Peran MUI sebagai Takmil al-Kamil

Rabu, 17 Januari 2024 - 19:35 WIB
Dalam memikul tugas dan tanggung jawab dakwah secara kolektif, tentu diperlukan suatu wadah atau organisasi dakwah. Organisasi ini menghimpun berbagai potensi yang satu sama lain saling menopang berlangsungnya kerja-kerja dakwah.

Awal abad kedua puluh masehi merupakan kebangkitan organisasi dakwah Islam, hampir di seluruh dunia para ulama-pejuang kembali menegakkan izzah dan muru'ah Islam beserta kaum muslimin melalui pemberdayaan masyarakat di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, dan berbagai sektor yang menjadi fokus garapan. Ini tanpa meninggalkan senjata atau perlawanan fisik jika suatu saat dibutuhkan.

Pada rentang tahun 1900-1940-an, puluhan organisasi berbasis massa Islam hadir di setiap penjuru negeri muslim. Di Mesir misalnya berdiri Jamaah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyah (1926), Al-Ikhwanul Muslimin (1928), Jam'iyah Ahlul Hadits (1906), dan Al-Jama'ah Al-Islamiyah (1941) yang memiliki pengaruh kebangkitan sampai ke Anak Benua India, begitu juga di Tunisia, Suriah, Yordania, Turki, dan lainnya berdiri organisasi Islam, baik yang berorientasi pada dakwah an sich atau dakwah dan sosial-politik.

Begitu pun di Indonesia, setelah tidak adanya kesultanan-kesultanan yang menjadi rujukan dan representasi umat Islam, masyarakat tergugah untuk mendirikan ormas Islam demi tercapainya tujuan beragama. Seperti Jam'iyatul Khair (1901), Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), Persatuan Islam [Persis] (1923), Nahdlatul Ulama [NU] (1926), dan ormas-ormas lainnya.

Ormas-ormas yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka tersebut melahirkan ribuan sekolah, pesantren, rumah sakit, puluhan perguruan tinggi, bahkan bekerja sama mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk melanjutkan studi di Timur Tengah. Melalui ormas-ormas tersebut, lahir para pemimpin dunia, lahir para negosiator dan diplomat ulung yang dapat merekonsiliasi konflik yang ada di dalam luar negeri.

Kehadiran ormas tersebut memberikan kontribusi besar dan signifikan dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur. Setelah mencermati dan melihat kiprah ormas Islam dalam memajukan, mencerdaskan, menguatkan serta mengokohkan bangsa Indonesia, ada sebagian saudara kita yang berpandangan bahwa ormas Islam merupakan sumber perpecahan, umat dikotak-kotak, umat dipecah belah, dan sebagainya.

Tentu jika pemahaman ini dibiarkan akan sangat fatal dan dapat menimbulkan kesesatan pikir bagi umat Islam yang awam terhadap dunia pergerakan. Sebab sangat jauh berbeda antara ormas dengan firqah atau sekte yang dianggap jauh menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!