Batik, Identitas dan Warisan Budaya Indonesia yang Diakui Dunia
Minggu, 06 Oktober 2024 - 19:10 WIB
Pelatihan dan pendampingan diberikan oleh Pertamina kepada para pengrajin di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. "Kami mendapatkan coaching dari Pertamina sehingga berkembang. Kami juga meraih hibah berupa alat yang bisa dimanfaatkan sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru," tuturnya.
baca juga: Lindungi Perajin Batik Lokal, Ganjar Bakal Pertimbangkan Batasi Impor Batik dari China
Kini, para pelaku industri kreatif kelompok Joko Tole menggunakan label Joko Tole Collection dan melakukan inovasi tak sekadar memproduksi batik, namun juga tas, clutch, hijab, topi dan busana ready to wear.
"Sekarang ada 5 kelompok dengan 125 pengrajin. Semua mendapat pelatihan dan kita lakukan studi untuk sinergi dengan daerah lain agar bisa terus berinovasi untuk menghasilkan produk," paparnya.
Para pengrajin batik di Bangkalan tak sekadar melakukan inovasi. Tetapi juga menuangkan ide-ide baru sehingga karya yang dihasilkan memiliki nilai. "Saat ini batik kami sudah berhasil menembus Selandia Baru, Vietnam, Malaysia hingga Republik Ceko. Kami bisa megajak yang lain untuk meningkatkan industri kreatif di Tanah Air," tegas Wirabumi.
Diketahui, Hari Batik Nasional (HBN) menjadi momentum untuk mempertahankan identitas dan warisan budaya Indonesia. Sebagai salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia, sudah seharusnya masyarakat ikut serta dalam upaya melestarikannya.
HBN dan kebanggaan menggunakan batik membuat warisan budaya batik semakin diakui secara global dan masyarakat lebih percaya diri memakai batik sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Indonesia. Terlebih, batik telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Unesco pada 2009 silam.
baca juga: Lindungi Perajin Batik Lokal, Ganjar Bakal Pertimbangkan Batasi Impor Batik dari China
Kini, para pelaku industri kreatif kelompok Joko Tole menggunakan label Joko Tole Collection dan melakukan inovasi tak sekadar memproduksi batik, namun juga tas, clutch, hijab, topi dan busana ready to wear.
"Sekarang ada 5 kelompok dengan 125 pengrajin. Semua mendapat pelatihan dan kita lakukan studi untuk sinergi dengan daerah lain agar bisa terus berinovasi untuk menghasilkan produk," paparnya.
Para pengrajin batik di Bangkalan tak sekadar melakukan inovasi. Tetapi juga menuangkan ide-ide baru sehingga karya yang dihasilkan memiliki nilai. "Saat ini batik kami sudah berhasil menembus Selandia Baru, Vietnam, Malaysia hingga Republik Ceko. Kami bisa megajak yang lain untuk meningkatkan industri kreatif di Tanah Air," tegas Wirabumi.
Diketahui, Hari Batik Nasional (HBN) menjadi momentum untuk mempertahankan identitas dan warisan budaya Indonesia. Sebagai salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia, sudah seharusnya masyarakat ikut serta dalam upaya melestarikannya.
HBN dan kebanggaan menggunakan batik membuat warisan budaya batik semakin diakui secara global dan masyarakat lebih percaya diri memakai batik sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Indonesia. Terlebih, batik telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Unesco pada 2009 silam.
Lihat Juga :