Proton dan Mobnas

Senin, 09 Februari 2015 - 11:13 WIB
Proton dan Mobnas
Proton dan Mobnas
A A A
Berita mengejutkan datang dari kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat melakukan lawatan kenegaraan ke Malaysia.

Presiden Jokowi mendukung kerja sama PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL) dengan Proton Holding Berhard untuk membantu mengembangkan mobil nasional (mobnas) Indonesia. Banyak kalangan mempertanyakan dukungan Presiden atas kerja sama tersebut. Ada sejumlah hal kontroversial muncul dari kerja sama dengan Proton yang terkesan mendadak ini. Pertama, sulit untuk menghindari kesan bahwa kesepakatan itu tak lebih dari bagi-bagi proyek.

Bukan rahasia lagi bahwa AM Hendropriyono, pemilik PT ACL, merupakan sosok yang sangat berjasa mengantarkan Jokowi menjadi presiden. Kalau benar demikian, hal itu semakin menegaskan bahwa janji koalisi tanpa syarat yang selalu didengungkan Jokowi saat kampanye hanya wacana. Yang lebih memprihatinkan, PT ACL disebut banyak pihak belum mempunyai pengalaman di bidang automotif. Kedua, banyak kalangan menilai terlambat bagi kita kalau sekarang ini memulai proyek membuat mobnas.

Kita sebelumnya beberapa kali berupaya membuat mobnas. Salah satunya yang gagal adalah proyek Tommy Soeharto dengan mobil Timor-nya, hasil kerja sama dengan KIA asal Korea Selatan. Kalau sekarang baru memulai lagi tentu sangat terlambat di tengah persaingan teknologi automotif sudah sangat kompetitif. Butuh waktu lama dan dana yang sangat besar untuk bisa bersaing dengan produk negara lain yang pasti jauh lebih kompetitif baik secara brand maupun teknologinya.

Karena itu, membuat mobnas akan menemui banyak hambatan dan membutuhkan dana yang sangat besar. Tentu itu ide yang sangat tidak rasional, apalagi brand yang dijual Proton yang belum memiliki pengalaman cukup dan bukan brand yang bagus untuk dijual. Akan lebih efektif kalau kita menjadi basis produksi saja seperti saat ini dengan target ekspor. Kita mengundang lebih banyak lagi investor untuk membangun pabrik mobil di sini. Syaratnya, investasi harus menggunakan kandungan lokal yang besar dan tenaga kerja.

Intinya investasi harus membawa keuntungan yang besar bagi Indonesia. Ketiga, kalaupun harus bekerja sama membuat mobnas, mengapa harus dengan Proton? Pilihan ini cukup aneh karena banyak sekali perusahaan automotif yang lebih kredibel dan bagus teknologinya, misalnya dari Jepang, Eropa atau Amerika. Langkah menggandeng Proton ini tentu banyak mengundang tanda tanya.

Selain karena hanya mengambil teknologi dari Mitsubishi asal Jepang, di negaranya pun saat ini Proton tidak mendapat respons yang bagus dari masyarakatnya. Tak mengherankan bila kesepakatan dengan Indonesia kemarin ini benar-benar membahagiakan mereka. Bahkan Proton langsung berkomitmen membangun pabrik di Bekasi. Keempat, menggandeng Malaysia untuk membuat mobnas tentu sangat merendahkan derajat bangsa kita.

Kesepakatan ini tentu menyakitkan masyarakat Indonesia. Apalagi kita tahu banyak kasus TKI kita yang disiksa di sana dan masih banyak kasus lain yang menyakiti kita sebagai negara bertetangga. Sebenarnya kalau serius mengembangkan mobnas, kenapa tidak dikembangkan oleh anak negeri sendiri? Toh banyak anak bangsa yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan impian memiliki mobnas. Ada beberapa yang sudah merilis mobil listrik.

Ada juga mobil konvensional buatan anak negeri seperti Tawon, Komodo atau Esemka yang dulu dijagokan Jokowi. Jangan-jangan memang benar keberadaan Esemka yang kini tidak jelas dulu hanya dijadikan pencitraan untuk menaikkan popularitas Jokowi.

Mengenai hal itu, Presiden Jokowi harus segera menjelaskan maksud dukungannya terhadap kesepakatan PT ACL dengan Proton tersebut. Kalau kerja sama ini merupakan akal-akalan agar mendapat fasilitas atau keistimewaan dari pemerintah, apalagi mendapat insentif, bahkan dana rakyat, tentu harus kita tolak karena jelas akan merugikan Indonesia. Namun, kalau nantinya kerja sama itu bersifat business to business, tentu tidak masalah.

Namun, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana pemerintah membangun kendaraan massal untuk mengurangi kemacetan yang makin parah. Bukan malah membuat mobnas dengan menggandeng Proton yang tidak jelas.
(ftr)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Bonjowi Minta PTUN Jakarta...
Bonjowi Minta PTUN Jakarta Tolak Gugatan UGM Soal Keberatan Putusan Komisi Informasi Pusat
2 Pengusaha Penyuap...
2 Pengusaha Penyuap Noel Ebenezer Cs Divonis 1,5 Tahun Penjara, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa
Kawal Anggaran Negara,...
Kawal Anggaran Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Tuntas BGN hingga ke Daerah
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved