Mengharukan, Jenderal Kopassus Ini Bertemu Bekas Musuh Paling Ditakuti di Medan Operasi Kalimantan

Kamis, 05 Oktober 2023 - 06:00 WIB
Pertemuan di lobi Hotel Four Seasons, Singapura itu berawal dari upaya Mark Wee seorang pemuda Malaysia kelahiran Sarawak, teman Hendropriyono yang menyatakan kesediaannya untuk mempertemukan keduanya. ”Betapa ingin saya melihat wajah orang yang 38 tahun lalu kita kejar-kejar bersama seluruh prajurit ABRI,” ucapnya.

Setelah menunggu cukup lama di lobi hotel, tiba-tiba rombongan keluarga Mark Wee tiba. Tampak ayah Mark, Datuk Amar Wee Hood Teck yang duduk di kursi roda didorong istrinya Datin Amar Wee. Kemudian Irene, istri Mark.

Di antara keluarga Mark Wee, tiba-tiba seseorang berkulit gelap legam yang berada di belakang Irene langsung memperkenalkan diri, "Saya, Bong Kee Chok!". Menyadari yang dihadapannya adalah orang yang selama ini dicari, Hendropriyono sempat terkejut.

”Wow, ini rupanya sang jagoan yang saya tunggu- tunggu. Ternyata ia tidak tinggi, cuma sekitar 163 cm. Kulit dan matanya tidak mencerminkan dia seorang China. Sama sekali saya tak menyangka. Berpakaian sederhana dengan potongan rambut ala militer, otot-otot lengan untuk lelaki berusia 70 tahun (saat itu), dengan sorot mata laksana harimau, jelas menunjukkan ia seorang pemimpin, seorang pemberani, dan seorang yang cerdas,” tuturnya.



Perbincangan hangat pun mengalir antara Hendropriyono dengan Bong Kee Chok. Bahkan, Hendropriyono sempat bertanya kepada Bong Kee Chok mengenai jarinya yang putus. "Mengapa jari tengah dan telunjuk tangan kanan Anda buntung?" Tanya Hendropriyono.

Bong Kee Chok mengangkat dan menunjukkan tangan kanannya. "Ini? Karena granat tangan tua kiriman dari Indonesia yang meledak di tangan saya sebelum terlempar. Sebagian serpihannya mengenai leher kanan saya dan sebagian lain mengenai lutut kanan saya," ujar Bong Kee Chok seraya menunjukkan bekas-bekas luka yang dalam di tubuhnya.

Begitu juga sebaliknya, Bong Kee Chok juga bertanya dan memperhatikan bekas luka-luka yang dalam di lengan kiri, hasta, kelingking kanan, dan dada kanan. “Tentu saja luka yang di paha kiri tidak bisa saya perlihatkan. Kami pun lalu larut dengan berbagai cerita masa lampau yang penuh kenangan yang mengesankan Bong Kee Chok,” kata Hendropriyono.

Pertemuan tersebut bagi Hendropriyono memberikan pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Sebab perang telah berakhir, tidak ada lagi rasa dendam dan kebencian pribadi yang pernah bergelora ketika berada di medan tempur.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!