Banjir Jalanan

Rabu, 11 Februari 2015 - 10:41 WIB
Banjir Jalanan
Banjir Jalanan
A A A
Banjir sudah menjadi bagian hidup bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Setiap awal tahun sekitar Januari atau Februari, banjir selalu menjadi pemandangan umum.

Bedanya, jika beberapa tahun lalu kita mungkin lebih banyak melihat banjir hanya menyerang wilayah rumah penduduk,dua atau tiga tahun terakhir, semakin banyak jalanan yang terkena banjir atau mungkin genangan air.Meski disebut genangan air, toh tetap sajamampu melumpuhkan Jakarta.

Ya genangan atau banjir di jalan-jalan di Jakarta mampu melumpuhkan Jakarta karena mengakibatkan kemacetan sehingga sebagian besar transportasi menjadi tak berfungsi. Beberapa jalan protokol di Jakarta yang sering menjadi langganan genangan air hingga 50 cm diantaranya sebagianJalan MH Thamrin, Jalan Medan Merdeka Utara atau Jalan Rasuna Said.

Belum lagi jalan jalan besar nonprotokol yang menjadi akses jalan protokol. Praktis sebagianbesarjalan-jalanyangselalumenjadiakseskegiatanekonomi menjadi tak berfungsi danini yangmenyebutkan Jakarta lumpuh. Belum lagi moda transportasi massal seperti Transjakarta dan Commuter Line mengalami gangguan.Beberapa stasiun tergenangi air,begitu juga dengan jalur Transjakarta(busway)membuat beberapa jurusan tak beroperasi.

Banjir di jalan-jalandi Jakarta menambah parah keadaan karena selama ini sebagian besar banjir terjadi di perumahan penduduk. Di perumahan penduduk, banjir lebih dikarenakan luapan sungai atau perumahan yang berada di bantaran sungai. Itupun ditentukan oleh curah hujan diwilayah hulu sungai,yaitu dikawasan Bogor.Jika curah hujan dihulu tinggi, beberapa sungai di Jakarta gagal menampung.

Istilah yang tepat sebenarnya bukan banjir kiriman,tetapi air kiriman dari Bogor dan Jakarta gagal menampung air tersebut. Solusinya memang melakukan pengerukan sungai-sungai di Jakarta yang sudah dangkal,memindahkan rumah penduduk dibantaran sungai,serapan air dikawasan hulu semakin diperluas,atau membangun waduk untuk menampung air dari hulu.

Nah, lalu bagaimana dengan banjir di jalanan Jakarta yang tiga tahun terakhir terus meluas? Tentu bukan semata karena sungai, tetapi karena sistem drainase di Jakarta yang sangat buruk.Bahkan beberapa wilayah tidak mempunyai drainase. Buruknya atau tidak adanya drainase inilah yang menyebabkan banjir di jalanan Jakarta semakin parah.Jakarta belum mempunyai tata kelola drainase yang tepat.

Bangunan-bangunan pencakar langit pun di Jakarta tampaknya tidak diikuti dengan sistem drainase yang memadai. Buruknya drainase sangat bisa dilihat denganmata telanjang. Beberapa jalan bahkan lebih banyak ditutup jalan beraspal atau beton tanpa ada saluran air. Ini cukup mengherankan, betapa kota sebesar Jakarta dan menjadi ibu kota negara justru mempunyai sistemd rainase yang buruk.

Upaya mantan Gubernur DKI Jakarta yang saat ini menjadi presiden,Joko Widodo(Jokowi),yang sampai ”nyemplung ” ke drainase tampaknya belum maksimal. Memang yang dibutuhkan bukan sekadar menengok dengan cara masuk ke drainase, tetapi juga harus segera disusul dengan langkah konkret untuk membenahi.

Menyalahkan sepenuhnya pemerintah pun kurang bijak. Masyarakat juga harus berkaca, bagaimana perilakumereka dalam memelihara lingkungan.Membuang sampah sembarangan diselokan atau bahkan menutup selokan dengan alasan apapun masih menjadi kebiasaan masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Artinya, cara masyarakat yang seperti juga ikut menyumbang banjir Jakarta yang menyerang jalanan.

Parahnya,masyarakat yang seperti itu justru menyalahkan pihak lain (pemerintah atau swasta) tanpa mau berintrospeksi.Daripada menyalahkan pihak lain, lebih baik setiap individu masyarakat membenahi perilakunya dalam memelihara lingkungan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tidak usah mencari kambing hitam dalam setiap banjir. Akan lebih baik kembali membuka blueprint langkah-langkahmencegah dan mengatasi banjir.

Selain pengerukan sungai, penertiban rumah di bantaran sungai, pembangunan waduk, dan pembenahan daerah serapan, Pemprov DKI mempunyai pekerjaan rumah lain,yaitu membenahi sistem drainase di Jakarta.
(ftr)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
BMKG: 48,9% Wilayah...
BMKG: 48,9% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, Puncaknya Juli-September 2026
Retorika Visual Diplomasi...
Retorika Visual Diplomasi Prabowo dan Lukashenko
KPK: Bupati Langkat...
KPK: Bupati Langkat Minta Upeti Proyek hingga Terima Gratifikasi Pengadaan Seragam Sekolah
AAI Satukan Kepengurusan...
AAI Satukan Kepengurusan lewat Munaslub Bersama di Jakarta
2 Brigjen Naik Jadi...
2 Brigjen Naik Jadi Irjen Pol usai Dapat Promosi Jabatan pada Juni 2026, Ini Nama dan Profilnya
Infografis
Wilayah Pesisir yang...
Wilayah Pesisir yang Berpotensi Dilanda Banjir Rob hingga 21 Juni
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved