Pengamat: PDIP Enggak Akan Berani Tinggalkan Jokowi!
Selasa, 10 Februari 2015 - 09:05 WIB
Pengamat: PDIP Enggak Akan Berani Tinggalkan Jokowi!
A
A
A
JAKARTA - Partai politik (parpol) yang tergabung di Koalisi Indonesia hebat (KIH) diragukan mau mengikuti langkah PDIP jika ingin menarik dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena dianggap tak bisa diatur.
"Toh, kita bisa lihat juga, apakah kisruh ini terjadi antara Jokowi dengan PDIP atau Jokowi dengan KIH? Jika hanya terjadi dengan PDIP, apakah KIH akan pula membangun peta konflik dengan Jokowi? Menurut saya belum tentu," ujar Pengamat Politik dari Nusantara Institute Idil Akbar ketika dihubungi Sindonews, Selasa (10/2/2015).
Apalagi, lanjutnya, parpol di barisan KIH memiliki sumber daya berupa kader yang ditempatkan Jokowi di kabinet. Menurutnya, posisi strategis ini akan tetap dipertahankan parpol-parpol tersebut.
"Ini tentu merupakan aset (posisi menteri) oleh parpol-parpol tersebut. Artinya, belum tentu mereka akan selalu bersama PDIP," tandasnya.
Selain itu, kata dosen Fisip Unpad Bandung ini, Jokowi bisa saja membangun dukungan dengan Koalisi Merah Putih (KMP) dengan diawali pembicaraan kesepakatan dan komitmen politik. "Saya kira di politik semua ini tidak menutup kemungkinan bisa terjadi," ucapnya.
Idil menilai, jika PDIP berani menarik dukungan dari Jokowi, maka yang paling dirugikan adalah partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Pasalnya, PDIP akan kehilangan aset dan kader yang paling berharga seorang presiden.
"PDIP enggak akan berani tinggalkan Jokowi. Sebab, PDIP akan kehilangan kepercayaan sekaligus dukungan publik. Ingat, bahwa kemenangan PDIP pada pemilu lalu cukup banyak karena ditopang oleh personalitas citra Jokowi," pungkasnya.
"Toh, kita bisa lihat juga, apakah kisruh ini terjadi antara Jokowi dengan PDIP atau Jokowi dengan KIH? Jika hanya terjadi dengan PDIP, apakah KIH akan pula membangun peta konflik dengan Jokowi? Menurut saya belum tentu," ujar Pengamat Politik dari Nusantara Institute Idil Akbar ketika dihubungi Sindonews, Selasa (10/2/2015).
Apalagi, lanjutnya, parpol di barisan KIH memiliki sumber daya berupa kader yang ditempatkan Jokowi di kabinet. Menurutnya, posisi strategis ini akan tetap dipertahankan parpol-parpol tersebut.
"Ini tentu merupakan aset (posisi menteri) oleh parpol-parpol tersebut. Artinya, belum tentu mereka akan selalu bersama PDIP," tandasnya.
Selain itu, kata dosen Fisip Unpad Bandung ini, Jokowi bisa saja membangun dukungan dengan Koalisi Merah Putih (KMP) dengan diawali pembicaraan kesepakatan dan komitmen politik. "Saya kira di politik semua ini tidak menutup kemungkinan bisa terjadi," ucapnya.
Idil menilai, jika PDIP berani menarik dukungan dari Jokowi, maka yang paling dirugikan adalah partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Pasalnya, PDIP akan kehilangan aset dan kader yang paling berharga seorang presiden.
"PDIP enggak akan berani tinggalkan Jokowi. Sebab, PDIP akan kehilangan kepercayaan sekaligus dukungan publik. Ingat, bahwa kemenangan PDIP pada pemilu lalu cukup banyak karena ditopang oleh personalitas citra Jokowi," pungkasnya.
(kri)