TGB Sebut Ada 3 Dimensi Ramadan yang Perlu Diingat Umat Islam
Rabu, 22 Maret 2023 - 18:07 WIB
TGB menyebut, ada tiga dimensi Ramadan. Pertama, dimensi ke-Islaman atau dimensi keagamaan. Dalam dimensi ini, Ramadan menjadi medium bagi seorang muslim untuk lebih memperkuatnya ta’arufnya (pendekatan) kepada Allah SWT, terus berusaha menambah kualitas dan kuantitas amalnya, membersihkan lahir batinnya, mendaras (membaca dengan lantang) Al Quran dengan sebanyak-banyaknya dan semaksimal mungkin, berzikir dan melakukan ibadah lainnya.
Baca juga: Kemenag: Posisi Hilal Awal Ramadan Telah Penuhi Kriteria MABIMS
Kedua, Ramadan juga memiliki dimensi kemanusiaan. Dalam Ramadan, umat muslim diajarkan untuk meningkatkan kepedulian dan memperkuat solidaritas sosial. Bahkan, dalam hadits riwayat disebutkan Rasulullah Muhammad SAW dan juga para sahabatnya melipatgandakan sedekah dan kebaikannya. Sehingga, pada saat Indonesia baru saja bangkit dari pandemi Covid-19 dengan segala macam dampak ikutannya, tentu dimensi kemanusiaan menjadi sangat penting dan harus diingat di bulan suci Ramadan.
“Jadi kita asah kepedulian kita kepada orang-orang di sekitar kita, tengok kiri, tengok kanan lihat saudara-saudara kita yang mungkin memerlukan bantuan kalau kita bisa bantu kita bantu. Kalau kita bisa berbagi mari berbagi, kata para ulama tidak ada waktu yang lebih afdol untuk berbagi kebaikan melebihi bulan Ramadhan,” terangnya.
Terakhir, kata Ketua Harian Nasional DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dimensi kebangsaan. Menurutnya, dimensi kebangsaan dalam Ramadan ini adalah kesempatan-kesempatan untuk bisa memperkokoh kesatuan dan persatuan sesama anak bangsa. Apalagi, dalam Ramadan itu ada banyak perjumpaan, misalnya saat beribadah, silaturahmi, dan saat Idul Fitri dimana ada halal-bihalal. “Nah perjumpaan-perjumpaan ini penting untuk kita sebagai anak bangsa agar ikatan persaudaraan kita bisa semakin kokoh,” imbuh TGB.
Baca juga: Kemenag: Posisi Hilal Awal Ramadan Telah Penuhi Kriteria MABIMS
Kedua, Ramadan juga memiliki dimensi kemanusiaan. Dalam Ramadan, umat muslim diajarkan untuk meningkatkan kepedulian dan memperkuat solidaritas sosial. Bahkan, dalam hadits riwayat disebutkan Rasulullah Muhammad SAW dan juga para sahabatnya melipatgandakan sedekah dan kebaikannya. Sehingga, pada saat Indonesia baru saja bangkit dari pandemi Covid-19 dengan segala macam dampak ikutannya, tentu dimensi kemanusiaan menjadi sangat penting dan harus diingat di bulan suci Ramadan.
“Jadi kita asah kepedulian kita kepada orang-orang di sekitar kita, tengok kiri, tengok kanan lihat saudara-saudara kita yang mungkin memerlukan bantuan kalau kita bisa bantu kita bantu. Kalau kita bisa berbagi mari berbagi, kata para ulama tidak ada waktu yang lebih afdol untuk berbagi kebaikan melebihi bulan Ramadhan,” terangnya.
Terakhir, kata Ketua Harian Nasional DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dimensi kebangsaan. Menurutnya, dimensi kebangsaan dalam Ramadan ini adalah kesempatan-kesempatan untuk bisa memperkokoh kesatuan dan persatuan sesama anak bangsa. Apalagi, dalam Ramadan itu ada banyak perjumpaan, misalnya saat beribadah, silaturahmi, dan saat Idul Fitri dimana ada halal-bihalal. “Nah perjumpaan-perjumpaan ini penting untuk kita sebagai anak bangsa agar ikatan persaudaraan kita bisa semakin kokoh,” imbuh TGB.
Lihat Juga :