7 Kapolri Kelahiran Jawa Tengah, Nomor 2 Jadi Simbol Polisi Jujur

Selasa, 24 Januari 2023 - 06:00 WIB
Bagi Hoegeng lebih hidup melarat daripada menerima suap atau korupsi. Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. "Sebuah kenyataan yang amat memalukan," katanya.

Kejujuran dan sikap antikorupsi Hoegeng telah dikenal luas. Mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur konon pernah mengucapkan kalimat satire terkait polisi. "Hanya ada 3 polisi jujur di negara ini: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng," kata Gus Dur dalam sebuah diskusi bertajuk Dokonstruksi dan Revitalisasi Keindonesiaan di Bentara Budaya Jakarta pada 31 Agustus 2006 silam.

Hoegeng telah meninggal dunia pada 14 Juli 2004 di Jakarta. Saat itu usianya sudah 82 tahun.

3. Jenderal Polisi (Purn) Dr Drs Dibyo Widodo



FOTO/REPRO Buku Dirgahayu 48 Tahun Polda Metro Jaya

Dibyo Widodo merupakan Kapolri pada periode 15 Maret 1996–28 Juni 1998. Ia merupakan jenderal polisi kelahiran Purwokerto, Banyumas, 26 Mei 1946.

Sejumlah peristiwa penting terjadi di masa kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Dibyo Widodo. Dua di antaranya adalah Pemilihan Umum 1997 dan kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada Soeharto berhenti menjadi presiden dan digantikan BJ Habibie.

Jenderal Pol (Purn) Dibyo Widodo meninggal dunia akibat serangan jantung pada 15 Maret 2012 di Singapura. Lulusan AKABRI Bagian Kepolisian pada 1968 itu dimakamkan TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

4. Jenderal Polisi (Purn) Drs Kanjeng Pangeran Hario Rusdihardjo



FOTO/Museumpolri.org

Rusdijardjo menjabat sebagai Kapolri hanya sebentar, dari 4 Januari hingga 22 September 2000. Ia lahir di Surakarta pada 7 Juli 1945.

Sebagai turunan darah biru dari pasangan GPH Notoprodjo dan R Ayu Soenarni Wongsonegoro, KPH Rusdihardjo mendapatkan pendidikan yang baik. Selepas SMA, ia meneruskan pendidikan di Akademi Kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat pada 1964. Setelah lulus, Rusdihardjo ditempatkan sebagai perwira Samapta di Komwil 73 (Polres) Jakarta Barat.

Rusdihardjo mendapatkan karier tertinggi di Kepolisian di era Presiden Abdurrahman Wahid. Ia menggantikan Jenderal Pol (Purn) Roesmanhadi. Namun tak lama ia menjabat sebagai Kapolri dan digantikan oleh Jenderal Pol (Purn) Surojo Bimantoro.

Setelah tak menjadi Kapolri, Rusdihardjo pernah dipercaya sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia pada 2004. Pada 2008, ia tersandung kasus hukum dan ditetapkan sebagai tersangka kasus pungutan liar pembuatan visa di Kedubes RI di Malaysia. Atas perbuatannya, Rusdihardjo divonis 2 tahun penjara. Di tingkat banding, hukumannya dikurangi menjadi 1,5 tahun.

5. Jenderal Polisi (Purn) Drs Surojo Bimantoro

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!