Stafsus Presiden Diaz Hendropriyono: Energi Nuklir Opsi untuk Turunkan Emisi Karbon
Rabu, 14 Agustus 2024 - 10:20 WIB
Diaz menyebut upaya negara-negara merespons pemanasan global dengan target penurunan emisi masih belum cukup untuk mencapai target Perjanijan Paris. Untuk membatasi pemanasan global di tingkat 1,5o C atau setidaknya 2o C, setiap negara dibutuhkan untuk mengurangi emisi hingga 43%.
”Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki target di angka tersebut, di tengah banyak negara lain yang targetnya masih di bawah angka tersebut,” ujarnya, Rabu (14/8/2024).
Baca juga: 3 Jebolan Akmil 1993 Penyandang Pangkat Letnan Jenderal TNI, dari Kopassus dan Eks Pengawal Presiden
Diaz menyampaikan persoalan biaya besar yang dibutuhkan negara-negara untuk transisi energi dan secara umum dalam upaya mencapai target penurunan emisi.
“Berbicara soal biaya penurunan emisi, nuklir tidak mahal dan nol emisi. Sebagai pembangkit listrik, harganya lebih murah dibanding PLTU dan bahkan catatan korban jiwa per-TWh yang disebabkan oleh pembangkit nuklir jauh lebih rendah. Jadi bisa saya katakan, nuklir aman, apalagi kalau kita bicaranya terkait tenaga nuklir dari thorium, bukan uranium, ataupun plutonium yang relatif lebih kontroversial,” katanya.
”Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki target di angka tersebut, di tengah banyak negara lain yang targetnya masih di bawah angka tersebut,” ujarnya, Rabu (14/8/2024).
Baca juga: 3 Jebolan Akmil 1993 Penyandang Pangkat Letnan Jenderal TNI, dari Kopassus dan Eks Pengawal Presiden
Diaz menyampaikan persoalan biaya besar yang dibutuhkan negara-negara untuk transisi energi dan secara umum dalam upaya mencapai target penurunan emisi.
“Berbicara soal biaya penurunan emisi, nuklir tidak mahal dan nol emisi. Sebagai pembangkit listrik, harganya lebih murah dibanding PLTU dan bahkan catatan korban jiwa per-TWh yang disebabkan oleh pembangkit nuklir jauh lebih rendah. Jadi bisa saya katakan, nuklir aman, apalagi kalau kita bicaranya terkait tenaga nuklir dari thorium, bukan uranium, ataupun plutonium yang relatif lebih kontroversial,” katanya.
Lihat Juga :