Aset Geostrategis Iran dan Pelajaran bagi Indonesia dalam Era Multipolar
Jum'at, 20 Juni 2025 - 19:13 WIB
Perspektif Teoretis: Mearsheimer, Nye–Keohane, dan Qin Yaqing
Melalui lensa realisme ofensif, Penulis menilai John Mearsheimer pasti akan melihat serangan ini sebagai bagian dari kalkulasi kekuasaan. Negara, dalam sistem internasional yang anarkis, akan selalu berusaha memaksimalkan kapasitasnya untuk bertahan hidup.
Ketika Iran mulai memonetisasi aset seperti South Pars untuk mendanai kekuatan militer dan pengembangan nuklir, Israel sebagai hegemon regional melihat itu sebagai ancaman dan merespons dengan serangan preventif. Dalam pandangan Mearsheimer, ini bukan pelanggaran hukum internasional, tetapi realitas struktural dunia yang memaksa.
Sebaliknya, penggiat hubungan internasional pasti akan menilai dari sisi atau perspektif Joseph Nye dan Robert Keohane yang lebih menekankan pentingnya kekuatan non-militer seperti diplomasi, reputasi, dan keterikatan institusional. Serangan terhadap instalasi energi lintas negara tanpa mandat internasional justru melemahkan posisi moral Israel di mata dunia.
Dunia kini hidup dalam interdependensi yang kompleks, dan tindakan sepihak semacam ini hanya akan merusak kepercayaan terhadap sistem internasional yang dibangun bersama. Sementara itu, akademisi Hubungan Internasional professor Qin Yaqing dari China akan menempatkan krisis ini sebagai kegagalan hubungan antarnegara yang sehat.
South Pars adalah node relasional antara Iran dan Qatar—aset yang seharusnya bisa menjadi titik temu kepentingan bersama. Ketika relasi rusak, konflik menjadi tak terhindarkan. Qin mendorong pendekatan berbasis harmoni dalam keberagaman (he er bu tong) dan menolak dominasi sepihak sebagai cara membangun tatanan dunia.
Relevansi bagi Indonesia
Apa pelajaran utama bagi Indonesia dari konflik ini? Pertama dan terutama: kemandirian energi dan teknologi bukan hanya soal pembangunan nasional, tapi juga soal keamanan dan diplomasi. Jika suatu hari Indonesia benar-benar berhasil menjadi pemain besar dalam energi hijau, transisi digital, atau hilirisasi tambang, maka aset-aset tersebut otomatis menjadi bagian dari kepentingan strategis nasional—dan oleh karena itu rentan terhadap intervensi, baik politik maupun ekonomi.
Melalui lensa realisme ofensif, Penulis menilai John Mearsheimer pasti akan melihat serangan ini sebagai bagian dari kalkulasi kekuasaan. Negara, dalam sistem internasional yang anarkis, akan selalu berusaha memaksimalkan kapasitasnya untuk bertahan hidup.
Ketika Iran mulai memonetisasi aset seperti South Pars untuk mendanai kekuatan militer dan pengembangan nuklir, Israel sebagai hegemon regional melihat itu sebagai ancaman dan merespons dengan serangan preventif. Dalam pandangan Mearsheimer, ini bukan pelanggaran hukum internasional, tetapi realitas struktural dunia yang memaksa.
Sebaliknya, penggiat hubungan internasional pasti akan menilai dari sisi atau perspektif Joseph Nye dan Robert Keohane yang lebih menekankan pentingnya kekuatan non-militer seperti diplomasi, reputasi, dan keterikatan institusional. Serangan terhadap instalasi energi lintas negara tanpa mandat internasional justru melemahkan posisi moral Israel di mata dunia.
Dunia kini hidup dalam interdependensi yang kompleks, dan tindakan sepihak semacam ini hanya akan merusak kepercayaan terhadap sistem internasional yang dibangun bersama. Sementara itu, akademisi Hubungan Internasional professor Qin Yaqing dari China akan menempatkan krisis ini sebagai kegagalan hubungan antarnegara yang sehat.
South Pars adalah node relasional antara Iran dan Qatar—aset yang seharusnya bisa menjadi titik temu kepentingan bersama. Ketika relasi rusak, konflik menjadi tak terhindarkan. Qin mendorong pendekatan berbasis harmoni dalam keberagaman (he er bu tong) dan menolak dominasi sepihak sebagai cara membangun tatanan dunia.
Relevansi bagi Indonesia
Apa pelajaran utama bagi Indonesia dari konflik ini? Pertama dan terutama: kemandirian energi dan teknologi bukan hanya soal pembangunan nasional, tapi juga soal keamanan dan diplomasi. Jika suatu hari Indonesia benar-benar berhasil menjadi pemain besar dalam energi hijau, transisi digital, atau hilirisasi tambang, maka aset-aset tersebut otomatis menjadi bagian dari kepentingan strategis nasional—dan oleh karena itu rentan terhadap intervensi, baik politik maupun ekonomi.
Lihat Juga :