Kematian Larijani dan Soleimani Berpotensi Ciptakan Disrupsi Serius dalam Rantai Komando Iran
Rabu, 18 Maret 2026 - 13:25 WIB
“Secara politik, gugurnya Larijani bisa menjadi katalis bagi dua arah yang berlawanan. Pertama, eskalasi balasan. Iran memiliki kapasitas untuk merespons melalui proksi regional di Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman,” ujar dia.
Lebih lanjut dia mengatakan, serangan terhadap Israel atau kepentingan sekutunya dapat meningkat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, konsolidasi internal.Dalam tradisi Republik Islam Iran, kematian elite sering dimanfaatkan untuk memperkuat narasi “syahid” dan mempererat solidaritas nasional.
“Hal ini bisa mengurangi potensi dissent domestik, menguatkan legitimasi rezim, dan mempercepat penunjukan elite baru yang lebih militan. Dalam konteks ini, gugurnya Larijani justru bisa melahirkan generasi pemimpin yang lebih keras dan kurang kompromistis dibanding pendahulunya,” katanya.
Menurut dia, krisis tersebut tidak hanya berdampak bilateral Iran-Israel, namun berpotensi mengguncang keseimbangan kawasan. Amerika Serikat akan semakin terlibat, baik secara langsung maupun melalui dukungan terhadap Israel.
“Negara-negara Teluk berada dalam dilema antara mendukung Israel secara diam-diam atau menghindari eskalasi yang bisa merusak stabilitas energi. Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial. Jika Iran merasa terpojok, ancaman penutupan jalur ini bisa menjadi kartu strategis,” tuturnya.
Dia juga berpendapat bahwa gugurnya Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani bukan sekadar kehilangan personal bagi Iran, tetapi pukulan simbolik terhadap struktur kekuasaan negara tersebut. “Namun, apakah ini akan melemahkan Iran secara permanen atau justru memperkuat determinasi mereka? Tentu saja masih menjadi pertanyaan terbuka,” ungkapnya.
Dia menuturkan, jika Israel berharap bahwa strategi “decapitation” akan melumpuhkan Iran, sejarah konflik asimetris menunjukkan hasil yang seringkali sebaliknya: radikalisasi, konsolidasi, dan eskalasi berkepanjangan. “Dunia mungkin tidak sedang menyaksikan akhir dari konflik, melainkan awal dari fase yang lebih berbahaya dan tidak terprediksi,” pungkasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, serangan terhadap Israel atau kepentingan sekutunya dapat meningkat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, konsolidasi internal.Dalam tradisi Republik Islam Iran, kematian elite sering dimanfaatkan untuk memperkuat narasi “syahid” dan mempererat solidaritas nasional.
“Hal ini bisa mengurangi potensi dissent domestik, menguatkan legitimasi rezim, dan mempercepat penunjukan elite baru yang lebih militan. Dalam konteks ini, gugurnya Larijani justru bisa melahirkan generasi pemimpin yang lebih keras dan kurang kompromistis dibanding pendahulunya,” katanya.
Menurut dia, krisis tersebut tidak hanya berdampak bilateral Iran-Israel, namun berpotensi mengguncang keseimbangan kawasan. Amerika Serikat akan semakin terlibat, baik secara langsung maupun melalui dukungan terhadap Israel.
“Negara-negara Teluk berada dalam dilema antara mendukung Israel secara diam-diam atau menghindari eskalasi yang bisa merusak stabilitas energi. Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial. Jika Iran merasa terpojok, ancaman penutupan jalur ini bisa menjadi kartu strategis,” tuturnya.
Dia juga berpendapat bahwa gugurnya Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani bukan sekadar kehilangan personal bagi Iran, tetapi pukulan simbolik terhadap struktur kekuasaan negara tersebut. “Namun, apakah ini akan melemahkan Iran secara permanen atau justru memperkuat determinasi mereka? Tentu saja masih menjadi pertanyaan terbuka,” ungkapnya.
Dia menuturkan, jika Israel berharap bahwa strategi “decapitation” akan melumpuhkan Iran, sejarah konflik asimetris menunjukkan hasil yang seringkali sebaliknya: radikalisasi, konsolidasi, dan eskalasi berkepanjangan. “Dunia mungkin tidak sedang menyaksikan akhir dari konflik, melainkan awal dari fase yang lebih berbahaya dan tidak terprediksi,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :