Catur Politik di Markas Besar TNI AL: Menanti Sang Nakhoda Baru

Minggu, 08 Februari 2026 - 07:00 WIB

Hersan dan Eksklusivitas Korps Pelaut



Di sisi lain, peluang Laksdya Hersan (Irjen TNI, AAL 1994) diprediksi masih tipis. Meski ia memiliki profil mentereng sebagai mantan Ajudan Presiden Jokowi ("Geng Solo"), faktor usia dan angkatan menjadi penghambat utama. Hersan terlalu muda di tengah antrean senior AAL 1989-1992 yang memiliki rekam jejak komando lebih panjang.

Selain itu, posisi KSAL hampir dipastikan tetap tertutup bagi Korps Marinir. Meskipun TNI AL memiliki dua jenderal Marinir bintang tiga yang brilian—Letjen TNI (Mar) Nur Alamsyah dan Letjen TNI (Mar) Endi Supardi—tradisi AL tetap menempatkan Korps Pelaut sebagai nakhoda utama.

Titik berat tugas KSAL adalah pengelolaan kapal perang dan armada, posisi yang menuntut pengalaman sebagai panglima armada—sesuatu yang secara fungsional tidak dimiliki oleh Marinir yang merupakan infanteri angkatan laut.

Menanti Skakmat dari Kertanegara



Presiden Prabowo kini dihadapkan pada pilihan sulit: memilih sosok yang ia kenal dekat secara visi perencanaan (Edwin), sosok dengan jalur karier organisasi yang sempurna (Erwin dan Denih), atau melakukan terobosan dengan memilih jenderal laut yang berpengalaman luas di wilayah perbatasan (Irvansyah).

Langkah "skakmat" ini akan segera terjawab. Siapa pun nakhodanya, tantangan kedaulatan di Laut China Selatan dan target Minimum Essential Force (MEF) yang harus tuntas menjadi beban berat di pundak sang KSAL baru.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!