Putu Wijaya sebelum Jadi Teroris
Senin, 31 Juli 2023 - 08:05 WIB
Adegan selanjutnya, putra Gusti Biang (Ngurah), datang dari Jawa. Sang ibu kemudian menanyakan kebenaran isi surat yang pernah dikirim Ngurah sebelumnya. Ngurah membenarkan semuanya. Maka terjadilah pertengkaran di antara mereka. Gusti Biang tidak setuju Ngurah menikah dengan Nyoman Niti. “Dia tidak pantas menjadi istrimu! Dia tidak pantas menjadi menantuku!” kata Gusti Biang.
“Kenapa tidak, Ibu? Kenapa? Siapa yang menjadikan Sagung Rai lebih pantas dari Nyoman Niti untuk menjadi istri? Karena derajatnya? Tiyang tidak pernah merasa derajat tiyang lebih tinggi dari orang lain. Kalau toh tiyang dilahirkan di purian, itu justru menyebabkan tiyang harus berhati-hati. Harus pintar berkelakuan baik agar bisa jadi teladan orang. Itu paradigma baru tentang kebangsawanan, tidak ada diskriminasi! Yang lain omong kosong semua....”
Ngurah kemudian meminta ibunya memanggil Wayan dan Nyoman untuk hadir dan ikut bicara. Wayan muncul membawa koper seng dan senjata. Wayan mengabarkan bahwa Nyoman Niti sudah pergi. Dia juga akan pergi menyusul Nyoman. Ngurah menanyakan alasan Nyoman pergi meninggalkan puri. Wayan menjelaskan bahwa Nyoman tidak cocok dengan Gusti Biang.
“Dia hantu! Tinggalkan rumah ini cepat!” kata Gusti Biang
“Ya, tiyang hantu. Seperempat abad tiyang mengabdi di rumah ini karena cinta. Sekarang keadaan tambah buruk. Bape pergi, Tu Ngurah....” ujar Wayan.
Wayan mengangkat koper hendak pergi. Tapi Gusti Biang mencegahnya ketika melihat Wayan juga membawa bedil. Menurut Gusi Biang, itu bedil miliknya. Sementara Wayan merasa bedil itu miliknya. Ngurah sendiri menaruh curiga, lalu menanyakan kepada ibunya tentang peluru yang menewaskan ayahnya. Gusti Biang yang selalu membawa peluru itu sebagai jimat menyerahkannya kepada Ngurah.
Kini Ngurah yakin, dari bedil itulah peluru yang membunuh ayahnya berasal. Menurut Gusti Biang, itu bedil Nica. Tapi Wayan meyakinkan bahwa hanya gerilya yang punya bedil semacam itu.
“Semua pahlawan mati tertembak Nica, tetapi dia tidak. I Gusti Ngurah Ketut Mantri bukan seorang pahlawan, dia ditembak mati gerilya sebagai pengkhianat,” kata Wayan.
“Bape bilang Ayah saya pengkhianat? Bape sudah bertahun-tahun di sini, mengapa mau merusak nama baik keluarga kami?”
Wayan kemudian menerangkan panjang lebar sejarah peperangan melawan Nica. Misalnya. tentang bocornya gerakan Ciung Wanara yang dipimpin Pak Rai, sehinga Nica mengepung Desa Marga dan mengancurkannya. Hanya karena ayahnya dilahirkan sebagai putra bangsawan yang berpengaruh serta dihormati karena jasa-jasa leluhurnya, dosa ayahnya kepada pak Rai serta korban puputan itu, seperti dilupakan. Tetapi Wayan tidak pernah melupakan.
Mula-mula Ngurah tidak percaya. Ia meminta Wayan membuktikannya. Akhirnya Wayan berterus terang bahwa dialah yang menembak lelaki yang selama ini dikira ayahnya itu. Bahkan Wayan kemudian bercerita siapa sesungguhnya ayah Ngurah:
“Ngurah mungkin mengira dia ayah Ngurah yang sejati, sebab dia suami sah Ibu Ngurah. Tapi dia bukanlah seorang pejuang. Dia seorang penjilat, musuh gerilya. Dia bukan lelaki jantan, dia seorang wandu. Dia memiliki lima belas orang istri, tapi itu hanya untuk menutupi kewanduannya. Kalau dia harus melakukan tugas sebagai seorang suami, tiyanglah yang sebagian besar melakukannya. Tapi itu semua menjadi rahasia.... sampai.... kau lahir, Ngurah, dan menganggap dia sebagai ayahmu yang sebenarnya. Coba tanyakan kepada Ibu Ngurah, siapa sebenarnya ayah Ngurah yang sejati,” kata Wayan.
Ngurah tak percaya dan menghampiri ibunya yang mulai menangis. Wayan kemudian meneruskan ceritanya:
“Dia pura-pura saja tidak tahu siapa laki-laki yang selalu tidur dengan dia. Sebab sesungguhnya kami saling menyintai sejak kecil, sampai tua bangka ini. Hanya kesombongannya terhadap martabat kebangsawanannya menyebabkan dia menolakku, lalu dia kawin dengan bangsawan, pengkhianat itu, semata-mata hanya soal kasta. Meninggalkan tiyang yang tetap mengharapkannya. Tiyang bisa ditinggalkannya, sedangkan cinta itu semakin mendalam.
Tiyang menghamba di sini karena cinta tiyang kepadanya, seperti cinta Ngurah kepada Nyoman. Tiyang tidak pernah kawin seumur hidup dan orang-orang selalu menganggap tiyang gila, pikun, tuli. Cuma tiyang sendiri yang tahu, semua itu tiyang lakukan dengan sengaja untuk melupakan kesedihan, kehilangan masa muda yang tidak bisa dibeli lagi.”
Wayan kemudian meminta Ngurah mengejar Nyoman Niti. Mungkin wanita itu masih di jalan atau menginap di rumah temnannya. Ngurah tidak boleh kehilangan masa muda seperti dirinya hanya karena perbedaan kasta.
“Ngurah sudah tahu semuanya. Ngurah sudah pantas mendengar itu. Tapi jangan terlalu memikirkannya. Lupakan itu semua. Itu memang sudah terjadi, tetapi sekarang setelah Ngurah tahu, hati merasa lega. Sekarang lupakan semua itu. Lupakan, jangan bersakit-sakit memikirkannya,” kata Wayan.
Lalu, pada adagen berikutnya, Putu Wijaya menggambarkan sebuah akhir yang menarik: Gusti Biang berhenti menangis. Dia tampak malu menatap Wayan, tapi lak-laki itu mendekatinya.
“Bagaimana, Gusti Biang?” ujar Wayan.
“Kenapa tidak, Ibu? Kenapa? Siapa yang menjadikan Sagung Rai lebih pantas dari Nyoman Niti untuk menjadi istri? Karena derajatnya? Tiyang tidak pernah merasa derajat tiyang lebih tinggi dari orang lain. Kalau toh tiyang dilahirkan di purian, itu justru menyebabkan tiyang harus berhati-hati. Harus pintar berkelakuan baik agar bisa jadi teladan orang. Itu paradigma baru tentang kebangsawanan, tidak ada diskriminasi! Yang lain omong kosong semua....”
Ngurah kemudian meminta ibunya memanggil Wayan dan Nyoman untuk hadir dan ikut bicara. Wayan muncul membawa koper seng dan senjata. Wayan mengabarkan bahwa Nyoman Niti sudah pergi. Dia juga akan pergi menyusul Nyoman. Ngurah menanyakan alasan Nyoman pergi meninggalkan puri. Wayan menjelaskan bahwa Nyoman tidak cocok dengan Gusti Biang.
“Dia hantu! Tinggalkan rumah ini cepat!” kata Gusti Biang
“Ya, tiyang hantu. Seperempat abad tiyang mengabdi di rumah ini karena cinta. Sekarang keadaan tambah buruk. Bape pergi, Tu Ngurah....” ujar Wayan.
Wayan mengangkat koper hendak pergi. Tapi Gusti Biang mencegahnya ketika melihat Wayan juga membawa bedil. Menurut Gusi Biang, itu bedil miliknya. Sementara Wayan merasa bedil itu miliknya. Ngurah sendiri menaruh curiga, lalu menanyakan kepada ibunya tentang peluru yang menewaskan ayahnya. Gusti Biang yang selalu membawa peluru itu sebagai jimat menyerahkannya kepada Ngurah.
Kini Ngurah yakin, dari bedil itulah peluru yang membunuh ayahnya berasal. Menurut Gusti Biang, itu bedil Nica. Tapi Wayan meyakinkan bahwa hanya gerilya yang punya bedil semacam itu.
“Semua pahlawan mati tertembak Nica, tetapi dia tidak. I Gusti Ngurah Ketut Mantri bukan seorang pahlawan, dia ditembak mati gerilya sebagai pengkhianat,” kata Wayan.
“Bape bilang Ayah saya pengkhianat? Bape sudah bertahun-tahun di sini, mengapa mau merusak nama baik keluarga kami?”
Wayan kemudian menerangkan panjang lebar sejarah peperangan melawan Nica. Misalnya. tentang bocornya gerakan Ciung Wanara yang dipimpin Pak Rai, sehinga Nica mengepung Desa Marga dan mengancurkannya. Hanya karena ayahnya dilahirkan sebagai putra bangsawan yang berpengaruh serta dihormati karena jasa-jasa leluhurnya, dosa ayahnya kepada pak Rai serta korban puputan itu, seperti dilupakan. Tetapi Wayan tidak pernah melupakan.
Mula-mula Ngurah tidak percaya. Ia meminta Wayan membuktikannya. Akhirnya Wayan berterus terang bahwa dialah yang menembak lelaki yang selama ini dikira ayahnya itu. Bahkan Wayan kemudian bercerita siapa sesungguhnya ayah Ngurah:
“Ngurah mungkin mengira dia ayah Ngurah yang sejati, sebab dia suami sah Ibu Ngurah. Tapi dia bukanlah seorang pejuang. Dia seorang penjilat, musuh gerilya. Dia bukan lelaki jantan, dia seorang wandu. Dia memiliki lima belas orang istri, tapi itu hanya untuk menutupi kewanduannya. Kalau dia harus melakukan tugas sebagai seorang suami, tiyanglah yang sebagian besar melakukannya. Tapi itu semua menjadi rahasia.... sampai.... kau lahir, Ngurah, dan menganggap dia sebagai ayahmu yang sebenarnya. Coba tanyakan kepada Ibu Ngurah, siapa sebenarnya ayah Ngurah yang sejati,” kata Wayan.
Ngurah tak percaya dan menghampiri ibunya yang mulai menangis. Wayan kemudian meneruskan ceritanya:
“Dia pura-pura saja tidak tahu siapa laki-laki yang selalu tidur dengan dia. Sebab sesungguhnya kami saling menyintai sejak kecil, sampai tua bangka ini. Hanya kesombongannya terhadap martabat kebangsawanannya menyebabkan dia menolakku, lalu dia kawin dengan bangsawan, pengkhianat itu, semata-mata hanya soal kasta. Meninggalkan tiyang yang tetap mengharapkannya. Tiyang bisa ditinggalkannya, sedangkan cinta itu semakin mendalam.
Tiyang menghamba di sini karena cinta tiyang kepadanya, seperti cinta Ngurah kepada Nyoman. Tiyang tidak pernah kawin seumur hidup dan orang-orang selalu menganggap tiyang gila, pikun, tuli. Cuma tiyang sendiri yang tahu, semua itu tiyang lakukan dengan sengaja untuk melupakan kesedihan, kehilangan masa muda yang tidak bisa dibeli lagi.”
Wayan kemudian meminta Ngurah mengejar Nyoman Niti. Mungkin wanita itu masih di jalan atau menginap di rumah temnannya. Ngurah tidak boleh kehilangan masa muda seperti dirinya hanya karena perbedaan kasta.
“Ngurah sudah tahu semuanya. Ngurah sudah pantas mendengar itu. Tapi jangan terlalu memikirkannya. Lupakan itu semua. Itu memang sudah terjadi, tetapi sekarang setelah Ngurah tahu, hati merasa lega. Sekarang lupakan semua itu. Lupakan, jangan bersakit-sakit memikirkannya,” kata Wayan.
Lalu, pada adagen berikutnya, Putu Wijaya menggambarkan sebuah akhir yang menarik: Gusti Biang berhenti menangis. Dia tampak malu menatap Wayan, tapi lak-laki itu mendekatinya.
“Bagaimana, Gusti Biang?” ujar Wayan.
Lihat Juga :