Dimensi Islam Berkemajuan Ibadah Kurban

Selasa, 03 Juni 2025 - 20:49 WIB
Solusi dikemas melalui gagasan dan amal. Agar tidak mudah tergerus dan terjadi kekosongan nilai.Gagasan dan amal dikemas melalui prinsip memperbaiki (ishlah), memperbaharui (tajdid) plus kesadaran teologis. Setiap upaya yang dilakukan oleh manusia tidak bertentangan dengan syariat, berdampak dan penilain akhir sepenunya diserahkan kepada sang Khaliq

Dan yang tidak kalah penting, dalam rangka memaksimalkan dampak, ibadah sosial dioreantasikanuntuk kepentingan dan kebaikan publik (masalahat).

Dalam konteks dimensi perlindungan anak.Ibadah kurban merupakan ibadah yang menghargai dan melindungi prinsip dasar perlindungan anak.Penghargaaan terhadap pendapat anak dan hak hidup anak.

Praktik perlindungan anak dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika menceritakan mimpinya kepada Nabi Ismail. Meski mengalami pergolakan psikologis, Ibrahim membuka ruang berdiskusi. Ayah (Ibrahim) melalui mimpi, mendapatkan perintah untuk menyembelih anak (Ismail). Setelah bercerita, Ibrahim berdialog dengan Ismail. Tujuannya, mendengarkan pendapat dan sikap Nabi Ismail.

Memiliki ”hak istimewa” dari status sebagai Nabi, Ibrahim bisa saja langsung menggunakan otoroitas kenabian yang dimilikinya,menyembelih Ismail tanpa perlu melakukan konsultasi. Praktik baik berkemajuan, penghargaan terhadap prinsip dasar perlindungan anak yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim telah dilakukan jauh sebelum dunia melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan Konvensi Hak Anak.

Dari sisi dimensi sosial - ekonomi, perintah memprioritaskan terlebih dahulu penyaluran daging kurban kepada fakir - miskin merepresentasikan pemertaaan sekaligus dukungan akses makan (nutrisi) bergizi. Dari berbagai hasil studi, kasus stunting sebagai contoh. Dalam daging hewan kurban terdapat kandungan gizi yang bisa mencegah terjadinya kegagalan tumbuh - kembang anak.

Dari aspek ekonomi, perintah berkurban merupakan pembelajaran pentingnya penguatan eksositem peternakan hewan. Mulai dari pengadaaan hewan, penggemukan atau perawatan. pemasaran, promosi dan penjualan

Berdasar dokumen Ekonomi Kurban 2025 (IDEAS:2025), potensi ekonomi kurban tahun 2025 Rp27, 1 triliun. Potensi tersebut berasal dari 1,92 juta rumah tangga yang berkurban. Dari sisi kebutuhan hewan.Kebutuhan domba-kambing sebesar 1,1 juta ekor. Sapi-kerbau sekitar 503 ribu ekor.

Di era digital saat ini, perputaran ekonomi kurban menjadi magnet bagiperusahaan niaga elektronik, membuka akses promosi dan pembelian hewan kurban secara digital Jika dikelola dengan maksimal, penguatan ekosistem hewan kurban bisa berdampak bukan hanya pada aspek ketersedian stok hewan namun juga pelaku usaha ternak.

Hewan ternak dalam Islam tidak luput dari perhatian. Tidak ada yang sia-sia dari penciptaan hewan, selalu ada pembelajaran yang bisa diraih. Jika kita bijak mengelola hewan ternak, manusia secara otomatis akan mendapatkan manfaat dari hewan ternak.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!