Beber Tuntas Insiden Penusukan Syekh Ali Jaber
Selasa, 15 September 2020 - 07:17 WIB
Kerja cepat adalah prestasi. Namun penuntasan cepat tanpa bukti kuat justru bisa berakibat fatal. Selain menunjukkan kebenaran semu, hakikatnya model seperti ini tak lebih menyimpan bara api saja. Artinya, persoalan fundamental tak terselesaikan, sehingga kapan pun akan pecah. Semua tinggal menunggu waktu saja. Jika kali ini menimpa Syekh Ali Jaber, bisa jadi besok akan menimpa ulama ini, kiai itu, dai ini atau tokoh agama itu.
Bagi para pelaku atau aktor intelektualnya, mereka akan merasa leluasa karena mudah sekali terlepas dari jeratan hukum. Kehampaan hukum dalam kasus-kasus seperti ini juga secara tak langsung akan makin memupuk kepercayaan calon pelaku lain. Mereka makin terinspirasi sekaligus termotivasi karena seolah mendapat amunisi yang menebalkan mental mereka.
Di tengah masih begitu runyamnya penuntasan kasus selama ini, sudah selayaknya insiden yang menimpa Syekh Ali Jaber menjadi momentum besar untuk memberi keyakinan publik. Kuncinya, penuntasan harus seterbuka mungkin dengan melibatkan berbagai ahli. Pemerintah harus berhati-hati dan memberikan kepercayaan penuh kepada tim untuk pembuktian. Dengan cara itu, maka stempel terburu-buru bahwa pelaku mengidap sakit jiwa bisa dihindari.
Di era yang makin terbuka, lebih-lebih di tengah kecanggihan teknologi informasi saat ini, sudah sewajarnya pembuktian menekankan aspek kecepatan tanpa meninggalkan kejujuran. Buru-buru demi 'stabilitas keamanan' adalah ciri khas Orde Baru.
Pun, jika aparat buru-buru mengklaim pelaku sakit jiwa, belum tentu publik sangat percaya begitu saja. Apalagi, kemarin Syekh Ali Jaber juga mengindikasikan, pelaku bukanlah sakit jiwa. Ini jika dilihat dari keberanian pelaku dan kematangan saat mengincar sasaran. Selain pasti terlatih, menurut Jaber, yang perlu dirunut adalah apakah pelaku bermain tunggal. Bisa jadi ketika pelaku terlatih, tentu ada orang yang melatihnya.
Bagi para pelaku atau aktor intelektualnya, mereka akan merasa leluasa karena mudah sekali terlepas dari jeratan hukum. Kehampaan hukum dalam kasus-kasus seperti ini juga secara tak langsung akan makin memupuk kepercayaan calon pelaku lain. Mereka makin terinspirasi sekaligus termotivasi karena seolah mendapat amunisi yang menebalkan mental mereka.
Di tengah masih begitu runyamnya penuntasan kasus selama ini, sudah selayaknya insiden yang menimpa Syekh Ali Jaber menjadi momentum besar untuk memberi keyakinan publik. Kuncinya, penuntasan harus seterbuka mungkin dengan melibatkan berbagai ahli. Pemerintah harus berhati-hati dan memberikan kepercayaan penuh kepada tim untuk pembuktian. Dengan cara itu, maka stempel terburu-buru bahwa pelaku mengidap sakit jiwa bisa dihindari.
Di era yang makin terbuka, lebih-lebih di tengah kecanggihan teknologi informasi saat ini, sudah sewajarnya pembuktian menekankan aspek kecepatan tanpa meninggalkan kejujuran. Buru-buru demi 'stabilitas keamanan' adalah ciri khas Orde Baru.
Pun, jika aparat buru-buru mengklaim pelaku sakit jiwa, belum tentu publik sangat percaya begitu saja. Apalagi, kemarin Syekh Ali Jaber juga mengindikasikan, pelaku bukanlah sakit jiwa. Ini jika dilihat dari keberanian pelaku dan kematangan saat mengincar sasaran. Selain pasti terlatih, menurut Jaber, yang perlu dirunut adalah apakah pelaku bermain tunggal. Bisa jadi ketika pelaku terlatih, tentu ada orang yang melatihnya.
Lihat Juga :