Pengamat Sebut Buzzer dan Influencer Benalu Demokrasi

Minggu, 23 Agustus 2020 - 16:09 WIB
Dia mengatakan, penggunaan buzzer itu membuat bangsa ini belum dewasa. "Masih senang membunuh karakter personal yang berbeda pandangan terhadap pemerintah, belum siap bertarung, berdebat pada gagasan, narasi, pikiran dan kata-kata yang mestinya ada ruang yang besar untuk perbedaan pikiran tersebut," ujarnya. (Baca juga: Politikus Demokrat: Lawan Kita Covid, Bukan Kebebasan Berpendapat)

Dia pun berpendapat, seharusnya tokoh-tokoh yang kritis terhadap pemerintah difasilitasi negara, yakni dibuatkan panggung untuk mereka adu pikiran, adu pendapat dan gagasan. "Kan harusnya begitu, bukan di-down grade karakter mereka dengan fitnah yang macam-macam tersebut. Keberadaan buzzer dan influencer jelas menjadi benalu demokrasi, bukan ciri dari negara demokratis melainkan komunis dimana informasi dicengkeram pemerintah, media sosial dikendalikan pemerintah, seenaknya membajak akun media sosial tokoh oposisi difitnah macam-macam," tambah Pangi.

Lebih lanjut dia mengatakan, memilihara buzzer dan influencer dengan menggunakan uang negara jelas merusak tatanan nilai-nilai hukum dan demokrasi itu sendiri yang dipakai penguasa menjadi alat kekuasaan. "Untuk membunuh dan memfitnah lawan-kawan politik yang selama ini berseberangan dengan pemerintah, dibungkam pakai anggaran buzzer dan influencer tersebut," katanya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!