INA Digital, Mungkinkah Terwujud?
Senin, 01 April 2024 - 07:14 WIB
Keberhasilan Kementerian Agama (Kemenag) yang membangun layanan digital dalam satu aplikasi Pusaka bisa menjadi benchmark. Sejak diluncurkan resmi pada 25 November 2022 lalu, Pusaka telah memberikan kemudahan layanan baik kepada internal pegawai maupun masyarakat seperti pendaftaran menikah, haji, beasiswa, bantuan, pelatihan, dan lainnya. Meski belum sepenuhnya tuntas, aplikasi Pusaka yang diinisiasi Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas ini bisa jadi contoh karena setidaknya ada kesungguhan Kemenag untuk mengintegrasikan 2.258 aplikasi yang ada. Ini tentu bukan kerja enteng, karena Kemenag memiliki 4.173 satuan kerja dan 250 layanan publik alias terbesar di Indonesia.
Bulan Mei menyisakan waktu kurang dua bulan lagi. Apalagi jika dikurangi banyaknya hari libur karena Hari Raya Idulfitri dan cuti bersama, maka hari efektif hakikatnya semakin tipis. Kendati pun begitu, rencana besar pemerintah memulai INA Digital pada Mei nanti bukanlah hal yang tak mungkin. Indonesia telah memiliki sederet pengalaman dalam transformasi digital. Setidaknya, ini diakui oleh dunia, di mana pada 2023 merujuk data IMD WDCR, daya saing digital Indonesia naik menjadi peringkat 45. Meski masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, capaian Indonesia terus mengarah ke tren positif. Survei terakhir tentang e-government yang dirilis PBB pada 2022 juga menunjukkan, peringkat Indonesia membaik ke-77 dari sebelumnya di posisi 88 pada 2020. Sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) yang berjalan membaik menjadi salah satu kunci pencapaian ini.
Selama empat tantangan di atas benar-benar disadari dan dicarikan solusi yang tepat, peluncuran super apps INA Digital mulai Mei nanti akan bisa diwujudkan. Kuncinya adalah keseriusan. Tanpa itu, layanan yang terintegrasi tunggal ini bakal akan terus menjadi impian. Bahkan sampai pemimpin negeri ini berganti hingga tak terbilang.
Jurnalis Sindonews.com
Mahasiswa S3 SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bulan Mei menyisakan waktu kurang dua bulan lagi. Apalagi jika dikurangi banyaknya hari libur karena Hari Raya Idulfitri dan cuti bersama, maka hari efektif hakikatnya semakin tipis. Kendati pun begitu, rencana besar pemerintah memulai INA Digital pada Mei nanti bukanlah hal yang tak mungkin. Indonesia telah memiliki sederet pengalaman dalam transformasi digital. Setidaknya, ini diakui oleh dunia, di mana pada 2023 merujuk data IMD WDCR, daya saing digital Indonesia naik menjadi peringkat 45. Meski masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, capaian Indonesia terus mengarah ke tren positif. Survei terakhir tentang e-government yang dirilis PBB pada 2022 juga menunjukkan, peringkat Indonesia membaik ke-77 dari sebelumnya di posisi 88 pada 2020. Sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) yang berjalan membaik menjadi salah satu kunci pencapaian ini.
Selama empat tantangan di atas benar-benar disadari dan dicarikan solusi yang tepat, peluncuran super apps INA Digital mulai Mei nanti akan bisa diwujudkan. Kuncinya adalah keseriusan. Tanpa itu, layanan yang terintegrasi tunggal ini bakal akan terus menjadi impian. Bahkan sampai pemimpin negeri ini berganti hingga tak terbilang.
Jurnalis Sindonews.com
Mahasiswa S3 SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(abd)
Lihat Juga :