Perilaku Flexing Pejabat Publik dan Publik Figur Hubungannya Trauma Kemiskinan

Selasa, 16 September 2025 - 11:11 WIB
- Perilaku maladaptif, seperti konsumsi berlebihan atau pamer sebagai kompensasi emosional (Piff et al., 2010).

Penelitian Arik & Pradana (2024) menemukan bahwa individu yang tidak merasa aman secara emosional maupun sosial lebih cenderung mengekspresikan diri secara berlebihan di media sosial, termasuk melalui flexing.

Selain aspek defensif, flexing juga kerap dipahami sebagai strategi personal branding, terutama di kalangan generasi Z di media sosial digunakan untuk membentuk citra diri yang diinginkan, menarik perhatian, dan membangun identitas digital (Fahmi et al., 2023; Khamis, Ang, & Welling, 2017).

Demikian juga dengan pejabat yang ingin orang lain tahu kinerjanya dan influencer yang memerlukan popularitas dari masyarakat sehingga terkadang mereka terjebak pada citra diri yang semu, karena kepuasan yang dihasilkan dari flexing bersifat sementara dan dapat menimbulkan risiko psikologis jangka panjang antara lain:

- Kecemasan sosial: muncul karena merasa tidak mampu memenuhi standar media sosial (Marwick, 2013).

- Depresi: akibat perbandingan sosial negatif dengan orang lain (Appel et al., 2016).

- Konsumsi berlebihan: dorongan membeli barang mewah untuk mempertahankan citra (Trigg, 2001).

- Ketidakautentikan diri: membangun ilusi kehidupan yang tidak sesuai dengan realitas (Goffman, 1959).

Penelitian Arik & Pradana (2024) juga menunjukkan bahwa individu yang mendapat kepuasan dari menampilkan hal-hal eksklusif cenderung lebih mudah terjebak dalam flexing berlebihan.

Perilaku flexing pejabat publik tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-ekonomi dan psikologis masyarakat. Sebagai respons terhadap trauma kemiskinan maupun sebagai strategi branding, flexing memberi kepuasan jangka pendek namun berpotensi menimbulkan dampak psikologis (kecemasan, depresi, ilusi diri) dan sosial-politik (kecemburuan, kemarahan kolektif).

Penting bagi publik figur maupun masyarakat umum untuk menyadari motivasi di balik perilaku ini. Alternatif yang lebih sehat meliputi membangun harga diri berdasarkan prestasi nyata, memperkuat relasi sosial yang autentik, serta mengarahkan simbol-simbol status pada kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam membangun "personal branding" sah-sah saja menggunakan media sosial untuk menyampaikan kinerja dan prestasi namun sebaiknya dilakukan dengan autentik tanpa harus memamerkan kemewahan dan tidak ada kepalsuan sehingga tidak ada tekanan dalam mengejar pengakuan dari orang lain. Hidup akan lebih bahagia dan mental akan lebih sehat bila kita bekerja dan berbuat tanpa beban, biarkan orang lain yang merasakan kehadiran kita yang bercerita.

Masa lalu memang terkasang membuat kita dendam, ingin membalas kepada orang yang telah menghina dan merendahkan kita, namun agama mengajarkan kita untuk berlapang dada karena pada saatnya pada suatu saat, kita menyadari bahwa kesuksesan kita karena "hinaan" itu sendiri yang membuat kita akhirnya termotivasi. Memamerkan kinerja, prestasi sah-sah saja tapi jangan berlebihan dan hilangkan kepalsuan dan kepura-puraan dalam hidup. Insyaallah bahagia.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!