Kekerasan Kolektif di Barak Militer

Rabu, 13 Agustus 2025 - 09:25 WIB
Perilaku agresif dapat dipelajari melalui pengamatan dan peniruan, terutama jika perilaku tersebut pernah mendapat “penguatan” (misalnya berupa penghargaan atau penerimaan sosial).

Menurut Bandura perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukannya perilaku yang dibawa individu sejak lahir karena perilaku agresif dipelajari dari lingkungan sosial seperti interaksi dengan keluarga, rekan sebaya dan media

Jika seorang senior pernah dipukul atau diperlakukan kasar saat menjadi junior, ia cenderung meniru pola tersebut ketika memperoleh posisi berkuasa.

3. Kekerasan di Lingkungan Tertutup

Eksperimen terkenal yang dilakukan oleh Philip Zimbardo (Stanford Prison Experiment, 1971) menunjukkan bahwa peran sosial dan lingkungan tertutup dapat mengubah perilaku seseorang secara drastis.

Dalam simulasi penjara, mahasiswa yang berperan sebagai sipir menjadi kejam dan abusif terhadap “narapidana”, meski sebelumnya mereka tidak memiliki riwayat perilaku agresif.

Zimbardo menemukan bahwa peran, hierarki, dan lingkungan yang terisolasi dapat menumbuhkan kekerasan yang tidak akan muncul di luar konteks tersebut. Fenomena ini juga terjadi di barak militer, di mana hierarki yang jelas memberi senior kekuasaan penuh atas junior.

Selain itu, dalam aksi kelompok, rasa bersalah individu berkurang (diffusion of responsibility), sehingga membuka peluang terjadinya kekerasan bahkan hingga pembunuhan.

4. Jiwa Korsa yang Berlebihan

Jiwa korsa seharusnya menjadi semangat persaudaraan, loyalitas, dan solidaritas antarsesama prajurit. Namun, jika dipadukan dengan budaya senioritas yang keras, jiwa korsa dapat berubah menjadi solidaritas negatif.

Dalam kelompok senior, hal ini bisa memicu:

• In-group yang kuat (senior) melawan out-group (junior).

• Kekerasan dibenarkan sebagai “uji mental” demi kesatuan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!