Mengapa Iran menerapkan Strategi Perang Atrisi melawan Israel-AS?
Senin, 09 Maret 2026 - 17:17 WIB
Terdapat perbedaan fundamental di mana Amerika dan Israel berperang melawan negara, sementara Iran berperang melalui jaringan. Teheran menarik pelajaran pahit dari invasi AS ke Irak tahun 2003 dan kegagalan di Afghanistan, yaitu melawan kekuatan konvensional superior secara frontal adalah bunuh diri militer. Maka lahirlah apa yang kini disebut sebagai “Decentralised Mosaic Defense (DMD)”, sebuah struktur komando yang sengaja dipecah menjadi 31 provinsi otonom, masing-masing dengan wewenang meluncurkan serangan rudal tanpa menunggu perintah pusat.
Ketika deru pesawat tempur siluman F-35 menghujani Teheran dengan rudal, mereka hanya mengenai dan merobohkan gedung, bukan sistem. Bahkan, ketika Khamenei gugur, estafet komando tidak pernah terputus, malahan, ia justru terdispersi ke seluruh penjuru negeri.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dengan nada yang lebih mirip pernyataan perang daripada diplomasi, menyatakan bahwa Iran telah menghabiskan dua dekade untuk “mempelajari kekalahan militer AS di timur dan barat kami”. Kata kuncinya adalah pukullah musuh di mana mereka paling lemah, yaitu kesabaran politik dan biaya ekonomi.
Tewasnya Sang Rahbar Khamenei pada 28 Februari 2026, jika dibaca dengan kacamata Barat, adalah “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim) yang sukses. Itu berlaku di Venezuela, misalnya. Namun, di tanah Syiah, kematian memiliki makna yang berbeda. Ia bukan akhir, melainkan transformasi. Konsep syahadat dalam teologi Syiah mengubah kekalahan fisik menjadi kemenangan moral, dari terminal menjadi eternal (abadi).
Para pembuat kebijakan dan jenderal di Washington dan Tel Aviv tampaknya tidak menyadari bahwa mereka telah secara tidak sengaja mengaktifkan “martyrdom economy” Iran. Ketika Presiden Masoud Pezeshkian menyebut balas dendam sebagai “hak agama dan kewajiban nasional”, dia menggabungkan dua sumber legitimasi paling kuat, yaitu spiritual dan patriotik.
Jenderal Qassem Soleimani yang terbunuh tahun 2020 kini telah menjadi simbol perlawanan lintas generasi. Khamenei sedang bertransformasi menjadi situs perlawanan. Setiap rudal yang diluncurkan, setiap pangkalan AS yang diserang, akan menjadi bagian dari warisan (legacy) mereka.
Dalam kerangka berpikir ini, perang tidak lagi diukur dari jumlah target yang dihancurkan, tetapi dari kapasitas untuk terus menimbulkan biaya perang. Inilah mengapa serangan balasan Iran tidak hanya menargetkan instalasi militer, tetapi juga menutup Selat Hormuz, yang dilalui 20 persen minyak dunia, dan juga dan menyerang infrastruktur sipil di Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Qatar.
Iran tampaknya berusaha menarik negara-negara Teluk ke dalam pusaran konflik sebagai tujuan utama. Karena jika harga minyak melonjak tinggi dan investor asing hengkang dari Dubai, tekanan domestik di negara-negara Arab akan memaksa mereka menekan Washington untuk menghentikan perang. Dengan ujaran lain, Iran menggunakan stabilitas kawasan sebagai sandera perang, yaitu sebuah strategi berisiko tinggi, namun terbukti efektif dalam perang asimetris.
Ketika deru pesawat tempur siluman F-35 menghujani Teheran dengan rudal, mereka hanya mengenai dan merobohkan gedung, bukan sistem. Bahkan, ketika Khamenei gugur, estafet komando tidak pernah terputus, malahan, ia justru terdispersi ke seluruh penjuru negeri.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dengan nada yang lebih mirip pernyataan perang daripada diplomasi, menyatakan bahwa Iran telah menghabiskan dua dekade untuk “mempelajari kekalahan militer AS di timur dan barat kami”. Kata kuncinya adalah pukullah musuh di mana mereka paling lemah, yaitu kesabaran politik dan biaya ekonomi.
Tewasnya Sang Rahbar Khamenei pada 28 Februari 2026, jika dibaca dengan kacamata Barat, adalah “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim) yang sukses. Itu berlaku di Venezuela, misalnya. Namun, di tanah Syiah, kematian memiliki makna yang berbeda. Ia bukan akhir, melainkan transformasi. Konsep syahadat dalam teologi Syiah mengubah kekalahan fisik menjadi kemenangan moral, dari terminal menjadi eternal (abadi).
Para pembuat kebijakan dan jenderal di Washington dan Tel Aviv tampaknya tidak menyadari bahwa mereka telah secara tidak sengaja mengaktifkan “martyrdom economy” Iran. Ketika Presiden Masoud Pezeshkian menyebut balas dendam sebagai “hak agama dan kewajiban nasional”, dia menggabungkan dua sumber legitimasi paling kuat, yaitu spiritual dan patriotik.
Jenderal Qassem Soleimani yang terbunuh tahun 2020 kini telah menjadi simbol perlawanan lintas generasi. Khamenei sedang bertransformasi menjadi situs perlawanan. Setiap rudal yang diluncurkan, setiap pangkalan AS yang diserang, akan menjadi bagian dari warisan (legacy) mereka.
Dalam kerangka berpikir ini, perang tidak lagi diukur dari jumlah target yang dihancurkan, tetapi dari kapasitas untuk terus menimbulkan biaya perang. Inilah mengapa serangan balasan Iran tidak hanya menargetkan instalasi militer, tetapi juga menutup Selat Hormuz, yang dilalui 20 persen minyak dunia, dan juga dan menyerang infrastruktur sipil di Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Qatar.
Iran tampaknya berusaha menarik negara-negara Teluk ke dalam pusaran konflik sebagai tujuan utama. Karena jika harga minyak melonjak tinggi dan investor asing hengkang dari Dubai, tekanan domestik di negara-negara Arab akan memaksa mereka menekan Washington untuk menghentikan perang. Dengan ujaran lain, Iran menggunakan stabilitas kawasan sebagai sandera perang, yaitu sebuah strategi berisiko tinggi, namun terbukti efektif dalam perang asimetris.
Lihat Juga :