Kepemimpinan Tanpa Franchise
Senin, 02 Februari 2026 - 15:54 WIB
loading...
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Kepemimpinan Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.
A
A
A
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Kepemimpinan Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Dalam tulisan sebelumnya tentang pemikiran KH. Sofwan Manaf, kami menyinggung filosofi sederhana: "Banyak yang tahu Darunnajah, tapi tidak tahu siapa pimpinannya." Bukan sekedar retorika ketawaduan. Tapi ini adalah carapandang yang menempatkan lembaga di atas figur.
Filosofi itu ternyata teripspirasi oleh Trimurti Gontor. KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi membangun sistem pendidikan yang kini melahirkan ratusan pesantren modern. Tanpa mendeklarasikan diri sebagai pendiri. Tanpa memungut royalti.
Sebagai bagian dari tradisi Gontor, kami ingin merefleksikan model kepemimpinan ini. Bukan untuk meromantisasi, juga bukan untuk mengkritisi. Melainkan untuk memahami relevansinya bagi pendidikan Islam hari ini.
Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi pernah bercerita di Forum Perguruan Tinggi Alumni Gontor. Pada 1970-an, hanya ada empat atau lima pondok alumni yang dikenal. Darul Arqam Jember, Pabelan Magelang, Darunnajah Jakarta, Daar el Qolam Banten. Kini jumlahnya berlipat ratusan kali.
Yang menarik bukan sekadar angkanya. Melainkan kualitas yang dihasilkan.
Deretan alumni yang lahir dari model ini. KH. Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PBNU dan tokoh dialog antaragama tingkat dunia. Prof. Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah dan menjadi presiden World Conference on Religion and Peace. KH. Dr. KH. Idham Chalid salah satu pahlawan Nasional.
Ini bukan kebetulan. Ini bukti bahwa sibghah nafsiyah atau internalisasi nilai keikhlasan yang ditanamkan Trimurti benar-benar bekerja.
KH. Hasyim Muzadi sendiri pernah berkata bahwa semua pidatonya di forum internasional adalah "modal yang diambil dari Gontor." Sebuah pengakuan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan puluhan tahun lalu masih hidup dan relevan di panggung global.
Untuk memahami model Trimurti, kita perlu menempatkannya dalam konteks sejarah yang tepat.
Gontor didirikan pada 1926. Indonesia belum merdeka. Sistem pendidikan nasional belum ada. Akreditasi, standarisasi kurikulum, atau quality assurance adalah konsep yang belum dikenal. Yang ada hanyalah visi tiga bersaudara tentang pendidikan Islam yang membebaskan.
Di tengah keterbatasan itu, Trimurti memilih jalan yang radikal. Mereka tidak mewariskan Gontor kepada keturunan, tapi kepada umat dalam bentuk Wakaf. Mereka tidak membangun kerajaan bisnis pendidikan, tapi menanamkan nilai yang bisa ditiru siapa saja.
Pilihan ini revolusioner untuk zamannya. Bahkan untuk zaman kita sekarang.
Maka ketika kita bicara tentang "mekanisme formal" atau "sistem terukur," kita perlu adil. Trimurti membangun dengan tools yang tersedia di masanya. Dan dengan tools itu, mereka berhasil menciptakan gerakan pendidikan yang bertahan nyaris satu abad.
Hari ini kita menyaksikan fenomena berbeda. Sekolah Islam berlabel modern bermunculan dengan sistem franchise. Ada lisensi merek, royalti bulanan, standar operasional seragam, pelatihan manajemen berbayar.
Model ini lahir dari konteks yang juga berbeda. Era akreditasi. Era persaingan dengan sekolah internasional. Era orang tua yang menuntut kepastian kualitas. Mudah untuk membandingkan keduanya dan menyimpulkan mana yang lebih baik. Tapi perbandingan seperti itu tidak adil.
Ibarat membandingkan pedagang kelontong era 1970-an dengan minimarket modern. Keduanya lahir dari konteks berbeda, menjawab kebutuhan berbeda. Yang lebih produktif adalah menintegrasikan apa yang bisa dipelajari dari masing-masing model?
Sistem franchise menawarkan standarisasi dan akselerasi pertumbuhan. Tapi model Trimurti menawarkan sesuatu yang lebih sulit ditiru: kedalaman internalisasi nilai.
Prof. Hamid menegaskan bahwa kiai harus selalu bicara nilai, jangan sekedar bicara teknis. Trimurti tidak mengontrol ratusan pondok alumni melalui SOP dan audit. Mereka menanamkan sibghah nafsiyah—celupan mental yang begitu kuat hingga alumni membawanya ke mana pun pergi.
Hasilnya terlihat nyata. Alumni Gontor tidak sekadar mendirikan pesantren. Mereka memimpin ormas Islam terbesar. Mereka menjadi rektor di universitas ternama. Mereka menjadi duta besar, menteri, intelektual publik. Mereka membawa nilai-nilai itu ke ruang-ruang yang Trimurti sendiri mungkin tidak pernah bayangkan.
Trimurti juga mempersilakan siapa saja membuka pesantren seperti sistem Gontor tanpa franchise. Ini model open source sebelum istilah itu populer. Berbagi tanpa proteksi hak cipta, tanpa royalti.
Bayangkan jika Trimurti memilih jalan berbeda. Mematenkan sistem, memungut royalti, mengontrol ketat siapa yang boleh menggunakan nama Gontor. Mungkin mereka akan lebih kaya. Tapi apakah akan ada ratusan pesantren yang tersebar dari Aceh sampai Papua?
Keberhasilan model Trimurti tidak berarti generasi penerus bisa berpuas diri.
Dunia berubah. Santri hari ini menghadapi tantangan yang tidak dihadapi generasi KH. Hasyim Muzadi atau Prof. Din Syamsuddin. Disrupsi teknologi. Radikalisme digital. Persaingan global. Krisis iklim.
Model yang berhasil di abad ke-20 perlu dikembangkan untuk menjawab tantangan abad ke-21. Ini bukan kritik terhadap Trimurti. Ini justru kelanjutan dari semangat mereka.
Trimurti sendiri adalah pembaharu di zamannya. Mereka mendobrak tradisi pesantren lama yang eksklusif dan feodal. Mereka memperkenalkan bahasa asing, olahraga, organisasi santri, hal-hal yang dianggap bid'ah oleh kalangan konservatif waktu itu.
Jika Trimurti bisa mendobrak kemapanan di zamannya, bukankah kita juga dituntut melakukan hal serupa?
Pertanyaannya bukan apakah model Trimurti masih relevan. Bukti-bukti keberhasilannya terlalu nyata untuk diperdebatkan.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana kita mengembangkan warisan ini untuk konteks yang berbeda?
Prof. Hamid memberikan contoh konkret. Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) siap menjadi mentor bagi perguruan tinggi pesantren manapun. Tanpa royalti. Ini adalah model Trimurti yang diadaptasi untuk era pendidikan tinggi.
Mungkin kita perlu lebih banyak eksperimen seperti ini. Membangun jaringan mentorship antarpesantren. Mendokumentasikan best practices secara sistematis. Menciptakan forum berbagi pengetahuan yang lebih terstruktur.
Bukan untuk menggantikan sibghah nafsiyah. Tapi untuk melengkapinya dengan tools yang tersedia di zaman kita.
Model Trimurti telah membuktikan dirinya. Ratusan pesantren. Ribuan alumni yang memimpin di berbagai bidang. Visi pendidikan yang tidak diukur dari akumulasi kapital.
Tapi menghormati warisan bukan berarti membekukannya. Trimurti tidak membangun Gontor agar kita menjadi penjaga museum. Mereka membangun Gontor agar kita menjadi pembaharu, sebagaimana mereka adalah pembaharu di zamannya.
Tugas kita bukan sekadar menjadi ahli waris. Tapi mengembangkan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Trimurti sendiri tidak sempat menjawab karena memang belum muncul di zaman mereka.
Sebagaimana ayat yang menjadi pegangan Trimurti: "Wa man jahadu fina lanahdiyannahum subulana" barang siapa bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Jalan itu terus terbentang. Dan kesungguhan untuk menelusurinya adalah warisan terbesar yang bisa kita teruskan.
Wallahu a'lam bishshawab.
Dalam tulisan sebelumnya tentang pemikiran KH. Sofwan Manaf, kami menyinggung filosofi sederhana: "Banyak yang tahu Darunnajah, tapi tidak tahu siapa pimpinannya." Bukan sekedar retorika ketawaduan. Tapi ini adalah carapandang yang menempatkan lembaga di atas figur.
Filosofi itu ternyata teripspirasi oleh Trimurti Gontor. KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi membangun sistem pendidikan yang kini melahirkan ratusan pesantren modern. Tanpa mendeklarasikan diri sebagai pendiri. Tanpa memungut royalti.
Sebagai bagian dari tradisi Gontor, kami ingin merefleksikan model kepemimpinan ini. Bukan untuk meromantisasi, juga bukan untuk mengkritisi. Melainkan untuk memahami relevansinya bagi pendidikan Islam hari ini.
Keikhlasan yang Terbukti
Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi pernah bercerita di Forum Perguruan Tinggi Alumni Gontor. Pada 1970-an, hanya ada empat atau lima pondok alumni yang dikenal. Darul Arqam Jember, Pabelan Magelang, Darunnajah Jakarta, Daar el Qolam Banten. Kini jumlahnya berlipat ratusan kali.
Yang menarik bukan sekadar angkanya. Melainkan kualitas yang dihasilkan.
Deretan alumni yang lahir dari model ini. KH. Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PBNU dan tokoh dialog antaragama tingkat dunia. Prof. Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah dan menjadi presiden World Conference on Religion and Peace. KH. Dr. KH. Idham Chalid salah satu pahlawan Nasional.
Ini bukan kebetulan. Ini bukti bahwa sibghah nafsiyah atau internalisasi nilai keikhlasan yang ditanamkan Trimurti benar-benar bekerja.
KH. Hasyim Muzadi sendiri pernah berkata bahwa semua pidatonya di forum internasional adalah "modal yang diambil dari Gontor." Sebuah pengakuan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan puluhan tahun lalu masih hidup dan relevan di panggung global.
Konteks yang Perlu Dipahami
Untuk memahami model Trimurti, kita perlu menempatkannya dalam konteks sejarah yang tepat.
Gontor didirikan pada 1926. Indonesia belum merdeka. Sistem pendidikan nasional belum ada. Akreditasi, standarisasi kurikulum, atau quality assurance adalah konsep yang belum dikenal. Yang ada hanyalah visi tiga bersaudara tentang pendidikan Islam yang membebaskan.
Di tengah keterbatasan itu, Trimurti memilih jalan yang radikal. Mereka tidak mewariskan Gontor kepada keturunan, tapi kepada umat dalam bentuk Wakaf. Mereka tidak membangun kerajaan bisnis pendidikan, tapi menanamkan nilai yang bisa ditiru siapa saja.
Pilihan ini revolusioner untuk zamannya. Bahkan untuk zaman kita sekarang.
Maka ketika kita bicara tentang "mekanisme formal" atau "sistem terukur," kita perlu adil. Trimurti membangun dengan tools yang tersedia di masanya. Dan dengan tools itu, mereka berhasil menciptakan gerakan pendidikan yang bertahan nyaris satu abad.
Fenomena Baru: Franchise Pendidikan
Hari ini kita menyaksikan fenomena berbeda. Sekolah Islam berlabel modern bermunculan dengan sistem franchise. Ada lisensi merek, royalti bulanan, standar operasional seragam, pelatihan manajemen berbayar.
Model ini lahir dari konteks yang juga berbeda. Era akreditasi. Era persaingan dengan sekolah internasional. Era orang tua yang menuntut kepastian kualitas. Mudah untuk membandingkan keduanya dan menyimpulkan mana yang lebih baik. Tapi perbandingan seperti itu tidak adil.
Ibarat membandingkan pedagang kelontong era 1970-an dengan minimarket modern. Keduanya lahir dari konteks berbeda, menjawab kebutuhan berbeda. Yang lebih produktif adalah menintegrasikan apa yang bisa dipelajari dari masing-masing model?
Kekuatan Model Trimurti
Sistem franchise menawarkan standarisasi dan akselerasi pertumbuhan. Tapi model Trimurti menawarkan sesuatu yang lebih sulit ditiru: kedalaman internalisasi nilai.
Prof. Hamid menegaskan bahwa kiai harus selalu bicara nilai, jangan sekedar bicara teknis. Trimurti tidak mengontrol ratusan pondok alumni melalui SOP dan audit. Mereka menanamkan sibghah nafsiyah—celupan mental yang begitu kuat hingga alumni membawanya ke mana pun pergi.
Hasilnya terlihat nyata. Alumni Gontor tidak sekadar mendirikan pesantren. Mereka memimpin ormas Islam terbesar. Mereka menjadi rektor di universitas ternama. Mereka menjadi duta besar, menteri, intelektual publik. Mereka membawa nilai-nilai itu ke ruang-ruang yang Trimurti sendiri mungkin tidak pernah bayangkan.
Trimurti juga mempersilakan siapa saja membuka pesantren seperti sistem Gontor tanpa franchise. Ini model open source sebelum istilah itu populer. Berbagi tanpa proteksi hak cipta, tanpa royalti.
Bayangkan jika Trimurti memilih jalan berbeda. Mematenkan sistem, memungut royalti, mengontrol ketat siapa yang boleh menggunakan nama Gontor. Mungkin mereka akan lebih kaya. Tapi apakah akan ada ratusan pesantren yang tersebar dari Aceh sampai Papua?
Tantangan Generasi Penerus
Keberhasilan model Trimurti tidak berarti generasi penerus bisa berpuas diri.
Dunia berubah. Santri hari ini menghadapi tantangan yang tidak dihadapi generasi KH. Hasyim Muzadi atau Prof. Din Syamsuddin. Disrupsi teknologi. Radikalisme digital. Persaingan global. Krisis iklim.
Model yang berhasil di abad ke-20 perlu dikembangkan untuk menjawab tantangan abad ke-21. Ini bukan kritik terhadap Trimurti. Ini justru kelanjutan dari semangat mereka.
Trimurti sendiri adalah pembaharu di zamannya. Mereka mendobrak tradisi pesantren lama yang eksklusif dan feodal. Mereka memperkenalkan bahasa asing, olahraga, organisasi santri, hal-hal yang dianggap bid'ah oleh kalangan konservatif waktu itu.
Jika Trimurti bisa mendobrak kemapanan di zamannya, bukankah kita juga dituntut melakukan hal serupa?
Mengembangkan Warisan
Pertanyaannya bukan apakah model Trimurti masih relevan. Bukti-bukti keberhasilannya terlalu nyata untuk diperdebatkan.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana kita mengembangkan warisan ini untuk konteks yang berbeda?
Prof. Hamid memberikan contoh konkret. Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) siap menjadi mentor bagi perguruan tinggi pesantren manapun. Tanpa royalti. Ini adalah model Trimurti yang diadaptasi untuk era pendidikan tinggi.
Mungkin kita perlu lebih banyak eksperimen seperti ini. Membangun jaringan mentorship antarpesantren. Mendokumentasikan best practices secara sistematis. Menciptakan forum berbagi pengetahuan yang lebih terstruktur.
Bukan untuk menggantikan sibghah nafsiyah. Tapi untuk melengkapinya dengan tools yang tersedia di zaman kita.
Penutup
Model Trimurti telah membuktikan dirinya. Ratusan pesantren. Ribuan alumni yang memimpin di berbagai bidang. Visi pendidikan yang tidak diukur dari akumulasi kapital.
Tapi menghormati warisan bukan berarti membekukannya. Trimurti tidak membangun Gontor agar kita menjadi penjaga museum. Mereka membangun Gontor agar kita menjadi pembaharu, sebagaimana mereka adalah pembaharu di zamannya.
Tugas kita bukan sekadar menjadi ahli waris. Tapi mengembangkan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Trimurti sendiri tidak sempat menjawab karena memang belum muncul di zaman mereka.
Sebagaimana ayat yang menjadi pegangan Trimurti: "Wa man jahadu fina lanahdiyannahum subulana" barang siapa bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Jalan itu terus terbentang. Dan kesungguhan untuk menelusurinya adalah warisan terbesar yang bisa kita teruskan.
Wallahu a'lam bishshawab.
(nnz)
Lihat Juga :