Perang Iran Vs AS-Israel, Ujian Kredibilitas Narasi Perdamaian Global

Minggu, 01 Maret 2026 - 13:31 WIB
loading...
Perang Iran Vs AS-Israel,...
Serangan Israel dan AS terhadap Iran di bulan Ramadan ini membuka ruang pertanyaan fundamental terhadap komitmen Washington untuk menghadirkan perdamaian global. Foto/Ilustrasi/X/@IsraelArmyStan
A A A
JAKARTA - Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran di bulan Ramadan ini membuka ruang pertanyaan fundamental terhadap komitmen Washington untuk menghadirkan perdamaian global. Dalam dua bulan terakhir di tahun 2026 ini, pasca serangan ke Venezuela, Washington kembali menunjukkan tendensi unilateral terhadap negara berdaulat, yang dianggap mengganggu kepentingan strategisnya.

Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD), Ahmad Khoirul Umam menjelaskan, dalam perspektif Coercive Diplomacy, ketika kekuatan militer dijadikan instrumen utama geopolitik, norma multilateralisme dan hukum internasional tereduksi menjadi dekorasi simbolik belaka. Serangan terhadap Iran ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan, sekaligus menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui Board of Peace (BOP).

Baca juga: Putri, Menantu, dan Cucu Khamenei Juga Tewas Diserang AS-Israel

"Bagi negara-negara Islam yang relatif independen seperti Turki dan Indonesia, momentum ini menjadi ruang refleksi strategis untuk meninjau kembali kerja sama BOP terkait Gaza dan arsitektur diplomasi kawasan, kata Ahmad Khoirul Umam dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).



Dia menambahkan, kepentingan utama AS dan Israel atas Iran adalah, Iran bukan hanya dipandang sebagai negara, tetapi juga poros jaringan kekuatan non-negara yang selama ini menjadi penyeimbang dominasi AS–Israel. Independensi kekuatan ekonomi-militer Iran selama ini dianggap sebagai ruang strategis bagi aktor-aktor non-negara seperti Hizbullah, Hamas, Houti, dan kelompok milisi lain yang menolak arsitektur keamanan versi Washington.

Mengganti rezim di Teheran berarti meruntuhkan salah satu pilar utama resistensi regional di Timur Tengah. Netralisasi Iran bukan hanya soal menaklukkan satu negara, melainkan langkah proyek rekayasa ulang keseimbangan kekuatan Timur Tengah.

Baca: Pantau Perang di Mar-a-Lago, Trump: Serangan ke Iran Dilaksanakan Besar-besaran

"Langkah Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai kartu retaliasi akan semakin mengekskalasi perang ini. Dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari, Selat Hormuz adalah jantung peredaran energi dunia. Setiap gangguan di sana langsung mengguncang harga, logistik, dan stabilitas ekonomi global," papar Associate Professor in Political Science & International Relations Universitas Paramadina ini.

Jika manuver militer di Selat Hormuz berkepanjangan, maka bisa berubah menjadi gempa ekonomi global. Hal ini bisa digunakan AS dan Israel sebagai alasan untuk semakin menekan Iran dengan mengatasnamakan kepentingan ekonomi global.

Selain itu, jika Iran mampu bertahan dalam waktu dua pekan ke depan, sebagaimana yang diprediksi militer AS dalam simulasi perang Millenium Challange 2002, dan Iran tetap konsisten mampu menyerang basis militer AS di negara-negara tetangganya seperti Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia dan lainnya, maka konflik akan meluas dari perang terkontrol menjadi konfrontasi regional.

Negara-negara Teluk akan terseret dalam dilema strategis, antara melindungi hubungan keamanan dengan AS atau menghindari menjadi medan tempur. Dalam logika security dilemma, setiap langkah defensif dibaca ofensif, dan eskalasi menjadi sulit dihentikan. Dalam spiral keamanan, tidak ada pihak yang benar-benar menang, yang ada hanya eskalasi tanpa batas.

"Jika klaim wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Imam Ali Khamaeni benar, Iran akan memasuki fase transisi yang sangat sensitif. Mekanisme konstitusional memang tersedia, tetapi konsolidasi elite, terutama antara institusi keagamaan dan Garda Revolusi, akan menentukan arah kebijakan luar negeri," sebutnya.

Sejarah menunjukkan bahwa masa transisi sering kali justru meningkatkan risiko kebijakan eksternal yang agresif untuk menjaga legitimasi internal. Transisi kepemimpinan di Iran bukan hanya soal suksesi, ia bisa menjadi titik balik stabilitas global.

"Ke depan, semua elemen kekuatan dunia perlu mendorong de-eskalasi. Dalam dunia multipolar, setiap konflik regional adalah ujian bagi keseimbangan tata kelola keamanan internasional. Jika apa yang terjadi di Timur Tengah ini dianggap sebagai hal normal, dan dunia berdiam diri, maka langkah unilateral ini berpotensi besar menyasar ke belahan dunia lain, termasuk Greendland, Kanada, atau kawasan Eropa dan Amerika Latin lainnya akan menjadi sasaran selanjutnya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo Terima Menlu...
Prabowo Terima Menlu Turki di Hambalang, Bahas Palestina hingga Timur Tengah
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Rekomendasi
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Berita Terkini
PPM sebagai Solusi Ketahanan...
PPM sebagai Solusi Ketahanan Nasional di Bawah Naungan Bacadnas
Di Hadapan Pimpinan...
Di Hadapan Pimpinan DPR, Mahasiswa Minta Pemerintah Tak Mainkan Isu Perut Rakyat
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat Inap Atas Rekomendasi Dokter
UU Polri Baru Akomodasi...
UU Polri Baru Akomodasi Penyetaraan Hak dan Humanis Tangani Unjuk Rasa
Di Hadapan Mahasiswa,...
Di Hadapan Mahasiswa, Dasco Telepon Nanik dan Bahlil
Asosiasi Dosen Ilmu...
Asosiasi Dosen Ilmu Hukum dan Kriminologi Indonesia: Jokowi Apresiasi UU Polri Baru
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved