Pengakuan Internasional bagi Palestina

Selasa, 23 September 2025 - 07:49 WIB
Solusi ini juga pernah muncul dalam Deklarasi Prinsip 1993 yang ditandatangani Pemimpin Palestina Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin di depan Presiden Amerika Bill Clinton. Rusia misalnya kembali menegaskan bahwa solusi dua negara yang disepakati PBB, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, adalah satu-satunya jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan ini. Inggris juga menyebut solusi dua negara sebagai salah satu dari delapan poin yang digagas oleh Jonathan Powell, penasihat keamanan Perdana Menteri Keir Starmer, dan mulai dibagikan kepada sekutu Inggris sejak 29 Juli lalu. Fakta- fakta tersebut menguatkan bukti bahwa aktor-aktor global memang berkeinginan mengimplementasikan solusi dua negara.

Jalan Berliku

Pengakuan Palestina oleh keempat negara Barat ini menambah daftar panjang negara-negara yang telah lebih dulu mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Lebih dari 150 negara anggota telah memberikan pengakuan serupa sejak Palestina mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1988. Ini diyakini akan memberi tekanan politik baru terhadap Israel, memperkuat posisi Palestina dalam diplomasi internasional, serta menguatkan gerakan solidaritas global terhadap perjuangan rakyat Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun.

Meskipun demikian, jalan berliku bisa saja terjadi karena sejumlah tantangan masih dihadapi. Sebagaimana sebelumnya, dukungan bagi Palestina diduga akan mulus di Majelis Umum PBB. Namun keputusan ini bersifat rekomendatif karena pemegang keputusan adalah Dewan Keamanan.

Keanggotaan PBB penuh mensyaratkan rekomendasi Dewan Keamanan. Negara baru harus mendapat rekomendasi Dewan Keamanan dengan minimal 9 suara, tanpa veto dari 5 anggota tetap sebelum diserahkan ke Sidang Umum untuk pemungutan suara 2/3. Artinya bila Amerika memveto, jalan ke keanggotaan masih berliku. Ada kemungkinan Amerika masih akan memveto Palestina ini sebagaimana sikap keras kepala Donald Trump yang tidak memberi visa para pemimin Palestina untuk mengikuti sidang PBB tahun ini.

Dalam situasi seperti ini maka tekanan nasional kepada pemimpin negara masing- masing dan gerakan global membela Palestina dan mengimplementasikan solusi dua negara harus terus digaungkan. Selain itu, harapan disandarkan pada negara kuat lain seperti Rusia, Tiongkok, hingga Prancis, Inggris, Spanyol dan lainnya untuk secara nyata mau melakukan kontrol di area konflik agar kekejian tidak berlanjut diperlukan. Intervensi kemanusiaan (humanitarian intervention) juga telah disuarakan agar kekejian dihentikan dan bantuan kemansuiaan disalurkan.

Pidato Presiden Prabowo Soebiyanto di Sidang majlis Umum PBB Selasa malam (23/9) kita harapkan memiliki resonansi global kuat dan memberi tambahan kekuatan bagi gerakan dunia membela kemanusiaan dan hak rakyat Palestina. Kita tentu tidak mau dicatat sejarah sebagai manusia yang gagal menyelamatkan ratusan ribu nyawa yang terancam hidupnya karena kebengisan Israel, serta sebagian orang yang masih ingin bertikai di kedua belah pihak.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!