Masa Depan Hospitality Indonesia: Dari Ruang Kelas ke Dunia Nyata

Kamis, 09 Oktober 2025 - 13:38 WIB
Kompetensi krusial yang hilang inilah yang menjadi fokus utama. Diskusi intensif antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri dalam Job/Occupational & Task Analysis (JOA) Workshop, yang merupakan bagian dari program Sustainable Tourism Education Development (STED) bersama Kementerian Pariwisata (KemenPar) dan Swisscontact, mengungkap empat pilar utama yang masih menjadi penghambat. Pilar pertama adalah konsistensi standar mutu di bawah tekanan yang merupakan kemampuan untuk mempertahankan kualitas yang sama, terlepas dari kecepatan dan volume permintaan.

Pilar kedua adalah manajemen waktu dan koordinasi lintas departemen. Waktu adalah mata uang di sektor ini. Kegagalan mengatur waktu atau berkoordinasi secara efektif antar-dapur, layanan, dan manajemen berarti kerugian operasional. Yang ketiga adalah kepemimpinan dan komunikasi yang efektif untuk memimpin tim dan mendelegasikan tugas. Yang terakhir dan yang paling penting adalah kesadaran terhadap keberlanjutan (sustainability) serta pengolahan food waste.

Poin tentang keberlanjutan tidak bisa lagi dianggap sebagai isu sampingan, melainkan tantangan operasional dan etika yang mendesak. Data FAO pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 30% makanan dunia terbuang sia-sia, dan di sektor hospitality angkanya dapat mencapai 40%. Di Indonesia, masalah ini bahkan lebih mencolok, di mana Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melaporkan sampah makanan mencapai 35,3 juta ton per tahun.

Fakta ini menegaskan bahwa pendidikan hospitality harus melampaui resep; ia wajib mengajarkan efisiensi dan tanggung jawab lingkungan. Kurikulum perlu menginternalisasi disiplin manajemen dapur yang menekan food waste yang bisa dilakukan mulai dari penerapan FIFO (First In, First Out) yang ketat, pemanfaatan bahan baku secara maksimal (Root-to-Stem), hingga manajemen porsi yang cerdas. Lulusan harus dididik untuk menjadi juru masak yang juga manajer limbah yang bertanggung jawab, memastikan sisa makanan organik diubah menjadi kompos, bukan dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Lalu, bagaimana kita menanamkan kompetensi soft skills dan kesadaran lingkungan yang kritis ini? Jawabannya ada pada integrasi mendalam antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Model pendidikan di negara lain memberikan cetak biru yang jelas. Di Swiss, Sistem Dual Education memastikan teori selalu diikuti praktik langsung yang terstruktur. Di Jerman, praktisi industri terlibat sebagai mentor jangka panjang, bukan sekadar dosen tamu yang datang sesekali.

Mereka hadir untuk membimbing, menguji, dan menilai kompetensi mahasiswa berdasarkan standar industri nyata, termasuk bagaimana mengukur food cost dan kepuasan pelanggan. Pendekatan serupa harus diadopsi di Indonesia, di mana praktisi harus hadir di kampus lebih dari sekadar memberi kuliah tamu. Mereka perlu ikut membimbing mahasiswa secara berkelanjutan dan menilai kompetensinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!