Pengamat Sebut Buzzer dan Influencer Benalu Demokrasi

Minggu, 23 Agustus 2020 - 16:09 WIB
loading...
Pengamat Sebut Buzzer...
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, keberadaan buzzer dan influencer jelas menjadi benalu demokrasi. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Peretasan akun media sosial (Medsos) sejumlah tokoh yang kritis terhadap pemerintah terus menyita perhatian banyak pihak. Adapun tokoh dimaksud yang mengalami serangan siber itu di antaranya Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono dan Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Din Syamsuddin.

"Sebenarnya kita enggak perlu kaget. Biasa saja yang begini-begini karena sudah biasa yang kritis terhadap pemerintah akan diganggu buzzer yang dipelihara Istana dan Presiden demi menjaga dan meng-counter serangan ke penguasa," ujar Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago kepada SINDOnews, Minggu (23/8/2020). (Baca juga: Pembajakan Akun Dinilai Pelanggaran HAM)

Dia mengatakan, banyak pihak sudah mengetahui berapa uang negara yang digelontorkan untuk membiayai buzzer tersebut, yakni hampir ratusan miliar rupiah. "Sangat disayangkan kelakuan begini, kenapa enggak perang pikiran dan narasi saja, kenapa harus bunuh karakter orang yang kritis ke pemerintah, kenapa harus dibajak akun media sosial mereka," ungkapnya.

Menurut dia, yang harusnya ditakuti itu pemerintah karena punya polisi, tentara, dan macam-macam kekuasaan dan bisa berbuat semaunnya. "Bukan tokoh oposisi yang harus ditakuti dan dikhawatirkan," katanya. (Baca juga: Usut Kasus Peretasan Media dan Akun Pribadi Tanpa Diskriminasi)

Dia mengatakan, penggunaan buzzer itu membuat bangsa ini belum dewasa. "Masih senang membunuh karakter personal yang berbeda pandangan terhadap pemerintah, belum siap bertarung, berdebat pada gagasan, narasi, pikiran dan kata-kata yang mestinya ada ruang yang besar untuk perbedaan pikiran tersebut," ujarnya. (Baca juga: Politikus Demokrat: Lawan Kita Covid, Bukan Kebebasan Berpendapat)

Dia pun berpendapat, seharusnya tokoh-tokoh yang kritis terhadap pemerintah difasilitasi negara, yakni dibuatkan panggung untuk mereka adu pikiran, adu pendapat dan gagasan. "Kan harusnya begitu, bukan di-down grade karakter mereka dengan fitnah yang macam-macam tersebut. Keberadaan buzzer dan influencer jelas menjadi benalu demokrasi, bukan ciri dari negara demokratis melainkan komunis dimana informasi dicengkeram pemerintah, media sosial dikendalikan pemerintah, seenaknya membajak akun media sosial tokoh oposisi difitnah macam-macam," tambah Pangi.

Lebih lanjut dia mengatakan, memilihara buzzer dan influencer dengan menggunakan uang negara jelas merusak tatanan nilai-nilai hukum dan demokrasi itu sendiri yang dipakai penguasa menjadi alat kekuasaan. "Untuk membunuh dan memfitnah lawan-kawan politik yang selama ini berseberangan dengan pemerintah, dibungkam pakai anggaran buzzer dan influencer tersebut," katanya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Serangan ke Prabowo...
Serangan ke Prabowo di Medsos Tak Organik, Pengamat Curigai Pola yang Tidak Biasa
Pemerintah Perlu Menetralisir...
Pemerintah Perlu Menetralisir Narasi Negatif di Media Sosial
Nurul Arifin Sebut Akun...
Nurul Arifin Sebut Akun Medsos Wajib Pakai Nomor HP Bisa Jadi Tameng Indonesia Lawan Kejahatan Siber
Fenomena Hijrah Digital...
Fenomena Hijrah Digital dan Influencer Agama Harus Diiringi Kedalaman Ilmu
Awkarin Mangkir dari...
Awkarin Mangkir dari Panggilan Polisi Terkait Kasus Hanania Travel, Ini Penjelasan Polisi
Bantah Nikmati Uang...
Bantah Nikmati Uang Jemaah Hanania, Keanu AGL Serahkan Rekening Koran ke Polisi
Keanu Agl Diperiksa...
Keanu Agl Diperiksa Terkait Kasus Hanania Group, Bantah Terima Uang Miliaran Rupiah
Rekomendasi
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Unjuk Rasa Mahasiswa...
Unjuk Rasa Mahasiswa Bubar, Polisi Mulai Buka Jalan Jenderal Sudirman Arah Bundaran HI
Sertifikasi RSPO Kunci...
Sertifikasi RSPO Kunci Akses Pasar dan Penguatan Petani Sawit Swadaya
Berita Terkini
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved