. Kedua, penurunan respons cepat terhadap ancaman eksternal maupun potensi instabilitas internal.

Ketiga, risiko fragmentasi internal, terutama jika faksi-faksi dalam IRGC atau elite politik berebut pengaruh. “Namun, sejarah Iran menunjukkan, struktur kekuasaannya relatif tahan terhadap decapitation strike,” jelasnya.

Dia menuturkan, IRGC (Garda Revolusi Iran) memiliki sistem kaderisasi dan redundansi komando yang memungkinkan regenerasi cepat. Dengan kata lain, lanjut dia, disrupsi ini bersifat taktis, bukan strategis, dalam jangka panjang.

“Bagi Israel, keberhasilan operasi ini memperkuat doktrin “pre-emptive decapitation”, menghancurkan kepemimpinan lawan untuk melemahkan kapasitas perang mereka. Setelah menargetkan figur puncak seperti Khamenei, kini Israel bergerak sistematis ke lapisan kedua elite Iran,” ujarnya.

Selanjutnya, dia membeberkan sejumlah implikasinya. Pertama, superioritas intelijen Israel semakin terbukti, menunjukkan penetrasi mendalam ke dalam sistem keamanan Iran.

Kedua, efek psikologis terhadap elite Iran: tidak ada posisi yang benar-benar aman. Ketiga, legitimasi domestik bagi pemerintah Israel untuk melanjutkan operasi ofensif.

Namun, ujar dia, strategi ini juga berisiko tinggi. Dalam banyak kasus, dia mengatakan, pembunuhan tokoh kunci justru memicu eskalasi, bukan de-eskalasi. Iran bisa melihat ini sebagai perang eksistensial yang menuntut respons total.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!