Jokowi Bertanggungjawab pada Rakyat Bukan PDIP atau Megawati
Minggu, 12 April 2015 - 09:05 WIB
Jokowi Bertanggungjawab pada Rakyat Bukan PDIP atau Megawati
A
A
A
JAKARTA - Sindiran Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengenai penumpang gelap dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) dinilai sebagai peringatan serius.
Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Bakir Ihsan mengatakan, sindiran jelas ditujukan pada orang yang tidak berkeringat mengantarkan Jokowi jadi Presiden tapi mendapat posisi penting.
"Kalau siapa namanya, tentu hanya Megawati dan Tuhannya yang tau siapa free raider yang dimaksudkannya.
Karena bisa jadi orang yang dianggap penumpang gelap oleh Megawati, merasa punya jasa dan Jokowi merasakannya," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Minggu (12/4/2015).
Menurutnya, Megawati tidak mungkin asal berbicara ke publik jika tidak memiliki dasar atau bukti kuat ada penumpang gelap di pemerintahan Jokowi.
"Ya sejatinya tak ada asap tanpa api, tak ada pernyataan tanpa kenyataan. Tentu saja penyataan Mega berdasarkan tafsir dia atas apa yang dirasakan, terkait sikap Jokowi dan orang-orang yang dapat posisi penting di sekitar Jokowi," jelasnya.
Kendati demikian, lanjut Bakir, Jokowi sebagai Kepala Negara harus tetap mengedepankan kepentingan bangsa dengan memberi tempat bagi orang-orang yang betul-betul berkualitas dan mau bekerja untuk bangsa dan negara bukan untuk partai.
"Ini penting ditekankan karena pertanggungjawaban Jokowi pada rakyat bukan pada partai atau Megawati. Loyalitas Jokowi pada partai seharusnya berhenti saat loyalitasnya pada bangsa dan negara dimulai," pungkasnya.
Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Bakir Ihsan mengatakan, sindiran jelas ditujukan pada orang yang tidak berkeringat mengantarkan Jokowi jadi Presiden tapi mendapat posisi penting.
"Kalau siapa namanya, tentu hanya Megawati dan Tuhannya yang tau siapa free raider yang dimaksudkannya.
Karena bisa jadi orang yang dianggap penumpang gelap oleh Megawati, merasa punya jasa dan Jokowi merasakannya," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Minggu (12/4/2015).
Menurutnya, Megawati tidak mungkin asal berbicara ke publik jika tidak memiliki dasar atau bukti kuat ada penumpang gelap di pemerintahan Jokowi.
"Ya sejatinya tak ada asap tanpa api, tak ada pernyataan tanpa kenyataan. Tentu saja penyataan Mega berdasarkan tafsir dia atas apa yang dirasakan, terkait sikap Jokowi dan orang-orang yang dapat posisi penting di sekitar Jokowi," jelasnya.
Kendati demikian, lanjut Bakir, Jokowi sebagai Kepala Negara harus tetap mengedepankan kepentingan bangsa dengan memberi tempat bagi orang-orang yang betul-betul berkualitas dan mau bekerja untuk bangsa dan negara bukan untuk partai.
"Ini penting ditekankan karena pertanggungjawaban Jokowi pada rakyat bukan pada partai atau Megawati. Loyalitas Jokowi pada partai seharusnya berhenti saat loyalitasnya pada bangsa dan negara dimulai," pungkasnya.
(kri)