Jelang Ramadan, Ketua PP Muhammadiyah: 4 Nilai Spiritual Ibadah Puasa
Rabu, 22 Maret 2023 - 04:21 WIB
“Puasa dijadikan sarana untuk menundukkan diri agar kita tidak menjadi orang-orang yang berlebihan, karena puasa mengajarkan kita untuk belajar untuk tidak berlebihan. Sikap hidup mewah bertentangan dengan kebiasaan dan kebaikan puasa maupun ajaran agama secara keseluruhan,” ucap Haedar.
Pada poin ketiga, Haedar menjelaskan puasa sebagai momentum menjaga persatuan dan persaudaraan.
“Puasa mengajarkan hidup damai, rukun, dan diajarkan untuk hidup bersatu dan bersaudara. Puasa harus melahirkan gerakan sosial kebangsaan yang membuat kita kaum muslim sebagai kekuatan perekat bangsa, dan pembawa perdamaian yang mencegah konflik,” katanya.
Terakhir, Haedar pun berpesan puasa juga harus digunakan untuk hidup penuh toleran. Baginya, perbedaan penentuan tanggal untuk hari-hari besar umat Islam, misalnya, tidak perlu menjadi bahan olok-olokan. Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah Kutuk Kebiadaban Tentara Israel
“Puasa seharusnya menjadikan diri kita insan yang tasamuh, toleran, membawa pada ukhuwah. Dengan toleran, kita hidup saling menghormati. Maka, para ilmuwan, ulama, mubaligh, dan semuanya, ketika menemui perbedaan, kita harusnya semakin dewasa dan tasamuh,” pungkas Haedar.
Pada poin ketiga, Haedar menjelaskan puasa sebagai momentum menjaga persatuan dan persaudaraan.
“Puasa mengajarkan hidup damai, rukun, dan diajarkan untuk hidup bersatu dan bersaudara. Puasa harus melahirkan gerakan sosial kebangsaan yang membuat kita kaum muslim sebagai kekuatan perekat bangsa, dan pembawa perdamaian yang mencegah konflik,” katanya.
Terakhir, Haedar pun berpesan puasa juga harus digunakan untuk hidup penuh toleran. Baginya, perbedaan penentuan tanggal untuk hari-hari besar umat Islam, misalnya, tidak perlu menjadi bahan olok-olokan. Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah Kutuk Kebiadaban Tentara Israel
“Puasa seharusnya menjadikan diri kita insan yang tasamuh, toleran, membawa pada ukhuwah. Dengan toleran, kita hidup saling menghormati. Maka, para ilmuwan, ulama, mubaligh, dan semuanya, ketika menemui perbedaan, kita harusnya semakin dewasa dan tasamuh,” pungkas Haedar.
(mhd)
Lihat Juga :