Negara Online, Produktivitas Jangan Offline

Senin, 22 Desember 2025 - 17:35 WIB
Stabilitas makroekonomi lima tahun terakhir kerap menutupi persoalan struktural rumah tangga dan pasar kerja. Pertumbuhan PDB sekitar 5% tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi kesejahteraan. Konsumsi rumah tangga melemah seiring kehati-hatian kelas menengah menghadapi stagnasi pendapatan dan kenaikan biaya hidup.

Di pasar tenaga kerja, pemulihan bersifat kuantitatif tetapi rapuh. Pekerjaan baru banyak tercipta di sektor berupah rendah dan informal, sementara pekerjaan bernilai tambah tinggi tumbuh terbatas. Upah riil pekerja menengah dan terampil tergerus, melemahkan peran kelas menengah sebagai penopang permintaan domestik.

Dalam kondisi ini, digitalisasi seharusnya menjadi mesin produktivitas yang dapat meningkatkan efisiensi usaha, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperluas mobilitas ekonomi. Namun, manfaat tersebut belum dirasakan luas. Teori dan bukti empiris menunjukkan akses internet saja tidak cukup.

Produktivitas meningkat ketika konektivitas berkecepatan tinggi tersedia secara luas, stabil, dan berkelanjutan. Dari susut pandang perusahaan adopsi broadband ultra cepat berkorelasi dengan peningkatan produktivitas, terutama disektor manufaktur dan jasa modern.

Wilayah dengan koneksi lambat tertinggal dalam adopsi teknologi, otomatisasi, dan integrasi rantai pasok. Akibatnya, digitalisasi Indonesia lebih mendorong konsumsi digital daripada produksi nilai tambah.

Ketertinggalan kualitas konektivitas berdampak langsung pada kinerja ekonomi nasional. Peningkatan kualitas broadband nasional berpotensi menambah pertumbuhan PDB hingga sekitar satu poin persentase dalam jangka menengah, dan jika kualitas tertahan, potensi itu hilang. APBN boleh membiayai transformasi digital, tetapi tanpa fondasi infrastruktur yang tepat, belanja tersebut menghasilkan pengganda ekonomi rendah, mahal secara fiskal, dan minim dampak produktivitas.

Masalah ini terkait erat dengan kerangka regulasi. UU Perlindungan Data Pribadi penting bagi kepercayaan digital, tetapi membutuhkan kepastian implementasi agar tidak menahan investasi. Program analog switch-off membuka peluang pelepasan spektrum 700 MHz dan percepatan 5G, namun alokasi spektrum yang mahal dan sempit m asih membatasi kapasitas jaringan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!