Visi Besar dan Organisme Pesantren: Refleksi dari Bait Syair Abu Thayyib
Selasa, 03 Maret 2026 - 10:56 WIB
Dalam organisme pesantren, jaringan adalah sistem peredaran darah. Ia membawa nutrisi ke seluruh tubuh. Dan nutrisi terpenting yang dibawa adalah cita-cita.
Prof. Said, dengan pengalamannya memimpin PBNU selama bertahun-tahun, membawa perspektif tentang Islam di Nusantara, tentang kebangsaan, tentang bagaimana pesantren harus berperan di tengah perubahan zaman. Para santri mendengarkan. Mereka tidak hanya mendapat ilmu, tapi juga cita-cita.
Inilah yang dimaksud dengan regenerasi visi. Cita-cita besar tidak cukup diwariskan lewat teks. Ia harus dihidupkan lewat pertemuan, lewat teladan, lewat kehangatan kebersamaan.
KH. Ahmad Suharto dalam Senarai Kearifan Gontory menulis: "Yang membuat pesantren abadi bukanlah gedung megah atau jumlah santri yang banyak. Tapi nilai-nilai yang terus dirawat, dan energi batin yang tak pernah padam."
Energi batin itu adalah cita-cita besar.
Cita-cita besar adalah yang membuat KH. Abdul Manaf Mukhayyar, KH. Qomaruzzaman, dan KH. Mahrus Amin bertahan di tanah wakaf Ulujami dengan santri pertama tiga orang. Mereka melihat tiga santri bukan sebagai keterbatasan, tapi sebagai awal dari ribuan tunas yang akan lahir kelak.
Cita-cita besar adalah yang membuat KH. Nawawi Thoyib merintis BMT dari nol, bukan untuk kaya, tapi untuk membebaskan umat dari rentenir. Ia melihat kemiskinan di sekitarnya sebagai tantangan yang harus dijawab, bukan sebagai alasan untuk diam.
Cita-cita besar adalah yang membuat Trimurti Gontor terus menanamkan nilai, meski hasilnya kadang baru terlihat puluhan tahun kemudian. Mereka percaya bahwa dari tanah tandus di Ponorogo akan lahir kader-kader pemimpin bangsa.
Dan cita-cita besar adalah yang membuat Prof. Said Aqil Siradj, di usianya yang tak lagi muda, masih bersedia hadir di pesantren-pesantren, membacakan syair, menanamkan nilai, menyambung mata rantai perjuangan.
Malam itu, usai berbuka, saya sempat berbincang sebentar dengan seorang santri. Matanya berbinar penuh semangat. "Prof. Said tadi bacakan syair itu, saya jadi terharu, Ust. Saya jadi ingat cita-cita saya waktu pertama kali masuk pesantren dulu."
Saya tersenyum. "Jaga terus cita-cita itu, Nak. Karena pada kadar cita-citamulah, masa depanmu akan terwujud."
Syair Abu Thayyib yang dibacakan Prof. Said bukan sekadar kutipan indah. Ia adalah rumusan tentang hukum kehidupan. Bahwa besarnya hasil ditentukan oleh besarnya cita-cita. Bahwa cara pandang terhadap tantangan ditentukan oleh kapasitas batin kita.
Dalam organisme pesantren, ini adalah pelajaran paling dasar: visi menentukan arah, cita-cita menentukan energi, dan cara pandang menentukan ketahanan.
Maka, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: sebesar apa cita-cita kita untuk pesantren kita? Apakah kita masih melihat 10 santri sebagai "cukup"? Apakah kita masih menganggap kendala dana sebagai alasan untuk berhenti?
Atau, kita sudah bisa berkata bersama Abu Thayyib: "Hal yang besar nampak kecil di mata orang bercita-cita besar."
Karena pada akhirnya, organisme pesantren yang sehat bukan yang terbesar, tapi yang memiliki cita-cita terbesar. Ia akan terus tumbuh, melintasi generasi, melampaui zaman. Seperti pohon pisang yang berbuah, lalu mati, tapi meninggalkan tunas-tunas baru yang tak terhitung jumlahnya.
Dan dari tunas-tunas itulah, peradaban terus berlanjut.
