Pentingnya Rumah Susun Lebih Luas untuk Keluarga Muda
Sabtu, 04 Oktober 2025 - 06:54 WIB
• Satu ruang tambahan bisa jadi tempat belajar, ruang kerja ketika work from home, atau ruang keluarga yang mempererat ikatan emosional.
Dengan fondasi seperti ini, rumah benar-benar bisa menjalankan fungsinya: menjadi tempat tumbuh, bukan sekadar tempat berteduh.
Baca Juga: Gen Milenial - Gen Z: Antara Investasi dan Party
Di tengah maraknya diskusi tentang mental health awareness, ruang hunian sering luput dibicarakan. Padahal, kesehatan jiwa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sosial dan pekerjaan, tapi juga oleh lingkungan tempat kita tinggal sehari-hari. Rumah yang sehat adalah bagian dari mental health ecosystem.
Begitu pula dengan isu work-life balance. Banyak profesional muda sekarang ingin bisa menyeimbangkan kerja dan kehidupan pribadi. Namun bagaimana mungkin bisa balance jika semua aktivitas harus dilakukan dalam ruang sempit tanpa batas jelas antara ruang kerja, ruang keluarga, dan ruang istirahat?
Tren remote working dan hybrid working juga menambah urgensi. Rumah kini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga kantor, sekolah, bahkan studio kreatif. Artinya, kebutuhan ruang jadi jauh lebih besar dibandingkan beberapa dekade lalu.
Generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, kini lebih sadar pentingnya kualitas hidup. Mereka tidak hanya mengejar status "punya rumah", tapi juga mempertanyakan apakah rumah itu layak untuk ditinggali dan ditumbuhkembangkan bersama keluarga. Media sosial penuh dengan percakapan tentang desain rumah, ruang kerja yang cozy, hingga minimalist lifestyle. Semua itu menunjukkan generasi sekarang tidak puas dengan sekadar punya atap—mereka ingin rumah yang bisa dihidupi dengan penuh makna.
Arah kebijakan perumahan harus lebih proaktif merespons kebutuhan zaman. Standar rumah susun perlu direvisi agar relevan dengan realitas remote working dan kesadaran generasi muda terhadap kualitas hidup. Rumah bukan hanya objek ekonomi, tapi ruang hidup yang menentukan kualitas manusia Indonesia.
Kita perlu mengubah cara pandang. Rumah bukan sekadar atap. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, ruang terapi untuk orang tua, dan laboratorium kecil untuk membangun generasi bangsa.
Jika kita serius ingin menjawab tantangan kekinian—dari isu kesehatan mental, work-life balance, hingga daya saing global—maka sudah saatnya rumah susun dengan minimal tiga kamar tidur menjadi standar, bukan sekadar pilihan.
Karena pada akhirnya, membangun rumah berarti membangun bangsa.
Dengan fondasi seperti ini, rumah benar-benar bisa menjalankan fungsinya: menjadi tempat tumbuh, bukan sekadar tempat berteduh.
Baca Juga: Gen Milenial - Gen Z: Antara Investasi dan Party
Di tengah maraknya diskusi tentang mental health awareness, ruang hunian sering luput dibicarakan. Padahal, kesehatan jiwa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sosial dan pekerjaan, tapi juga oleh lingkungan tempat kita tinggal sehari-hari. Rumah yang sehat adalah bagian dari mental health ecosystem.
Begitu pula dengan isu work-life balance. Banyak profesional muda sekarang ingin bisa menyeimbangkan kerja dan kehidupan pribadi. Namun bagaimana mungkin bisa balance jika semua aktivitas harus dilakukan dalam ruang sempit tanpa batas jelas antara ruang kerja, ruang keluarga, dan ruang istirahat?
Tren remote working dan hybrid working juga menambah urgensi. Rumah kini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga kantor, sekolah, bahkan studio kreatif. Artinya, kebutuhan ruang jadi jauh lebih besar dibandingkan beberapa dekade lalu.
Generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, kini lebih sadar pentingnya kualitas hidup. Mereka tidak hanya mengejar status "punya rumah", tapi juga mempertanyakan apakah rumah itu layak untuk ditinggali dan ditumbuhkembangkan bersama keluarga. Media sosial penuh dengan percakapan tentang desain rumah, ruang kerja yang cozy, hingga minimalist lifestyle. Semua itu menunjukkan generasi sekarang tidak puas dengan sekadar punya atap—mereka ingin rumah yang bisa dihidupi dengan penuh makna.
Arah kebijakan perumahan harus lebih proaktif merespons kebutuhan zaman. Standar rumah susun perlu direvisi agar relevan dengan realitas remote working dan kesadaran generasi muda terhadap kualitas hidup. Rumah bukan hanya objek ekonomi, tapi ruang hidup yang menentukan kualitas manusia Indonesia.
Ubah Cara Pandang: Dari Atap ke Masa Depan
Membangun rumah susun seharusnya tidak berhenti di soal kuantitas—berapa banyak unit yang bisa dibangun. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah rumah-rumah itu bisa benar-benar mendukung keluarga yang sehat, anak-anak yang cerdas, dan masyarakat yang produktif?Kita perlu mengubah cara pandang. Rumah bukan sekadar atap. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, ruang terapi untuk orang tua, dan laboratorium kecil untuk membangun generasi bangsa.
Jika kita serius ingin menjawab tantangan kekinian—dari isu kesehatan mental, work-life balance, hingga daya saing global—maka sudah saatnya rumah susun dengan minimal tiga kamar tidur menjadi standar, bukan sekadar pilihan.
Karena pada akhirnya, membangun rumah berarti membangun bangsa.
(zik)
Lihat Juga :