Kepemimpinan Tanpa Franchise
Senin, 02 Februari 2026 - 15:54 WIB
Model yang berhasil di abad ke-20 perlu dikembangkan untuk menjawab tantangan abad ke-21. Ini bukan kritik terhadap Trimurti. Ini justru kelanjutan dari semangat mereka.
Trimurti sendiri adalah pembaharu di zamannya. Mereka mendobrak tradisi pesantren lama yang eksklusif dan feodal. Mereka memperkenalkan bahasa asing, olahraga, organisasi santri, hal-hal yang dianggap bid'ah oleh kalangan konservatif waktu itu.
Jika Trimurti bisa mendobrak kemapanan di zamannya, bukankah kita juga dituntut melakukan hal serupa?
Pertanyaannya bukan apakah model Trimurti masih relevan. Bukti-bukti keberhasilannya terlalu nyata untuk diperdebatkan.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana kita mengembangkan warisan ini untuk konteks yang berbeda?
Prof. Hamid memberikan contoh konkret. Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) siap menjadi mentor bagi perguruan tinggi pesantren manapun. Tanpa royalti. Ini adalah model Trimurti yang diadaptasi untuk era pendidikan tinggi.
Mungkin kita perlu lebih banyak eksperimen seperti ini. Membangun jaringan mentorship antarpesantren. Mendokumentasikan best practices secara sistematis. Menciptakan forum berbagi pengetahuan yang lebih terstruktur.
Bukan untuk menggantikan sibghah nafsiyah. Tapi untuk melengkapinya dengan tools yang tersedia di zaman kita.
Model Trimurti telah membuktikan dirinya. Ratusan pesantren. Ribuan alumni yang memimpin di berbagai bidang. Visi pendidikan yang tidak diukur dari akumulasi kapital.
Tapi menghormati warisan bukan berarti membekukannya. Trimurti tidak membangun Gontor agar kita menjadi penjaga museum. Mereka membangun Gontor agar kita menjadi pembaharu, sebagaimana mereka adalah pembaharu di zamannya.
Tugas kita bukan sekadar menjadi ahli waris. Tapi mengembangkan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Trimurti sendiri tidak sempat menjawab karena memang belum muncul di zaman mereka.
Sebagaimana ayat yang menjadi pegangan Trimurti: "Wa man jahadu fina lanahdiyannahum subulana" barang siapa bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Jalan itu terus terbentang. Dan kesungguhan untuk menelusurinya adalah warisan terbesar yang bisa kita teruskan.
Wallahu a'lam bishshawab.
Trimurti sendiri adalah pembaharu di zamannya. Mereka mendobrak tradisi pesantren lama yang eksklusif dan feodal. Mereka memperkenalkan bahasa asing, olahraga, organisasi santri, hal-hal yang dianggap bid'ah oleh kalangan konservatif waktu itu.
Jika Trimurti bisa mendobrak kemapanan di zamannya, bukankah kita juga dituntut melakukan hal serupa?
Mengembangkan Warisan
Pertanyaannya bukan apakah model Trimurti masih relevan. Bukti-bukti keberhasilannya terlalu nyata untuk diperdebatkan.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana kita mengembangkan warisan ini untuk konteks yang berbeda?
Prof. Hamid memberikan contoh konkret. Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) siap menjadi mentor bagi perguruan tinggi pesantren manapun. Tanpa royalti. Ini adalah model Trimurti yang diadaptasi untuk era pendidikan tinggi.
Mungkin kita perlu lebih banyak eksperimen seperti ini. Membangun jaringan mentorship antarpesantren. Mendokumentasikan best practices secara sistematis. Menciptakan forum berbagi pengetahuan yang lebih terstruktur.
Bukan untuk menggantikan sibghah nafsiyah. Tapi untuk melengkapinya dengan tools yang tersedia di zaman kita.
Penutup
Model Trimurti telah membuktikan dirinya. Ratusan pesantren. Ribuan alumni yang memimpin di berbagai bidang. Visi pendidikan yang tidak diukur dari akumulasi kapital.
Tapi menghormati warisan bukan berarti membekukannya. Trimurti tidak membangun Gontor agar kita menjadi penjaga museum. Mereka membangun Gontor agar kita menjadi pembaharu, sebagaimana mereka adalah pembaharu di zamannya.
Tugas kita bukan sekadar menjadi ahli waris. Tapi mengembangkan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Trimurti sendiri tidak sempat menjawab karena memang belum muncul di zaman mereka.
Sebagaimana ayat yang menjadi pegangan Trimurti: "Wa man jahadu fina lanahdiyannahum subulana" barang siapa bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Jalan itu terus terbentang. Dan kesungguhan untuk menelusurinya adalah warisan terbesar yang bisa kita teruskan.
Wallahu a'lam bishshawab.
(nnz)
Lihat Juga :