Mendidik Penguasa

Senin, 20 April 2015 - 09:12 WIB
Mendidik Penguasa
Mendidik Penguasa
A A A
Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.”

Begitulah yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Jejak Langkah . Ide ini tentu saja menarik bukan karena rakyat hobinya berdemonstrasi, tapi karena mereka selalu menjadi korban kekisruhan politik dan perlakuan negara yang lalim.

Ibarat kerbau yang dicucuk hidungnya, rakyat hanya diberi tahu mana yang terbaik untuknya tanpa pernah dilibatkan langsung menjadi subjek atau menjadi orientasi para penguasa dalam pembuatan kebijakan. Yang ada di pikiran kebanyakan penguasa saat ini hanyalah nafsu kuasa dan melanggengkan kekuasaan itu selamanya.

Hal itu bisa terjadi karena selama ini penguasa dipahami sebagai pendidik andal. Mereka berasal dari kalangan terdidik dengan segala gelarnya yang Mahaagung. Adapun rakyat ialah sekumpulan orang mayor bernada minor karena minimnya kalangan terdidik. Oleh karena itu, para penguasa yang mengemudikan negara ini menjadi superior dan antikritik.

Pemahaman di atas mengisyaratkan kedangkalan berpikir. Perlu diingat, negara hadir karena adanya rakyat. Maka sudah menjadi kewajiban bagi negara untuk hadir ke tengah rakyat. Negara harus melindungi, mencerdaskan, dan memastikan rasa aman mereka. Namun yang dipahami tentang negara bukanlah seperti yang disebutkan di atas. Negara ialah mereka yang suka menembak, memukul, mengambil yang bukan haknya, bersikap sewenang-wenang .

Andai saja negara tetap bersikukuh dengan sikapnya yang arogan itu, di sinilah letak rakyat bersikap. Rakyat butuh ikhtiar lebih dibandingkan hanya diam dan mendiamkan penguasa. Rakyat harus mulai berorganisasi dan berjejaring bersama gerakan-gerakan sosial yang ada di masyarakat dengan lebih serius; rakyat harus mulai membaca koran ataupun buku-buku tebal yang dikarang para filsuf dan berani menulis di koran-koran serta berargumen di muka umum.

Semua itu dilakukan dalam rangka memengaruhi opini publik bahwa penguasa sedang mabuk. Rakyat tak perlu menggulingkan penguasa. Rakyat hanya perlu mengingatkan penguasa bahwa ada sesuatu yang salah di negeri ini. Rakyat harus berani mendidik penguasa dengan perlawanan yang bijak.

Sebagai penutup, sekali lagi, kami ingin mengutip pernyataan Pramoedya bahwa kata dongeng: negeri itu memasyhurkan, menjunjung, dan memuliakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Kami ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan. Mari mendidik penguasa!

Alfath B P EL Nur Indonesia
Mahasiswa Jurusan Politik dan Pemerintahan, Kepala Departemen Kajian Strategis Dema Fisipol
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Jelang Muktamar NU ke-35,...
Jelang Muktamar NU ke-35, KH Zulfa Mustofa Dorong Kebangkitan Tradisi Menulis Kitab
Sidang Dokter Tifa Kembali...
Sidang Dokter Tifa Kembali Digelar Hari Ini, Akankah Jokowi Datang?
Perencanaan Matang dan...
Perencanaan Matang dan Value for Money Kunci Keberhasilan Modernisasi Alutsista
Sekjen Demokrat Buka...
Sekjen Demokrat Buka Suara soal Isu Capres Minimal Diusung 3 Partai: Belum Pernah Dibahas
Aksi Heroik Pilot Marinir...
Aksi Heroik Pilot Marinir yang Gugur Ditembak demi Selamatkan Kopassus Di Timtim
Statistikulasi dan Cerita...
Statistikulasi dan Cerita Produksi Beras Indonesia yang 'Wow'
Infografis
AC Milan vs Inter Milan,...
AC Milan vs Inter Milan, Siapa Penguasa Derby della Madonnina?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved