Tragedi SMAN 72 Jakarta, Cermin Runtuhnya Bimbingan Moral dan Spiritualitas di Era Digital
Selasa, 11 November 2025 - 23:21 WIB
Islah menilai, kondisi psikososial dan spiritual anak muda hari ini sangat rentan karena lemahnya kontrol dari lingkungan terdekat — keluarga, tetangga, dan masyarakat. "Pencegahan ekstremisme tidak bisa hanya dibebankan kepada negara. Pengawasan harus dimulai dari keluarga, dari RT, RW, hingga komunitas keagamaan. Semua elemen sosial harus diaktifkan kembali secara sistematis," tegasnya.
Ia mencontohkan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat pun, aksi lone actor sulit dideteksi meski dengan sistem keamanan canggih. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat benteng moral dan sosial sejak dini.
Sebagai solusi, Islah mendorong hadirnya narasi keagamaan yang lebih humanis dan relevan bagi generasi muda. Ia menilai, pendekatan berbasis cinta kasih, empati, dan kemanusiaan akan jauh lebih efektif dibandingkan ceramah yang bersifat dogmatis.
"Kontra-narasi radikalisme harus dimulai dari membangun kecintaan terhadap sesama manusia. Itu inti dari semua ajaran agama. Bukan sekadar hafalan dalil, tapi penanaman nilai-nilai kasih dan perdamaian," tandasnya.
Tragedi SMAN 72 menjadi refleksi bahwa pendidikan dan keluarga tak hanya bertugas menyalurkan ilmu, tapi juga menumbuhkan iman, akhlak, dan empati, agar generasi digital tumbuh dengan kecerdasan yang beradab.
Ia mencontohkan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat pun, aksi lone actor sulit dideteksi meski dengan sistem keamanan canggih. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat benteng moral dan sosial sejak dini.
Sebagai solusi, Islah mendorong hadirnya narasi keagamaan yang lebih humanis dan relevan bagi generasi muda. Ia menilai, pendekatan berbasis cinta kasih, empati, dan kemanusiaan akan jauh lebih efektif dibandingkan ceramah yang bersifat dogmatis.
"Kontra-narasi radikalisme harus dimulai dari membangun kecintaan terhadap sesama manusia. Itu inti dari semua ajaran agama. Bukan sekadar hafalan dalil, tapi penanaman nilai-nilai kasih dan perdamaian," tandasnya.
Tragedi SMAN 72 menjadi refleksi bahwa pendidikan dan keluarga tak hanya bertugas menyalurkan ilmu, tapi juga menumbuhkan iman, akhlak, dan empati, agar generasi digital tumbuh dengan kecerdasan yang beradab.
(abd)
Lihat Juga :