Teori Konspirasi dan Relaksasi Kelelahan Massa

Jum'at, 01 Mei 2020 - 07:05 WIB
Narasi beredar meramaikan jagad media sosial, tak tanggung-tanggung melibatkan Profesor Tasuku Honjo, peraih Nobel dari Jepang . Menurutnya, jika virus ini alami tak akan mampu menyebar secara global. Sesuai karakternya, suhu berbeda di berbagai negara akan menghalangi penyebaran alami virus. Bagaimana ia mampu menyebar di Swiss yang dingin, namun mampu pula menyebar di gurun yang terik. Pendapatnya kian kuat, dengan tambahan, “Saya telah bekerja selama 4 tahun di laboratorium Wuhan, Cina. Saya kenal dengan para staf laboratorium, dan menelepon mereka, setelah merebaknya Corona. Tapi semua ponsel mereka mati. Sehingga dipahami, semua teknisi laboratorium itu, telah meninggal”

Dalam pusaran teori alternatif, Indonesia tak ketinggalan. Beberapa orang ternama, seperti Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Pesohor Deddy Corbuzier, drummer kelompok Superman is Dead, Jerinx, dan beberapa pihak lain turut mengajukan teori yang senada Prof Honjo. Spektrum pendapat mereka, mulai dari meragukan kealamian Covid-19 hingga menyebut wabah adalah promosi ketakutan belaka. Maka masuk dalam perangkap ketakutan, hanya membuat untung beberapa pihak.

Secara sederhana, masyarakat menyebut teori atau narasi yang berkembang dan bertentangan dengan pernyataan arus utama, sebagai teori konspirasi. T Goertzel, 1994, dalam salah satu penjelasannya di Belief in Conspiracy Theories, menyebut konspirasi adalah teori untuk peristiwa atau situasi yang mengandung persekongkolan oleh aktor jahat dan kuat, yang tak jarang bermotif politis, ketika teori lain lebih memungkinkan. Sedangkan Cambridge Dictionary menyebut, konspirasi sebagai keyakinan bahwa suatu peristiwa atau situasi, merupakan hasil dari rencana rahasia yang dibuat oleh orang-orang yang berkuasa. Diurai dari strukturnya, teori konspirasi umumnya memuat penyataan yang mengandung adanya persekongkolan pihak-pihak yang punya kepentingan. Ia menunggangi memori kolektif masyarakat. Sehingga cukup mengandalkan logika dasar, teori dicerna dengan mudah. Ia mengandalkan logika dasar, tanpa perlu basis data lengkap, peralatan canggih, maupun metode yang telah teruji. Premis-premisnya sederhana. Digabung agar mudah diterima akal.

Namun, lantaran antimainstream, mengandung persekongkolan dan strukturnya sederhana tak serta merta suatu pernyataan digolongkan teori konspirasi. Ini juga gegabah. Harus dipastikan dulu validas premis penyusunnya. Maka untuk pernyataan sekelas Prof Tasuku Honjo atau ilmuwan lainnya, masyarakat yang tak punya perangkat cukup untuk menerima atau menolak, boleh memosisikannya sebagai kebolehjadian. Boleh jadi benar, boleh jadi salah. Ini disimpan, sampai ada teori lain yang membantah pernyataan Prof Honjo, maupun ilmuwan pelontar lain.

Hal yang pantas dipikirkan atas maraknya teori alternatif, yang kemudian disebut sebagai teori konspirasi, dan dikonsumsi lahap oleh masyarakat, dapat dibaca sebagai lelahnya masyarakat oleh tak kunjung diformulasikannya rumus tunggal, menghadang Covid-19. Ia hadir sebagai misteri yang melelahkan, sekaligus menakutkan. Masyarakat perlu relaksasi. Mereka mengalihkan perhatian pada teori alternatif yang mudah dicerna. Penerimaan terhadap teori alternatif, implisit juga menyatakan ketakberdayaan masyarakat. Tak berdaya akibat kuatnya persekongkolan pihak yang berkepentingan, dan konsumen teori konspirasi berharap pihak lain, termasuk pemerintah, melawan kekuatan itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!