*) Muhammad Irfanudin Kurniawan, peneliti organisme pesantren. Dosen di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku: Organisme Pesantre, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat. Masih terus belajar dari pesantren-pesantren di Nusantara.
Prof. Said, dengan pengalamannya memimpin PBNU selama bertahun-tahun, membawa perspektif tentang Islam di Nusantara, tentang kebangsaan, tentang bagaimana pesantren harus berperan di tengah perubahan zaman. Para santri mendengarkan. Mereka tidak hanya mendapat ilmu, tapi juga cita-cita.
Inilah yang dimaksud dengan regenerasi visi. Cita-cita besar tidak cukup diwariskan lewat teks. Ia harus dihidupkan lewat pertemuan, lewat teladan, lewat kehangatan kebersamaan.
Refleksi: Cita-cita sebagai Energi Batin
KH. Ahmad Suharto dalam Senarai Kearifan Gontory menulis: "Yang membuat pesantren abadi bukanlah gedung megah atau jumlah santri yang banyak. Tapi nilai-nilai yang terus dirawat, dan energi batin yang tak pernah padam."
Energi batin itu adalah cita-cita besar.
Cita-cita besar adalah yang membuat KH. Abdul Manaf Mukhayyar, KH. Qomaruzzaman, dan KH. Mahrus Amin bertahan di tanah wakaf Ulujami dengan santri pertama tiga orang. Mereka melihat tiga santri bukan sebagai keterbatasan, tapi sebagai awal dari ribuan tunas yang akan lahir kelak.
Cita-cita besar adalah yang membuat KH. Nawawi Thoyib merintis BMT dari nol, bukan untuk kaya, tapi untuk membebaskan umat dari rentenir. Ia melihat kemiskinan di sekitarnya sebagai tantangan yang harus dijawab, bukan sebagai alasan untuk diam.
Cita-cita besar adalah yang membuat Trimurti Gontor terus menanamkan nilai, meski hasilnya kadang baru terlihat puluhan tahun kemudian. Mereka percaya bahwa dari tanah tandus di Ponorogo akan lahir kader-kader pemimpin bangsa.
Dan cita-cita besar adalah yang membuat Prof. Said Aqil Siradj, di usianya yang tak lagi muda, masih bersedia hadir di pesantren-pesantren, membacakan syair, menanamkan nilai, menyambung mata rantai perjuangan.
Penutup
Malam itu, usai berbuka, saya sempat berbincang sebentar dengan seorang santri. Matanya berbinar penuh semangat. "Prof. Said tadi bacakan syair itu, saya jadi terharu, Ust. Saya jadi ingat cita-cita saya waktu pertama kali masuk pesantren dulu."
Saya tersenyum. "Jaga terus cita-cita itu, Nak. Karena pada kadar cita-citamulah, masa depanmu akan terwujud."
Syair Abu Thayyib yang dibacakan Prof. Said bukan sekadar kutipan indah. Ia adalah rumusan tentang hukum kehidupan. Bahwa besarnya hasil ditentukan oleh besarnya cita-cita. Bahwa cara pandang terhadap tantangan ditentukan oleh kapasitas batin kita.
Dalam organisme pesantren, ini adalah pelajaran paling dasar: visi menentukan arah, cita-cita menentukan energi, dan cara pandang menentukan ketahanan.
Maka, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: sebesar apa cita-cita kita untuk pesantren kita? Apakah kita masih melihat 10 santri sebagai "cukup"? Apakah kita masih menganggap kendala dana sebagai alasan untuk berhenti?
Atau, kita sudah bisa berkata bersama Abu Thayyib: "Hal yang besar nampak kecil di mata orang bercita-cita besar."
Karena pada akhirnya, organisme pesantren yang sehat bukan yang terbesar, tapi yang memiliki cita-cita terbesar. Ia akan terus tumbuh, melintasi generasi, melampaui zaman. Seperti pohon pisang yang berbuah, lalu mati, tapi meninggalkan tunas-tunas baru yang tak terhitung jumlahnya.
Dan dari tunas-tunas itulah, peradaban terus berlanjut.
*) Muhammad Irfanudin Kurniawan, peneliti organisme pesantren. Dosen di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku: Organisme Pesantre, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat. Masih terus belajar dari pesantren-pesantren di Nusantara.
(nnz)
Lihat Juga :