Rupiah Digital dan Gelembung Aset
Rabu, 15 Oktober 2025 - 06:05 WIB
Adhitya Wardhono, PhD. Foto/Istimewa
Adhitya Wardhono, PhD,
Dosen dan peneliti ekonomi Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Universitas Jember. Koordinator Kelompok Riset Behavioral Economics on Monetary, Financial, and Development Policy” (Ke-Ris Benefitly)- Universitas Jember.
PERUBAHAN besar di ruang digital ekonomi dan bisnis adalah keniscayaan di beberapa tahun terakhir. Masyarakat kini memiliki preferensi dalam menyimpan nilai aset ekonominya. Dan juga kualitas frekuensi dan cara bertransaksi mengalami perubahan signifikan.
Misal saja, aset digital, yang dulunya hanya dikenal segelintir penggiat teknologi, kini telah menjadi bagian dari keseharian jutaan orang. Mulai cryptocurrency, token berbasis komoditas, dan dompet digital, serta mata uang digital resmi dari sebuah negara, semuanya membentuk lanskap keuangan baru yang terus berkembang.
Di Indonesia, tren ini melaju pesat. Jutaan masyarakat, terutama anak muda, telah masuk ke dunia aset digital. Antusiasme ini menunjukkan adanya kebutuhan nyata. Masyarakat ingin alat yang fleksibel, mudah digunakan, dan bisa diandalkan untuk menyimpan nilai dan merencanakan masa depan. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan, apakah semua ini hanya serupa gelembung yang bisa pecah sewaktu-waktu?
Selama ini, istilah "gelembung" kerap diasosiasikan dengan bencana ekonomi. Tapi dalam dunia modern, tidak semua yang disebut gelembung harus dihindari. Ada kalanya, keberadaan aset yang nilainya terbentuk dari kepercayaan kolektif justru memainkan peran penting dalam sistem keuangan. Sepanjang orang percaya bahwa suatu aset akan tetap diterima di masa depan, maka aset itu punya nilai. Dan nilai itu bisa menciptakan keseimbangan dalam cara kita menyimpan kekayaan.
Dosen dan peneliti ekonomi Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Universitas Jember. Koordinator Kelompok Riset Behavioral Economics on Monetary, Financial, and Development Policy” (Ke-Ris Benefitly)- Universitas Jember.
PERUBAHAN besar di ruang digital ekonomi dan bisnis adalah keniscayaan di beberapa tahun terakhir. Masyarakat kini memiliki preferensi dalam menyimpan nilai aset ekonominya. Dan juga kualitas frekuensi dan cara bertransaksi mengalami perubahan signifikan.
Misal saja, aset digital, yang dulunya hanya dikenal segelintir penggiat teknologi, kini telah menjadi bagian dari keseharian jutaan orang. Mulai cryptocurrency, token berbasis komoditas, dan dompet digital, serta mata uang digital resmi dari sebuah negara, semuanya membentuk lanskap keuangan baru yang terus berkembang.
Di Indonesia, tren ini melaju pesat. Jutaan masyarakat, terutama anak muda, telah masuk ke dunia aset digital. Antusiasme ini menunjukkan adanya kebutuhan nyata. Masyarakat ingin alat yang fleksibel, mudah digunakan, dan bisa diandalkan untuk menyimpan nilai dan merencanakan masa depan. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan, apakah semua ini hanya serupa gelembung yang bisa pecah sewaktu-waktu?
Selama ini, istilah "gelembung" kerap diasosiasikan dengan bencana ekonomi. Tapi dalam dunia modern, tidak semua yang disebut gelembung harus dihindari. Ada kalanya, keberadaan aset yang nilainya terbentuk dari kepercayaan kolektif justru memainkan peran penting dalam sistem keuangan. Sepanjang orang percaya bahwa suatu aset akan tetap diterima di masa depan, maka aset itu punya nilai. Dan nilai itu bisa menciptakan keseimbangan dalam cara kita menyimpan kekayaan.
Lihat Juga :