Berkeadilan bagi Petani

Senin, 26 Januari 2015 - 10:48 WIB
Berkeadilan bagi Petani
Berkeadilan bagi Petani
A A A
Muhammad Idris Jamalullah
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Aktivis PMII. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Sebagai negara merdeka yang bersumber daya alam melimpah dan bertebaran di setiap pelosok desa, Indonesia menjadi ganjil ketika hingga kini sebagian besar petaninya belum mendapatkan hasil yang cukup layak, apalagi menggembirakan.

Wacana rekonstruksi pertanian nasional barangkali sudah terlampau basi, tapi bukan berarti sudah terlambat untuk dibenahi. Pada dasarnya masih banyak rakyat Indonesia yang masih berharap dan bekerja di sektor ini hingga beberapa tahun ke depan.

Begitu pun dengan jumlah sarjana dan ilmuwan di bidang pertanian yang makin meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, hampir setiap desa masih memiliki lahan pertanian yang luas dan sebanyak 31.705.337 orang bekerja di sektor ini. Sayangnya, lahan pertanian kini kebanyakan dikuasai segelintir pemodal yang bertebaran di setiap desa.

Akibatnya, kemakmuran menjadi timpang lantaran mayoritas petani yang bekerja hanya sebagai buruh dengan upah murah. Setidaknya ada tiga hal yang perlu dipeta-pikirkan secara detail dan matang oleh pemerintahan Jokowi-JK manakala swasembada pangan ingin dicita-citakan ulang untuk kebangkitan ekonomi nasional yang adil dan merata.

Pertama, pemerintah pusat perlu membuat peraturan yang menginstruksikan penguasaan lahan pertanian pemerintah desa dari pihak pemodal dan menghimpunnya dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan begitu, petani yang bekerja pada para pemodal beralih pada pemerintah desa.

Kedua, penyediaan alat-alat pertanian serta pengalokasian subsidi pupuk dan obat-obatan, hingga pembuatan serta perbaikan irigasi yang telah diprogramkan pemerintah sudah semestinya terselenggara.

Adapun program pendidikan intensif bagi para petani dengan memanfaatkan para sarjana atau ilmuwan pertanian sebagai mentornya. Ketiga, konflik agraria yang masih berlangsung hingga kini perlu disudahi pemerintah dengan menghadirkan negara secara penuh yang memihak pada rakyat tertindas.

Muhammad Idris Jamalullah
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Aktivis PMII. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(ars)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Nilai Hakim Abaikan...
Nilai Hakim Abaikan Fakta Persidangan, Nadiem Makarim Bakal Lapor ke KY
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Infografis
5 Manfaat Salat Tarawih...
5 Manfaat Salat Tarawih bagi Kesehatan yang Harus Diketahui
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved