Diversifikasi Makanan Pokok

Senin, 09 Maret 2015 - 09:29 WIB
Diversifikasi Makanan...
Diversifikasi Makanan Pokok
A A A
Kenaikan harga beras sebesar tiga 30% sama sekali tidak menyejahterakan petani. Mari kita tengok, masa panen padi dilaksanakan pada akhir tahun kemarin.

Penanaman padi juga baru dilaksanakan akhir Januari sampai awal Februari. Saat ini, pertumbuhan padi baru pada masa njebul , masa ketika biji-biji padi muda baru tumbuh. Di sisi lain, kenaikan harga beras ini memberatkan konsumen beras. Pasalnya, beras merupakan makanan pokok nasional.

Tidak makan beras, sama saja tidak makan. Orang Indonesia yang pergi ke luar negeri pun tidak jarang membawa penanak nasi agar asupan berasnya tetap tercukupi. Beras seolah telah berubah menjadi candu. Beras menjadi adanya energi. Dalam konsep investasi, ada istilah cukup terkenal dondont put your egg in one basket. Arti harfiahnya, jangan taruh telurmu dalam satu keranjang.

Penjelasannya seperti ini, saat kita menaruh 10 telur dalam satu keranjang kemudian keranjang tersebut jatuh, dapat dipastikan tidak ada telur tersisa, ke-10 telur tadi pecah. Beda halnya ketika kita menaruh 10 telur di 3 keranjang dengan komposisi misalnya 4, 4, 2.

Ketika keranjang kesatu yang berisi 2 telur jatuh ke tanah, 4 telur di keranjang kedua dan 4 di keranjang ketiga masih utuh. Masih tersisa 8 telur utuh. Seperti itulah kira-kira konsep yang harus diterapkan dalam menyikapi makanan pokok, dalam hal ini beras. Perlu ada diversifikasi.

Diversifikasi adalah kunci pengembangan makanan pokok. Awalnya, sebelum politik beras terjadi di Tanah Air, selain beragamnya suku dan bahasa, Indonesia juga memiliki keberagaman dari segi makanan pokok. Sagu menjadi makanan daerah-daerah timur. Jagung juga menjadi makanan pokok di daerah-daerah seperti Manado; terlihat dari bubur manado (tinutuan) yang isinya adalah jagung, bukan beras.

Bayangkan, kalau saja makanan pokok Indonesia beragam, betapa sulitnya para tengkulak mengakali pasar makanan pokok. Saat mereka berusaha menggoreng harga beras, masyarakat bisa beralih mengonsumsi jagung. Diversifikasi makanan pokok wajib dilaksanakan. Tujuannya, selain menopang perekonomian, juga menyehatkan masyarakat.

Konsumsi beras Indonesia yang luar biasa besar meningkatkan risiko serangan diabetes masal. Langkah kesadaran harus dimulai dari kemandirian masyarakat.

Muh Azharun Niam
Mahasiswa Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Kritik Menggema Jelang...
Kritik Menggema Jelang Muktamar, Warga NU Depok Soroti Tata Kelola PBNU
BPJS Kesehatan Pastikan...
BPJS Kesehatan Pastikan Layanan Peserta Tanpa Diskriminasi
MBG Perlu Dilanjutkan...
MBG Perlu Dilanjutkan dengan Evaluasi, Perbaikan Tata Kelola, dan Efisiensi Anggaran
Demonstrasi Ketidakpastian...
Demonstrasi Ketidakpastian Hukum dalam Penanganan Perkara dr Tifa dan Roy Suryo pada Polemik Ijazah Joko Widodo
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Pengamat UGM: Tak Bisa Ditahan Lagi Pemerintah
HUT ke-6 LAFKI, Transformasi...
HUT ke-6 LAFKI, Transformasi Kesehatan Tak Boleh Hanya Terjadi di Atas Kertas
Infografis
10 Masakan Terbaik di...
10 Masakan Terbaik di Dunia, Makanan Indonesia Posisi 7
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved