Perang Iran Vs AS-Israel, Ujian Kredibilitas Narasi Perdamaian Global
Minggu, 01 Maret 2026 - 13:31 WIB
Selain itu, jika Iran mampu bertahan dalam waktu dua pekan ke depan, sebagaimana yang diprediksi militer AS dalam simulasi perang Millenium Challange 2002, dan Iran tetap konsisten mampu menyerang basis militer AS di negara-negara tetangganya seperti Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia dan lainnya, maka konflik akan meluas dari perang terkontrol menjadi konfrontasi regional.
Negara-negara Teluk akan terseret dalam dilema strategis, antara melindungi hubungan keamanan dengan AS atau menghindari menjadi medan tempur. Dalam logika security dilemma, setiap langkah defensif dibaca ofensif, dan eskalasi menjadi sulit dihentikan. Dalam spiral keamanan, tidak ada pihak yang benar-benar menang, yang ada hanya eskalasi tanpa batas.
"Jika klaim wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Imam Ali Khamaeni benar, Iran akan memasuki fase transisi yang sangat sensitif. Mekanisme konstitusional memang tersedia, tetapi konsolidasi elite, terutama antara institusi keagamaan dan Garda Revolusi, akan menentukan arah kebijakan luar negeri," sebutnya.
Sejarah menunjukkan bahwa masa transisi sering kali justru meningkatkan risiko kebijakan eksternal yang agresif untuk menjaga legitimasi internal. Transisi kepemimpinan di Iran bukan hanya soal suksesi, ia bisa menjadi titik balik stabilitas global.
"Ke depan, semua elemen kekuatan dunia perlu mendorong de-eskalasi. Dalam dunia multipolar, setiap konflik regional adalah ujian bagi keseimbangan tata kelola keamanan internasional. Jika apa yang terjadi di Timur Tengah ini dianggap sebagai hal normal, dan dunia berdiam diri, maka langkah unilateral ini berpotensi besar menyasar ke belahan dunia lain, termasuk Greendland, Kanada, atau kawasan Eropa dan Amerika Latin lainnya akan menjadi sasaran selanjutnya.
Negara-negara Teluk akan terseret dalam dilema strategis, antara melindungi hubungan keamanan dengan AS atau menghindari menjadi medan tempur. Dalam logika security dilemma, setiap langkah defensif dibaca ofensif, dan eskalasi menjadi sulit dihentikan. Dalam spiral keamanan, tidak ada pihak yang benar-benar menang, yang ada hanya eskalasi tanpa batas.
"Jika klaim wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Imam Ali Khamaeni benar, Iran akan memasuki fase transisi yang sangat sensitif. Mekanisme konstitusional memang tersedia, tetapi konsolidasi elite, terutama antara institusi keagamaan dan Garda Revolusi, akan menentukan arah kebijakan luar negeri," sebutnya.
Sejarah menunjukkan bahwa masa transisi sering kali justru meningkatkan risiko kebijakan eksternal yang agresif untuk menjaga legitimasi internal. Transisi kepemimpinan di Iran bukan hanya soal suksesi, ia bisa menjadi titik balik stabilitas global.
"Ke depan, semua elemen kekuatan dunia perlu mendorong de-eskalasi. Dalam dunia multipolar, setiap konflik regional adalah ujian bagi keseimbangan tata kelola keamanan internasional. Jika apa yang terjadi di Timur Tengah ini dianggap sebagai hal normal, dan dunia berdiam diri, maka langkah unilateral ini berpotensi besar menyasar ke belahan dunia lain, termasuk Greendland, Kanada, atau kawasan Eropa dan Amerika Latin lainnya akan menjadi sasaran selanjutnya.
(shf)
Lihat Juga :