Lawatan ke Jepang dan China

Senin, 23 Maret 2015 - 09:58 WIB
Lawatan ke Jepang dan...
Lawatan ke Jepang dan China
A A A
Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin memulai lawatannya ke Jepang dan China. Kunjungan Kepala Negara ke dua raksasa ekonomi dunia ini diharapkan bisa memberikan kontribusi positifbagi kesejahteraan Indonesia.

Karena itu, Presiden harus menggunakan kesempatan kunjungan tersebut dengan sebaik-baiknya. Satu hal yang penting dilakukan adalah bagaimana agar Indonesia bisa memperoleh dana untuk membiayai berbagai proyek, terutama pembangunan infrastruktur. Mulai dari pembangunan pelabuhan, jalan raya, bandar udara hingga pembangunanpembangkitlistrik. Hal ini sangat penting karena problem kemajuan Indonesia adalah minimnya infrastruktur, terutama di luar Jakarta.

Demikian juga pemerintah perlu mencari dukungan dana untuk merealisasi proyek ambisiusnya dalam menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Atau pembangunan infrastruktur pendukung tol laut seperti yang sering diungkapkan Presiden Jokowi saat kampanye. Jepang merupakan mitra dagang yang sangat penting bagi Indonesia. Lewat kunjungan ini diharapkan kerja sama perdagangan bisa meningkat lagi.

Pemerintah bisa memanfaatkan kerja sama Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) yang sudah dijalin Indonesia sejak 2007. Saat kunjungan ke Jepang, pemerintah bisa memanfaatkan momen tersebut untuk melobi pemerintah dan pengusaha Jepang agar terus menambah investasinya di Indonesia.

Pemerintah perlu mendorong pengusaha automotif Jepang tak hanya menjadikan Indonesia pasar, tetapi harus ada transfer teknologi dari mereka ke masyarakat Indonesia. Berbicara soal automotif, sejatinya jika ingin membangun mobil nasional, lebih baik melakukan kerja sama dengan perusahaan Jepang dibandingkan dengan Proton Malaysia. Karena keandalan Jepang dalam industri automotif sudah tak diragukan lagi.

Karena itu, Jokowi juga bisa melakukan penjajakan kerja sama serupa selain dengan Proton. Seperti halnya Jepang, China selama ini juga menjadi mitra dagang yang sangat penting bagi Indonesia. Apalagi saat ini China memiliki tabungan dolar yang sangat besar, sekitar USD4 triliun dolar (Bloomberg, 10/6/2014).

Pemerintah Jokowi harus memanfaatkan kunjungannya ini untuk membiayai berbagai proyek infrastrukturnya. Kerja sama perdagangan kedua negara juga harus diintensifkan. Artinya Indonesia harus mampu menggenjot ekspor karena selama ini perdagangan kita dengan China masih defisit. Kunjungan ke China ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari pidato Jokowi di Forum APEC, November 2014. Setelah pidato tersebut, animo investasi dari China meningkat pesat.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut terjadi kenaikan signifikan rencana investasi China yang masuk dalam kurun waktu Januari-Februari 2015, jumlahnya sekitar USD6,7 miliar. Merealisasi minat para investor China tersebut memang tidak mudah, tetapi dengan kerja keras juga bukan tidak mungkin mereka akhirnya mau berinvestasi di Indonesia.

Yang paling penting, apa pun kesepakatan yang nanti ditandatangani harus ditindaklanjuti serius secara berkesinambungan (sustainable) oleh para pejabat dan seluruh stakeholder . Jangan sampai kunjungan kenegaraan yang dibiayai dengan uang rakyat ini hanya formalitas dan tidak membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sementara itu, kunjungan Presiden Jokowi ke China ini memiliki sejumlah makna.

Salah satunya bukan tidak mungkin lawatan ini diartikan masyarakat internasional sebagai bukti makin mesranya Indonesia dengan China. Sebaliknya, internasional bisa juga menganggap fenomena ini makin menjauhkan Indonesia dengan Amerika Serikat( AS) dan Eropa (Barat).

Karena itu, ke depan, Pemerintah Indonesia harus segera menjawab berbagai spekulasi tersebut dengan aksi-aksi diplomatik. Misalnya melakukan kunjungan kenegaraan ke AS atau negara-negara Barat. Hal ini penting agar kita tidak terjebak dalam satu negara atau kubu seperti diamanatkan politik luar negeri kita yang bebas aktif.
(ars)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
Pengamat: Seskab Teddy...
Pengamat: Seskab Teddy Punya Kapasitas untuk Dipercaya Presiden Prabowo
Seleksi Hakim Agung...
Seleksi Hakim Agung 2026 Berlanjut, 36 Kandidat Jalani Penelusuran Rekam Jejak
Roy Suryo Sentil Rismon...
Roy Suryo Sentil Rismon Sianipar yang Ungkit Lagi Kasus Panci: Perkara Sudah Inkrah
6 Pejabat TNI AL Berganti,...
6 Pejabat TNI AL Berganti, Kadiskomlekal hingga Kadislitbangal
Presiden Prabowo Fokus...
Presiden Prabowo Fokus pada Kebutuhan Dasar Rakyat dan Kesejahteraan Masyarakat
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved