Teror DJ Donny dan Sherly Annavita, Pengamat: Tahan Diri, Jangan Mau Diadu Domba

Sabtu, 03 Januari 2026 - 18:33 WIB
Menurut dia, tidak semua peristiwa harus dibaca secara hitam-putih, penyederhanaan berlebihan justru membuka ruang manipulasi. Teror jelas tidak menguntungkan korban, pemerintah pun tidak diuntungkan oleh situasi gaduh yang memperlemah kepercayaan publik. Maka, ada kemungkinan lain yang patut dipertimbangkan yaitu peran pihak ketiga yang bermain di balik layar.

"Dalam kajian politik dan komunikasi strategis, pola semacam ini dikenal sebagai false flag operation yaitu aksi provokatif yang sengaja diciptakan agar tampak dilakukan oleh pihak tertentu dengan tujuan memicu konflik dan saling curiga. Pola ini sering diperkuat oleh peran agent provocateur yang memancing reaksi berlebihan agar eskalasi konflik berlangsung cepat. Ini adalah praktik lama divide et impera dengan medan baru bernama ruang digital," ujarnya.

Kehadiran media sosial mempercepat proses tersebut. Satu peristiwa melahirkan banyak versi dalam hitungan jam, mendorong publik memilih kubu tanpa ruang berpikir leluasa. Fenomena ini dikenal sebagai polarization engineering dan dalam konteks lebih luas merupakan bagian dari nonmilitary hybrid warfare, perang tanpa senjata yang menjadikan opini publik dan disinformasi sebagai alat utama.

"Demokrasi tidak runtuh oleh perbedaan pendapat melainkan hilangnya akal sehat. Menjaga kewarasan publik adalah respons paling sederhana dan paling penting," katanya.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!