Silsilah Sejarah dalam Sunyi Puisi
Sabtu, 24 Februari 2024 - 20:04 WIB
Iswadi memaparkan jika pergaulan dirinya dengan puisi adalah pergaulan yang penuh dendam kesumat dan hantaman. Ia tak bisa menundukkan puisi-puisinya dalam satu kategori atau tema tertentu saja, namun ada garis tebal yang diyakini Iswadi. Ia hanya bisa menandai dengan nada lirih. Barangkali pula, lewat serpihan kata-kata dalam puisinya, justru menciptakan kekuatan baru dari bangunan puisinya.
Sebuah momen saat menulis puisi, ternyata baginya tak pernah dengan mudah untuk diselesaikan. Ia mencoba dengan kesabaran (yang lebih) untuk bisa menyelesaikannya, meskipun ia sendiri curiga apakah yang telah dihasilkannya adalah sebuah puisi yang telah utuh dan selesai? Suatu hal yang mengingatkan saya pada pernyataan seorang teman, jika puisi yang sempurna sesungguhnya berada di dalam kepala penyair tak pernah bisa lengkap dituangkan menjadi puisi yang kelak dibaca.
Akhirnya kita mendapati kumpulan puisi ini, berjumlah 52 puisi yang dituliskan Iswadi dengan kurun waktu 2000-2023. Pergumulan yang cukup panjang—artinya dalam setahun rata-rata Iswadi hanya menulis 2-3 puisi. Namun saat membaca puisi-puisinya didapati kenyataan yang berbeda. Segala ihwal, sejarah, kesedihan, pergulatan realitas, kenyataan yang sungsang, kesendirian, seperti merebut berbalut jadi satu dengan sentuhan dirinya.
Pun Iswadi juga menyuguhkan sebagian mitos atau pergulatannya dengan sejumlah puisi penyair dunia atau di Indonesia sendiri. Bahasa yang hadir dalam puisi-puisinya seperti sebuah tempat singgah yang baru, di mana kita bisa mengalir mengikutinya. Sebagian besar puisi-puisi itu mengalir, membentuk kisah-kisah. Meskipun demikian, ia tetap menjaga irama, aura bunyi, sehingga terasa begitu rapat setiap kata yang digunakan. Seperti tak ada yang tersia-si atau mubazir.
Ketakjuban dirinya merakit dan menyusun setiap kepingan kata seperti merekatkan puzzle, menjadi sebuah lanskap tak terperi. Iswadi seperti tak menorehkan kata yang tersia-sia satupun. Puisi yang menjelma sebuah tema besar dan ingin disadap berulang kali. Ia tidak seperti dalam puisi pembuka dalam buku ini “Seorang yang Tergesa”:
Ia selalu tergesa merasa mencintai/ dan terlalu cepat membenci/ Dengan gampang menganggap menemukan/ lalu kecewa karena kehilangan/Terlampau pasti menyebut hutan sebagai pohonan/ maka keliru dan menganggapnya jebakan/ Ia acap gegabah menduga kedalaman/ dengan bangga berenang di permukaan/ Ia tak pernah sedikit bersabar menafsir itibar/ mendaki terjal gunjung seolah padang datar/ Ia hanya gemar menyigi tubir/ dengan tergesa menyebut diri penyair/ (hal. 11)
baca juga: Nasib Buram Buku Indonesia
Kiranya apa yang pernah diungkapkan Ignas Kleden, apabila puisi ditulis untuk dua alasan: pertama adalah dorongan hati dari penyair itu sendiri, ihwal bagaimana dirinya memberikan isi dan makna kepada suatu tindakan. Yang kedua ialah sebagai medium untuk menyampaikan sesuatu yang lain. Dengan kata lain, bagi saya, Iswadi dalam puisi-puisinya melengkapi dua hal tersebut. Ia mengejawantahkan semua hal yang ”sublim” bagi setiap renungan. Bagaimana ia menjembatani setiap karsa yang ada hingga puisi-puisinya dapat berbicara ke banyak sisi.
Bertabur Sejarah
Ihwal sejarah bertaburan dalam puisi-puisi Iswadi di buku ini. Dengan piawai ia melenting dari sisi benua ke benua lain. Ia seperti ingin merangkum, memberikan bercak jejak kemudian berbagi dalam kisah pedih yang perih. Ia berkisah tentang Mesopotamia: Tigris dan Efrat, menepi ke Lumbini, berkisah tentang Paz, Don Quixote, kemudian berdiam di Orangerie Theatre. Ia juga menjabarkan sebuah lagu dari Pink Floyd.
Bagaiman dengan lirih yang terjaga, ia menulis kesedihan yang “sengit”: Di antara dengkur tubuh-tubuh Makmur/Sambil bersandar di sisa dinding mizbah yang basah/Lelaki itu lirih berdoa://”Tuhan, pintu-Mu telah terbuka, tapi suara-Mu, di mana?”/ Lalu pipi kisut itu basah/lalu dada rentanya, merah/ Seorang serdadu menyemprotkan butiran peluru/ (Puisi “ Efrat: sebuah Fiksi Tentang Perang Suriah” , hal. 24)
Bagaimana ia memekik tentang pembantaian, perang atau ketersiaan yang gemanya terasa sampai hari ini: Di Babilonia, kudengar pekik Hammurabi./ Di antara puing bangunan, di Timur dan Selatan./ Sebuah peradaban dibangun di atas genangan darah/ dari pedang pemberontakan Elam./ Tanah yang kini terbengkaia dan gersang, di sanalah/ kukenang lagi Samsuiluna, Venus yang terbit dan terbenam,/ orang-orang Hitti yang tertindas dan meradang/ (Puisi “Tersebab Sunyi”, hal. 36)
Sebuah momen saat menulis puisi, ternyata baginya tak pernah dengan mudah untuk diselesaikan. Ia mencoba dengan kesabaran (yang lebih) untuk bisa menyelesaikannya, meskipun ia sendiri curiga apakah yang telah dihasilkannya adalah sebuah puisi yang telah utuh dan selesai? Suatu hal yang mengingatkan saya pada pernyataan seorang teman, jika puisi yang sempurna sesungguhnya berada di dalam kepala penyair tak pernah bisa lengkap dituangkan menjadi puisi yang kelak dibaca.
