Tragedi SMAN 72 Jakarta, Cermin Runtuhnya Bimbingan Moral dan Spiritualitas di Era Digital
Selasa, 11 November 2025 - 23:21 WIB
Pengamat terorisme Islah Bahrawi menilai, kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta menyingkap sisi gelap generasi muda yang kehilangan arah spiritual dan saluran normatif dalam mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap kehidupan sosial. FOTO/IST
JAKARTA - Tragedi ledakan di SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat keras bahwa ancaman radikalisme kini tak lagi berbentuk organisasi besar, melainkan bisa lahir dari individu muda yang tersesat dalam ruang digital.
Pengamat terorisme Islah Bahrawi menilai, kasus ini menyingkap sisi gelap generasi muda yang kehilangan arah spiritual dan saluran normatif dalam mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap kehidupan sosial.
"Generasi muda sekarang sangat eksplosif karena tidak punya ruang untuk menyalurkan kegelisahannya melalui jalur yang sehat, sosial, ekonomi, atau politik," ujar Islah yang juga Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Selasa (11/11/2025).
"Ketika ruang-ruang itu tertutup, maka pelampiasannya bisa berupa tindakan ekstrem, tawuran, atau bahkan kekerasan yang lebih besar," katanya.
Menurut Islah, media sosial kini menjadi "ruang dakwah baru" bagi ideologi kebencian. Tanpa bimbingan moral dan keagamaan yang kuat, generasi Z dan Alpha mudah terjebak dalam algoritma kebencian yang memperkuat emosi negatif dan menormalisasi kekerasan.
"Proses radikalisasi hari ini tidak lagi memerlukan ideologisasi panjang. Cukup dengan algoritma yang memberi ruang bagi kebencian, maka terjadilah echo chamber yang menjerumuskan anak muda pada ekstremisme," jelasnya.
Pengamat terorisme Islah Bahrawi menilai, kasus ini menyingkap sisi gelap generasi muda yang kehilangan arah spiritual dan saluran normatif dalam mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap kehidupan sosial.
"Generasi muda sekarang sangat eksplosif karena tidak punya ruang untuk menyalurkan kegelisahannya melalui jalur yang sehat, sosial, ekonomi, atau politik," ujar Islah yang juga Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Selasa (11/11/2025).
"Ketika ruang-ruang itu tertutup, maka pelampiasannya bisa berupa tindakan ekstrem, tawuran, atau bahkan kekerasan yang lebih besar," katanya.
Menurut Islah, media sosial kini menjadi "ruang dakwah baru" bagi ideologi kebencian. Tanpa bimbingan moral dan keagamaan yang kuat, generasi Z dan Alpha mudah terjebak dalam algoritma kebencian yang memperkuat emosi negatif dan menormalisasi kekerasan.
"Proses radikalisasi hari ini tidak lagi memerlukan ideologisasi panjang. Cukup dengan algoritma yang memberi ruang bagi kebencian, maka terjadilah echo chamber yang menjerumuskan anak muda pada ekstremisme," jelasnya.
Lihat Juga :