Pemilu 2024 dan Tiktok: Komputasional Propaganda dan Hegemoni

Sabtu, 09 Maret 2024 - 19:14 WIB
Menurut laporan We Are Social, pada Januari 2024 iklan TikTok di Indonesia bisa menjangkau sekitar 126,83 juta audiens. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jangkauan iklan TikTok terluas ke-2 di dunia.

Dari Komputasional Propaganda Berujung Hegemoni

Hampir semua kandidat capres dan cawapres pada pemilu 2024 menggunakan media Tiktok sebagai instrumen kampanye. Namun besaran pendanaan kampanye Tiktok menentukan volume dan intensitas kampanye daring ini. Merujuk data Ad Library dari Meta Platform dalam tiga bulan terakhir (Agustus 2023-Oktober 2023), valuasi belanja iklan Prabowo menduduki peringkat pertama. Nilai transaksi belanja iklan terkait Prabowo mencapai Rp8,67 miliar. Rata-rata nilai iklan terkait dengan Prabowo dalam sebulan mencapai Rp1 miliar.

Dengan belanja sebesar ini, maka kata kunci "prabowo" dan "gemoy" mendominasi semesta Tiktok. Temuan Netray Media Monitoring menunjukan terdapat 1.070 konten dengan kata kunci "gemoy" pada periode pemantauan 24 November-4 Desember 2023. Konten video dengan kata kunci "gemoy" ini telah ditonton sebanyak 57,3 juta kali dengan total impresi mencapai 2,6 juta reaksi.

Begitu juga dengan analisis Drone Emprit, pasangan calon (paslon) nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka meraih interaksi tertinggi di TikTok, yakni sebanyak 376 juta interaksi sepanjang 16-22 Januari 2024. Konten Prabowo-Gibran mendapatkan interaksi yang tinggi, paling besar bukan dari akun dengan follower jutaan. Bahkan dari top 10 akun, sebagian besar followernya di bawah 100K.

Hal ini mengindikasikan adanya komputasional propaganda yang menggunakan algoritma, otomatisasi, dan kurasi manusia yang secara sengaja dikelola untuk mendistribusikan informasi melalui jaringan media sosial. Samuel C Woolley dan Philip N Howard menyebut komputasional propaganda ini identik dengan penggunaan automated software products termasuk penggunaan akun bots yang dibantu dengan machine learning yang belajar dan meniru layaknya pengguna media sosial sesungguhnya. Kata kunci dari komputasional propaganda ialah otomatisasi, skalabilitas, dan anonimitas.

Akun bots inilah yang kini menjadi automated social actors di era digital culture. Bersama influncer dan buzzer, akun bots ini dikordinir untuk menyebarkan pesan-pesan politik tertentu dalam jumlah besar dan cepat yang seakan-akan berperan sebagai "suara akar rumput" untuk mendukung agenda-agenda politik tertentu dan meredam suara-suara kritis yang berbeda.

Di sinilah komputasional propaganda berperan memanipulasi opini publik untuk menghasilkan fabrikasi persetujuan (manufacturing consent) dengan memanfaatkan emosi dan prasangka serta mengabaikan pemikiran rasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!