Merdeka Berpikir
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 06:30 WIB
Berpikir seperti di atas memang perlu mentor yang bertugas mengarahkan dari kesesatan berpikir itu sendiri. Jika Mintzberg (1991) menuntut tanggung jawab sosial, maka mentor itulah yang mengarahkan agar hasil pemikirannya tidak kebablasan. Cara berpikir tersebut dilakukan untuk menemukan temuan baru dalam kebuntuan praktik di lapangan. Tidak heran jika dalam penta helix, akademisi menjadi bagian tidak terpisahkan dengan komponen lainnya. Peningkatan karier jabatan kebirokrasian juga sudah menuntut studi lanjutan, bukan untuk memperoleh tambahan gelar, namun untuk me-refresh cara berpikir yang baru dan gemilang.
Pemikiran yang baru berkaitan dengan riset. Suriasumantri (1985) menyebutnya untuk memberikan solusi dari masalah yang ada. Ketika masalah yang dihadapi semakin beragam, maka pemikiran diarahkan untuk mencari solusinya, sedangkan ketika sudah given dan tidak dipertentangkan, maka jangan membangunkan macan tidur. Persoalan, polusi, kekeringan, pangan, pandemi, dan kehidupan ekonomi lainnya menuntut pemikiran jernih ketimbang mengorek ideologi yang telah tegak.
Jika Korten (1984) menganggap bahwa bumi harus sudah diperlakukan sebagai pesawatnya ruang angkasa, maka hal itu berarti bahwa penghuni bumi sudah cenderung overload ketimbang kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya. Tidak heran upaya migrasi penduduk dari belahan dunia yang padat ke dunia yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya terjadi. Jika demikian adanya, persoalan kependudukan menjadi krusial untuk dicarikan solusinya. Perusak lingkungan seperti plastik pun coba dieliminasi sehingga ketika ada program plastik berbayar, bukan dimaksudkan untuk membeli, tapi agar sebaran plastik berkurang. Demikian halnya dengan ”Citarum Harum” di Jawa Barat pun dimaksudkan agar limbah disaring agar sungai tetap bersih.
Melalui sejumlah kajian yang dilakukan secara merdeka, pendapat pun bisa berkembang dan dipertemukan untuk diharmonisasikan. Dengan demikian, hilirisasi yang kerap berkumandang menjadi menarik agar pikiran dapat realistis. Namun, bisa banyak yang terganggu eksistensinya sehingga bisa banyak temuan yang dibeli bukan untuk dikembangkan namun untuk dipeti-eskan. Dalam posisi ini, keteguhan hati akademisi dipertaruhkan.
Dalam pendidikan, proses bisa lebih penting ketimbang hasil. Ibarat kawah candradimuka, proses penggemblengan diarahkan untuk penyadaran diri sekaligus memotivasi akan potensi mahasiswa yang dimilikinya, seperti Nilson (2010) tuliskan. Dengan cara ini, kaderisasi dipersiapkan agar ilmu dan amal dapat diakselerasikan dengan gemblengan mental dan sistematisasi berpikir yang matang. Upaya ini harus mengubah ”cepat lulus” sebagai tujuan menjadi lulus sebagai akibat kematangan dan tanggung jawab sosialnya.
Tidak heran jika kebanggaan akademisi terletak pada ketahanan mental anak didik serta kemampuan berpikir kritis, analitis dan skeptis, bukan IPK tinggi dan cepat berhasil. Untuk membentuknya, sebagai mentor, dosen memiliki kreasi sendiri yang bisa berbeda antar-dosen. Karena itu, metode mentransfer ilmu ditempatkan sebagai alat dan seni, bukan ilmu yang harus diseragamkan. Praktik seperti itu mestinya juga menjadi bagian dari pencetakan kader yang mampu memberikan kemerdekaan berkreasi dan berpikir.
Pemikiran yang baru berkaitan dengan riset. Suriasumantri (1985) menyebutnya untuk memberikan solusi dari masalah yang ada. Ketika masalah yang dihadapi semakin beragam, maka pemikiran diarahkan untuk mencari solusinya, sedangkan ketika sudah given dan tidak dipertentangkan, maka jangan membangunkan macan tidur. Persoalan, polusi, kekeringan, pangan, pandemi, dan kehidupan ekonomi lainnya menuntut pemikiran jernih ketimbang mengorek ideologi yang telah tegak.
Jika Korten (1984) menganggap bahwa bumi harus sudah diperlakukan sebagai pesawatnya ruang angkasa, maka hal itu berarti bahwa penghuni bumi sudah cenderung overload ketimbang kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya. Tidak heran upaya migrasi penduduk dari belahan dunia yang padat ke dunia yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya terjadi. Jika demikian adanya, persoalan kependudukan menjadi krusial untuk dicarikan solusinya. Perusak lingkungan seperti plastik pun coba dieliminasi sehingga ketika ada program plastik berbayar, bukan dimaksudkan untuk membeli, tapi agar sebaran plastik berkurang. Demikian halnya dengan ”Citarum Harum” di Jawa Barat pun dimaksudkan agar limbah disaring agar sungai tetap bersih.
Melalui sejumlah kajian yang dilakukan secara merdeka, pendapat pun bisa berkembang dan dipertemukan untuk diharmonisasikan. Dengan demikian, hilirisasi yang kerap berkumandang menjadi menarik agar pikiran dapat realistis. Namun, bisa banyak yang terganggu eksistensinya sehingga bisa banyak temuan yang dibeli bukan untuk dikembangkan namun untuk dipeti-eskan. Dalam posisi ini, keteguhan hati akademisi dipertaruhkan.
Dalam pendidikan, proses bisa lebih penting ketimbang hasil. Ibarat kawah candradimuka, proses penggemblengan diarahkan untuk penyadaran diri sekaligus memotivasi akan potensi mahasiswa yang dimilikinya, seperti Nilson (2010) tuliskan. Dengan cara ini, kaderisasi dipersiapkan agar ilmu dan amal dapat diakselerasikan dengan gemblengan mental dan sistematisasi berpikir yang matang. Upaya ini harus mengubah ”cepat lulus” sebagai tujuan menjadi lulus sebagai akibat kematangan dan tanggung jawab sosialnya.
Tidak heran jika kebanggaan akademisi terletak pada ketahanan mental anak didik serta kemampuan berpikir kritis, analitis dan skeptis, bukan IPK tinggi dan cepat berhasil. Untuk membentuknya, sebagai mentor, dosen memiliki kreasi sendiri yang bisa berbeda antar-dosen. Karena itu, metode mentransfer ilmu ditempatkan sebagai alat dan seni, bukan ilmu yang harus diseragamkan. Praktik seperti itu mestinya juga menjadi bagian dari pencetakan kader yang mampu memberikan kemerdekaan berkreasi dan berpikir.
Lihat Juga :