Akhirnya kita mendapati kumpulan puisi ini, berjumlah 52 puisi yang dituliskan Iswadi dengan kurun waktu 2000-2023. Pergumulan yang cukup panjang—artinya dalam setahun rata-rata Iswadi hanya menulis 2-3 puisi. Namun saat membaca puisi-puisinya didapati kenyataan yang berbeda. Segala ihwal, sejarah, kesedihan, pergulatan realitas, kenyataan yang sungsang, kesendirian, seperti merebut berbalut jadi satu dengan sentuhan dirinya.
Pun Iswadi juga menyuguhkan sebagian mitos atau pergulatannya dengan sejumlah puisi penyair dunia atau di Indonesia sendiri. Bahasa yang hadir dalam puisi-puisinya seperti sebuah tempat singgah yang baru, di mana kita bisa mengalir mengikutinya. Sebagian besar puisi-puisi itu mengalir, membentuk kisah-kisah. Meskipun demikian, ia tetap menjaga irama, aura bunyi, sehingga terasa begitu rapat setiap kata yang digunakan. Seperti tak ada yang tersia-si atau mubazir.
Ketakjuban dirinya merakit dan menyusun setiap kepingan kata seperti merekatkan puzzle, menjadi sebuah lanskap tak terperi. Iswadi seperti tak menorehkan kata yang tersia-sia satupun. Puisi yang menjelma sebuah tema besar dan ingin disadap berulang kali. Ia tidak seperti dalam puisi pembuka dalam buku ini “Seorang yang Tergesa”:
Ia selalu tergesa merasa mencintai/ dan terlalu cepat membenci/ Dengan gampang menganggap menemukan/ lalu kecewa karena kehilangan/Terlampau pasti menyebut hutan sebagai pohonan/ maka keliru dan menganggapnya jebakan/ Ia acap gegabah menduga kedalaman/ dengan bangga berenang di permukaan/ Ia tak pernah sedikit bersabar menafsir itibar/ mendaki terjal gunjung seolah padang datar/ Ia hanya gemar menyigi tubir/ dengan tergesa menyebut diri penyair/ (hal. 11)
baca juga: Nasib Buram Buku Indonesia
Kiranya apa yang pernah diungkapkan Ignas Kleden, apabila puisi ditulis untuk dua alasan: pertama adalah dorongan hati dari penyair itu sendiri, ihwal bagaimana dirinya memberikan isi dan makna kepada suatu tindakan. Yang kedua ialah sebagai medium untuk menyampaikan sesuatu yang lain. Dengan kata lain, bagi saya, Iswadi dalam puisi-puisinya melengkapi dua hal tersebut. Ia mengejawantahkan semua hal yang ”sublim” bagi setiap renungan. Bagaimana ia menjembatani setiap karsa yang ada hingga puisi-puisinya dapat berbicara ke banyak sisi.
Bertabur Sejarah
Ihwal sejarah bertaburan dalam puisi-puisi Iswadi di buku ini. Dengan piawai ia melenting dari sisi benua ke benua lain. Ia seperti ingin merangkum, memberikan bercak jejak kemudian berbagi dalam kisah pedih yang perih. Ia berkisah tentang Mesopotamia: Tigris dan Efrat, menepi ke Lumbini, berkisah tentang Paz, Don Quixote, kemudian berdiam di Orangerie Theatre. Ia juga menjabarkan sebuah lagu dari Pink Floyd.
Bagaiman dengan lirih yang terjaga, ia menulis kesedihan yang “sengit”: Di antara dengkur tubuh-tubuh Makmur/Sambil bersandar di sisa dinding mizbah yang basah/Lelaki itu lirih berdoa://”Tuhan, pintu-Mu telah terbuka, tapi suara-Mu, di mana?”/ Lalu pipi kisut itu basah/lalu dada rentanya, merah/ Seorang serdadu menyemprotkan butiran peluru/ (Puisi “ Efrat: sebuah Fiksi Tentang Perang Suriah” , hal. 24)
Bagaimana ia memekik tentang pembantaian, perang atau ketersiaan yang gemanya terasa sampai hari ini: Di Babilonia, kudengar pekik Hammurabi./ Di antara puing bangunan, di Timur dan Selatan./ Sebuah peradaban dibangun di atas genangan darah/ dari pedang pemberontakan Elam./ Tanah yang kini terbengkaia dan gersang, di sanalah/ kukenang lagi Samsuiluna, Venus yang terbit dan terbenam,/ orang-orang Hitti yang tertindas dan meradang/ (Puisi “Tersebab Sunyi”, hal. 36)
Lihat Juga :